Sembuh dari ketagihan dan cara membuat ketagihan?


Ketagihan bukanlah hal yang aneh bagi saya sebagai manusia. Ada kalanya saya ketagihan olah raga seperti lari jarak jauh, pingpong, bulu tangkis, tenis, renang, dan hiking. Ada kalanya ketagihan membaca novel, sampai dibela-belain tidak makan seminggu (berlebihan sih, tetap makan hanya berkurang) untuk membeli Taiko dan Musashi. Ada kalanya ketagihan penelitian di laboratorium sampai menginap berminggu-minggu di laboratorium mikrobiologi. Ada kalanya ketagihan menulis puisi, mengikuti berbagai kegiatan terkait sastra, dan gaya hidup bohemian. Namun, pada akhirnya ketagihan berakhir pada suatu titik.

Apa yang saya ingat dari ketagihan itu adalah: menyenangkan. Sesuatu yang menyenangkan selalu membuat ketagihan pada saya. Namun, menyenangkan saja masih tidak cukup. Ada satu bumbu lagi: penasaran. Jadi menurut pengalaman saya, ketagihan adalah hasil dari sesuatu yang “menyenangkan dan memancing rasa penasaran”.

Belakangan ini saya merenung dan mencari alasan kenapa saya berhenti ketagihan. Berhenti lari berlebihan dan menjadi olah raga rutin 3x seminggu dan jalan kaki sekitar 7 km setiap hari. Berhenti pingpong sama sekali selama setahun terakhir. Berhenti renang (kapan terakhir ya), dan berhenti membaca novel terlalu banyak. Rupanya, alasan yang melandasi berhenti dari ketagihan itu demikian banyak. Hanya, menurut pengalaman saya pribadi ketagihan hilang sendiri ketika sudah “tidak penasaran” meskipun “masih menyenangkan”.

Anehnya, bekerja dan beribadah jarang bisa membuat orang ketagihan. Padahal pada kedua kegiatan itu banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Di tanggal satu Ramadhan (tahun ke-3 Ramadhan di Jepang) ini, saya sedikit berfikir: jangan-jangan saya tidak penasaran dengan ibadah dan jangan-jangan ibadah tidak menyenangkan.

Hipotesis itu perlu dilawan untuk mencari bukti. Ibadah tidak membuat penasaran. Ibadah bisa membuat penasaran ketika? Ibadah jenis baru (bid’ah? wow No no no), maksud saya ibadah yang selama ini belum dilakukan. Semisal, selama ini sembahyang “pro” dengan kecepatan kilat ekspres, apa tidak penasaran sembahyang pelan-pelan sambil menikmati makna dan merenungkan kata? Apa tidak penasaran sembahyang witir satu rakaat sendirian dengan membaca surah Qulhu sebanyak sepuluh kali? sembilan kali? atau membaca Alif Laam Miiim lalu rukuk? sepertinya penasaran dan menyenangkan.

Wis, mbuh lah.. iki kok jadi ngelantur gini ya… balik ke jurnal ilmiah. Tokyo, 2021 Ramadhan 1st mubarak.

Cara saya mengatasi “menunda-nunda pekerjaan”


Warning: ini 90% curhat, 10% sharing pengalaman!!! 🙂

Mengapa menunda merupakan kebiasaan yang paling sering saya (kita) lakukan (dengan) atau tanpa sadar sekaligus kebiasaan yang paling sering saya (kita) harapkan untuk bisa dikurangi atau dihilangkan. Setidaknya, mungkin bagi saya yang belakangan ini suka sekali menunda. Jadi, siapa tahu tulisan saya dapat sedikit berbagi. Berbagi bahwa bukan cuma saya saja yang tidak suka menunda.

Berawal dari satu minggu silam ketika data penelitian satu tahun penuh akhirnya dianggap “tidak bisa dilanjutkan” oleh sensei, akhirnya saya diminta untuk ganti judul penelitian. Ganti judul penelitian bukanlah hal yang aneh bagi saya, karena pada waktu S1 saya ganti judul 3 kali dan pada waktu S2 saya ganti judul 2 kali. Namun, kali ini ganti judul di tengah-tengah penelitian yang sedang “menarik” bagi saya, benar-benar mengejutkan.

Kemudian, rupanya pikiran itu masuk ke alam bawah sadar (fenomena apa ini wkk?). Selama satu minggu penuh saya habiskan untuk membaca novel, buku yang tidak terkait penelitian, kabur dari laboratorium dua atau tiga jam untuk “berjemur di seberang Akamon Gate, jalan-jalan ke taman sambil melihat ikan mas, dan lebih sering melamun di toilet. Belum lagi kebiasaan baru membaca manga yang aneh (isekai? dan kungfu? LoL).

Setelah empat hari bergulat dengan data internet yang berkurang sangat drastis, saya akhirnya harus jujur kalau ini sudah tidak “nyaman” lagi. Ada catatan saya untuk kebiasaan menunda-nunda ini:

  1. Awalnya menyenangkan karena melupakan masalah
  2. Akhirnya menyedihkan karena menambah masalah baru (masalah lama dan masalah akibat menunda-nunda)

Setelah menimbang-nimbang baik-buruknya, akhirnya saya mencari solusi untuk kebiasaan saya. Dan saya menemukan website ini sangat membantu. Ada banyak sekali yang bisa dibaca, namun yang dapat saya simpulkan adalah:

  1. Manusia bergerak/bekerja karena mengejar GOAL (target, cita-cita)
  2. MOTIVASI menggerakkan semangat kita untuk bekerja mencapai target
  3. masalahnya kita memiliki “Penghalang internal”, yaitu: “target yang tidak jelas atau terlalu jauh di sono”, dan “ketakutan akan kegagalan”
  4. Kalau “penghalan internal” lebih besar (>) dari motivasi –-> hasilnya adalah “Menunda-nunda

Berdarkan hal itu, saya kemudian membuat catatan sederhana tentang novel, manga, atau hal-hal lain yang saya gunakan untuk menunda-nunda:

  1. Kebiasaan membaca novel, manga, atau apapun itu tidak bersalah
  2. Kalau kebiasaan itu bukan untuk menunda pekerjaan/target, saya beri diri saya waktu sekitar 15 menit bila satu target saya tercapai hari itu sebagai goal jangka pendek
  3. Kalau kebiasaan itu muncul untuk menunda pekerjaan/target, saya akui bahwa saya ingin melakukannya, setelah menghitung 10 dan mengerjakan pekerjaan/target selama 30 menit!

Menariknya, setelah mengaplikasikan 3 cara yang saya formulasikan untuk diri saya sendiri itu, hari ini relatif lebih produktif, menyelesaikan pekerjaan seminggu dalam waktu 3 jam, bahkan bisa menulis blog di sini yang saya pikir tidak akan bisa lagi saya lakukan selama PhD student (hiks).

Tokyo, 2021

Kesimpulan dua Khutbah Jumat:


Setelah level keamanan kampus di turunkan menjadi 0.5, maka kegiatan ekstrakurikuler sudah dapat dilaksanakan kembali. Pagi ini, lapangan kampus terdengar demikian “hidup”, ada klub yang sedang berlatih dan beberapa yang sedang olah raga pagi. Siangnya, shalat Jumat yang biasanya “dibatasi”, mulai diperbolehkan diadakan oleh TUIC (Tokyo University Islamic Community) di lokasi seminar yang lebih luas. Saya kembali mengingat khutbah jumat beberapa waktu silam yang mengatakan “kenikmatan shalat berjamaah, hanya terasa ketika ada Corona”. Oleh karenanya, saya mendapati bahwa terkadang, saya tidak mensyukuri banyak hal karena “sedang mengalaminya, sedang memilikinya, sedang menikmatinya”. Fenomena ini ternyata bukan hal yang “aneh”, melainkan seperti sudah sifat bawaan manusia.

Khutbah Jumat kali ini pun berkisar tentang kematian. “siapapun yang hidup, pasti akan mengalami mati” kalimat ini diulang-ulang oleh pemateri khutbah hari ini. Entah kenapa, hal ini demikian berkesan bagi saya. Karena menggabungkan dua ingatan dalam satu:

  • sifat dasar manusia lupa ketika mendapatkan kenikmatan
  • fakta bahwa semua manusia akan mati.

Kenikmatan nasi padang akan teringat demikian menggoda ketika sudah dua tahun tinggal di Jepang tanpanya. Kenikmatan lebaran terasa ketika 30 hari berpuasa. Kenikmatan hidup? Mungkin…. akan terasa ketika sudah mati (baru hipotesis, dan mungkin saya tidak bisa menuliskan ceritanya kalau sudah ada direct evidence LoL).

Berkaca pada dua memori pada dua khutbah jumat itu, saya menjadi sedikit paham. Mungkin, kenikmatan belajar, menghadapi masalah selama penelitian, stres berhari-hari pada satu masalah yang ternyata “sepele”, makanan yang “itu-itu saja” di Jepang, akan terasa ketika sudah kembali ke tanah air.

Dari dua ini, saya menyimpulkan bahwa : orang yang benar-benar tidak terikat oleh senang dan susah pastilah sedang mengalami yang disebut “mati”. Mati rasa atau mati betulan. Jadi, ketika susah, sedih, kangen, trenyuh, bahagia, senang, bombong (what?) maka berbahagialah: saya masih hidup. LoL.

Daini, 2021

Tidak Semua Pengecut adalah Pecundang!


“Memiliki buku catatan penelitian penuh dengan kegagalan dan kesalahan adalah bagian terpenting dalam menjadi seorang ilmuwan” (Light Novel scholar’s advanced technological system)

“Akhir adalah permulaan. Di masa depan, setiap langkah untuk maju mungkin diikuti dengan kegagalan dan menemui berbagai halangan. Namun, setiap kali itu terjadi, ingatlah tahun-tahun yang telah dilewati selama di sekolahan. Momen ketika kalian ketakutan akan kegagalan dan berbalik arah dari tantangan, adalah momen ketika kalian menjadi pecundang” (Overgeared)

Beberapa catatan penting yang kemudian menjadi pengingat selama penelitian di Jepang ini saya lakukan terkadang saya peroleh dari berbagai sumber. Ada kalanya, ketika sudah sangat suntuk dengan data dan artikel ilmiah saya membalikkan badan dan membaca novel atau manga. Menemui beberapa pernyataan menarik, lalu kembali mendapatkan “semangat” untuk melangkah maju. Salah duanya saya tuliskan di atas.

Catatan pertama sangat menyentuh, mengingat saya bukan seorang Jenius dengan IQ cemerlang. Bahkan selama masih SD dan SMP, IQ saya relatif menengah (Average/ Rata-rata). Anehnya, saya tidak percaya pada hasil ujian IQ (karena tidak paham lol), terus belajar, terus dianggap bodoh, sempat beberapa kali juara kelas, lebih sering kalah, dan mencapai beberapa prestasi setelah beberapa kegagalan. Saya selalu mengoleksi kegagalan-kegagalan itu di sebuah buku kuning (yang belakangan saya cari tidak ada, eh ternyata dibakar oleh Istri saya karena dikira sampah LoL) dan sering melihatnya ketika hilang semangat atau stres.

Dari pengalaman saya, pengalaman buruk adalah kenangan yang manis untuk diingat. Kalau kata Nashrudin Hoja, “Inipun akan segera berlalu” dan memang benar, hal buruk memang berlalu digantikan kenangan baik. Demikian juga pengalaman yang indah adalah kenangan yang indah untuk dikenang. Meskipun, entah kenapa secara intuitif saya cenderung mensyukuri pengalaman buruk yang berhasil saya lewati, belajar darinya, lalu kembali melangkah maju.

Pada catatan kedua dari novel Overgeared, saya mengaca pada diri saya sendiri: seorang pengecut. Ya, saya akui saya seorang pengecut yang sangat ketakutan akan kegagalan sekecil apapun. Boleh dibilang perfeksionis, tapi saya sering menyebutnya kepengecutan. Tapi, pengecut bukan berarti menjadi pecundang. Pengecut adalah orang yang selalu memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Ini menjadikannya menjadi “resourcefull” dan tidak over-PD. Pembedanya adalah pengecut yang menghadapi ketakutannya dan mengambil tindakan melangkah maju bertumbuh, sedangkan pemberani yang tidak mengambil tindakan, menjadi pecundang. TItik pentingnya: tindakan. Kata Tung “Take action miracles happen, no action nothing happen

Catatan ini semoga menjadi pengingat saya karena hari ini setelah tiga jam bergulat dengan pikiran dan ketakutan, saya berani mengambil langkah. Meskipun harus mengalami “telinga panas” karena saking takut gagal. Saking khawatir. Dan saking stres. Tapi, berkaca dari pengalaman “inipun akan segera berlalu”. Take action. Now.

Tokyo, 2020

Protein Pembawa (Carrier Protein) (edited)


Beberapa bulan terakhir, saya menemukan bahwa membaca tentang “protein pembawa” sangat mencerahkan. Protein pembawa atau carrier protein, sering dikaitkan dengan proses biosintesis asam lemak. Asam lemak itu kemudian akan disambung oleh enzim (protein aktif lain) menjadi fosfolipid. Fosfolipid ini memiliki “kepala” dan “ekor”. Kepalanya menyukai air dan ekornya membenci air. Karena sifatnya yang demikian, maka fosfolipid itu kemudian dapat tersusun rapi sedemikian rupa seperti dinding yang kedap air. Menarik bukan? Ini yang kemudian disebut sebagai membran sel yang melindungi “organ dalam” sel, membuat dinding, lalu secara struktur membentuk sel. Sel terdiri atas membran ini, jadi mulai dari bakteri sampai manusia, semuanya memiliki membran sel yang disusun oleh “mesin super canggih” bernama fatty acid synthase dengan “tangan pembawa” bernama protein pembawa.

Architecture of a Fungal Fatty Acid Synthase at 5 Å Resolution | Science
Gambar 1. Proses pembentukan asam lemak di Jamur (sumber” www.science.com)

Nah yang saya sebutkan di judul sebagai protein pembawa di Gambar 1 bernama ACP kependekan dari Acyl Carrier Protein. Protein ini setelah “diaktifkan” oleh enzim yang “memasang” 4-phosphopanthetine dari Acetyl-coA ke sisi aktifnya. Kalau istilah ini agak membingungkan, saya sering membayangkan bahwa ACP itu seperti tangan yang mengepal. Ia tidak bisa memegang apapun kecuali setelah jari-jari dilepaskan dari kepalan untuk memegang sesuatu. Meskipun pada ACP, ini bukan jari tapi “jari molekuler” yang dipasang.

Lalu, selain pada pembuatan asam lemak, rupanya protein pembawa juga berperan pada pembentukan bahan aktif alam (sederhananya obat alami?? termasuk racun LoL). Ada bedanya, terutama pada bagian enzim yang bekerja. Kalau pada pembuatan asam lemak menggunakan Acetyl-CoA (dua atom karbon) sebagai bahan baku, pada kasus poliketide synthase (PKSs), menggunakan malonyl-coA (tiga atom karbon), dan pada kasus non-ribosomal peptide synthase (NRPSs) menggunakan asam amino sebagai batu bata penyusunnya.

Sekarang ini, saya sedang bekerja dengan tipe lain protein pembawa yang disebut sebagai Amino-group Carrier Protein (AmCP) yang ditemukan oleh sensei saya dan grup peneliti di Bioteknologi Sel Universitas Tokyo (Todai, Jepang). Uniknya, protein tipe ini tidak hanya mengenali satu jenis asam amino yang dapat “dipegang” tapi beberapa jenis, dan uniknya lagi, produk yang dihasilkan bukan hanya satu jenis (metabolit primer asam amino lisin), ada juga produk bernama 2,6 diamino- 5,7dihydroxyheptanoic acid (DADH). Nah, kalau sudah mulai pusing waktu membaca kata-kata terakhir, tidak perlu dipikirkan terlalu banyak, intinya: protein pembawa ini menarik untuk dieksplorasi.

Ini alasan kenapa saya “terjun” ke penelitian yang super mbulet-mbulet dan penuh dengan kegagalan. Karena memang baru dan terkadang, sesuatu yang belum diketahui akan menyebabkan “banyak kesalahan” sebelum menemukan “satu atau dua kebenaran”. Pelajarannya, dalam hidup akan lebih banyak kegagalan, tapi tetap harus optimis kalau suatu ketika ada keberhasilan.

Laboratorium, UTokyo, 2021

Tidak Ada Ide, lalu?


Mau menulis apa ya? tidak ada ide untuk menulis. Jadi, saya menulis saja tanpa ide.

Tanpa ide, tulisan bisa membawa kita pada kejelasan pikiran. Kalau sedang suntuk, marah, tidak senang dengan perilaku orang lain, menulis bisa memberikan kejelasan kenapa suntuk, marah, tidak senang itu sendiri. Paling sering yang saya temui, perasaan itu muncul karena beberapa hal, diantaranya:

-Kelelahan

Kelelahan bisa memengaruhi perasaan. Tidak ada ide selama bekerja kadang diawali dari tubuh yang sedang membutuhkan istirahat. Saat saya menulis dan menemukan kalau sedang tidak ada ide, semangat, dan motivasi dikarenakan kelelahan, saya menerimanya. Menerima kelelahan bukan berarti kita lemah, tapi berarti kita manusia yang memiliki batasan bernama fisik. Alih-alih mengeluh dan marah, saya sering mengambil catatan untuk berkaca, apa yang dapat saya lakukan untuk “menyenangkan” tubuh yang lelah. Makanan, kopi panas di seberang, jalan ke Ueno Park, atau ke Book Off untuk membaca buku yang tidak kanji.

– Konflik batin-pikiran

Menulis juga bisa menunjukkan betapa saya sangat rentan bertentangan dengan diri saya sendiri. Secara logika, saya ingin melakukan A, namun perasaan saya menolak karena alasan B, dan seterusnya. Menuliskannya bisa sangat mencerahkan. Menemukan diri yang bertentangan dengan diri bukanlah hal yang rendah atau mengecewakan. Justru sebaliknya, kita dilatih untuk memilih. Terkadang, kita memilih perasaan, terkadang kita memilih logika. Keduanya seperti jual beli, membeli roti 10.000 rupiah, berarti kehilangan uang 10.000 rupiah. Saya sering kali berkaca pada tulisan pertentangan batin-pikiran itu untuk kembali menerima bahwa saya tidak sempurna, bahwa hidup adalah pilihan. Dan memilih adalah sebuah kemerdekaan.

– Konflik dengan eksternal

Seperti catatan saya sebelumnya tentang tipikal orang/teman, ada orang yang baik, ada yang pura-pura baik, ada yang memanfaatkan, ada yang tidak peduli, ada yang gampang marah, ada yang bertolakbelakang dengan saya. Karenanya, konflik dengan pihak eksternal bisa menjadi alasan kenapa ide menjadi mampet, tidak mengalir, dan relatif keruh. Konflik hanya ada ketika kita melawan. Sayangnya, melawan bukan berarti kita pemberani. Justru yang saya temui adalah mereka yang benar-benar berani, adalah yang berani mengacuh tak acuhkan orang yang bertentangan dengan dirinya. Orang yang berani, tak mengambil perasaan apa yang tidak sesuai dengan dirinya. Orang yang berani, mengakui bahwa dia pengecut, lalu mengambil tindakan untuk mencapai tujuannya. Omongan ini sangat abstrak, kadang saya sendiri kehilangan ide ketika konflik dengan teman lab yang super kepo. LoL.

– Takut

Ketakutan adalah tipe paling akut penyebab otak tak memiliki ide. Ini yang saya selalu hadapi hari demi hari sebagai seorang pengecut. Ketakutan tidak lulus kuliah menyebabkan saya belajar, sayangnya belajar ketika takut tidak menghasilkan apapun kecuali ketakutan yang lain. Ketakutan dengan dosen pembimbing menyebabkan saya menyediakan berbagai kemungkinan sebelum mengetuk pintu, dan menemukan dosen pembimbing tidak ada di ruangan. Ketakutan menyedot energi seperti konsleting mematikan listrik. Ini yang saya yakini. Sehingga, ketika takut, saya menemukan bahwa tulisan sangat membantu saya melihat bahwa ketakutan-ketakutan saya itu nyata. Dan karena nyata, saya menyadari betapa pengecutnya diri saya terhadap ketakutan yang mayoritas tidak terjadi.

Setidaknya, ini yang saya bisa saya bagikan saat ini tentang tidak memiliki ide dan kenapa menulis bisa sangat bermanfaat untuk melihat “kenapa”.

2021

Teman atau Musuh: Menghadapi Rekan Yang “menyebalkan”


Tulisan ini saya tulis untuk berkaca. Karena bagaimanapun juga kita manusia. Dan manusia selalu melakukan salah dan alfa. Oleh karenanya, perlu rasanya untuk selalu belajar dan membaca suasana.

Namun, tak semua orang mau mengerti. Sebab pengertian itu musti datang dari hati. Sedangkan hati yang sedang sempit dan sedih, lebih mudah untuk merendahkan dan menyakiti. Dan orang lain yang disakiti, bisa jadi menggigit bibir dan membuat janji. “mata dibalas mata, gigi dibalas gigi”. Maka, dalam berkawan musti hati-hati.

Ada beberapa macam kawan. Mereka yang tak memperdulikan. Mereka yang terlalu memperhatikan. Mereka yang maunya menang. Dan mereka yang tak mau kalau kita menang. Padahal, dalam hidup kita bukan bertanding tandang. Melainkan bersanding bergandengan tangan.

Definisi teman yang “menyebalkan” itu kemudian dibahas dengan tuntas. Oleh artikel ini dengan lugas (https://www.sciencemag.org/careers/2008/01/mastering-your-phd-dealing-difficult-colleagues). Silakan membaca dan mulai menggagas. Bagaimana agar hidup tetap sehat dan ber-gas.

Setidaknya ini adalah cermin bagi saya. Ketika di laboratorium ada satu atau dua orang yang senantia merasa benar. Atau yang merendahkan orang lain karena tidak bisa. Meskipun dia sendiri juga tidak selalu benar. Oleh karenanya, penting untuk membaca suasana. Agar tidak terpental dan gentar.

Contoh karakteristik teman yang “menyebalkan” (silakan melihat sekeliling, sekaligus melihat kaca hihi).

  • Bintang Bersinar
  • Tawon Ndas (wiki)
  • Kelinci Energizer
  • Lu-salah
  • Bomb

Bintang bersinar dimalam yang gelap. Kantot atau laboratorium atau kafe tak terasa gemerlap. Kalau si dia mulai datang dan berbincang. Semua mulut tertutup kencang. Sedangkan hati merasa iri karena tak bisa menyamai gemerlapnya. Cara menghadapinya sederhana: Fokuslah pada apa yang kita hasilkan. Tersenyumlah seperti bulan sabit di ufuk barat. Biarkan bintang bersinar, asal kita bisa menjadi rembulan purnama yang sedang menanti tanggal 15. Waktu itu, bintang tak lagi diperhatikan.

Tawon Ndas gampang menyengat. Salah sedikit dia bisa meledak dan mengamuk. Hati menjadi was-was, menanti kapan menjadi korban. Tapi, kepala menjadi panas karena mau ikut menghantam “muka” dia sampai remuk. Caranya bukan seperti ini. Sebab dia bakal makin menjadi. Cara menghadapinya: Biarkan dia mengamuk, kita harus sembunyi di bawah air yang tenang dan hati yang dingin. Kalau sudah kehabisan tenaga, dia bakal kembali tenang. Kalau sudah, tinggalkan sarangnya. Ulangi terus sampai dia bosan mengejar kepala kita. Memang butuh waktu. Tapi sebanding dengan waktu yang kita gunakan untuk menghasilkan karya.

Kelinci Energizer terus bergerak melakukan a-z setiap saat. Seperti tak ada waktu untuk beristirahat. Toh, sebenarnya tidak masalah dengan si dia (atau saya). Tapi, si energizer biasanya punya tendensi: orang lain “tidak becus” karena tidak bekerja keras seperti dia (atau saya?). Merendahkan adalah bagian yang tidak mengenakkan. Apalagi di dalam hati setiap orang pingin dihargai. Pingin bekerja keras dan dipuji. Namun, cara menghadapi terbaik adalah: hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Saingan kita bukan kelinci itu, tapi diri kita kemarin. Biarkan kelinci terus mengais wortel, karena bisa jadi kita adalah singa yang terlihat “malas” karena sedang mengintai banteng.

Lu-salah adalah tipe suka menang sendiri dan orang lain salah. Dia tahu banyak hal dan orang lain selalu salah. Kalau sudah begini hati menjadi mendidih dan panas. Pingin rasanya marah-marah dan mencari kesalahan si Lu-salah-man. Sayangnya, si Lu-salah biasanya tak pernah (atau menutup-nutupi) kesalahannya. Alih-alih jadi paparasi, solusinya bisa lebih produktif: bertanya pada dia kalau ada masalah. Lalu biarkan dia berfikir masalah kita, dan kita bisa melenggang untuk menyelesaikan masalah yang lain. Lama-lama si Lu-salah bakal jengah, lalu mulai menyadari perlu fokus pada apa yang ada di depan mata.

Bomb meledak di tengah-tengah keramaian. Seperti ini tipikal si kolektor masalah. Dia mencari-cari kesalahan orang lain untuk dibawa di tengah-tengah kerumunan, rapat, dan sejenisnya. Puas rasanya kalau si korban terpojok dan melenguh tak berdaya. Cara terbaiknya adalah segera di difuse. Sebelum bom meledak, perlu disampaikan “Saya mulai melihat beberapa rapat terakhir Anda terbiasa mencari-cari kesalahan saya. Saya berterima kasih atas perhatian itu, dan izinkan kedepan saya berusaha menyelesaikan masalah itu sendiri” ulangi sampai dia jengah. Bahwa kita bukan pushover.

Tokyo, 2021

Musim Semi


Sakura kembali mekar setelah musim dingin yang panjang.

Seperti harapan selalu muncul setelah dinginnya hati dan ujian.

Lantas, bagaimana kita memandangnya? Sebagai syukur atau kufur?

Musim Semi, Ichikawa, 2021

Di Laboratorium


Di antara gelas-gelas kaca, dengung mesin, dan sunyi yang abadi. Pada pencarian kuberteduh. Di tengah samudra kata kumengayuh. Wajah yang lesu, mata redup, sampan yang goyah dihempas ombak. Terkesiap aku akan senyap. Ketika ia lesap di dadaku yang luka. Tak ada lagi rasa.

Gempa Jepang 7.1 SR


Kemarin malam ada gempa besar di Jepang, sekitar 7 SR sekitar 2 menit. Rumah kontrakan terasa terombang-ambing, tapi tidak ada sirine yang berbunyi. Tak ada yang berlarian di jalan. Tak ada apa-apa. Intinya, saat gempa tidak boleh ada yang meninggalkan posisi, kecuali menjauhi barang-barang yang mungkin terjatuh dan menimpa.

Siangnya, ada kabar dari berbagai sumber kalau gempa itu akan diikuti oleh Tsunammi. Sekali lagi tak ada yang berteriak atau berlarian. Semua berjalan seperti biasa. Ada beberapa keluarga yang konon langsung mengenakan pakaian persediaan untuk gempa yang disediakan oleh kantor kecamatan (gratis). Itupun hanya dikenakan di ransel anaknya. Yang lain, seperti biasanya.

Kemudian, ada kabar kalau banjir di daerah lain mulai terjadi. Berita semakin mendebarkan bagi saya, sedangkan orang Jepang seperti menganggap ini tidak ada apa-apa.

Setelah berfikir, saya mulai mengambil kesimpulan bahwa orang Jepang dan orang Indonesia atau orang manapun, tak selalu peduli pada bencana. Ada yang peduli, yang lain tidak. Ada yang mencari informasi lebih lanjut, sedangkan yang lain tidak. Saya mulai tahu kalau manusia di manapun dengan budaya apapun sepertinya kembali pada egonya masing-masing.

Sambil berjalan menuju stasiun, saya hanya berdoa, semoga Allah SWT melindungi kita semua dari bencana Pandemi, Banjir, Tsunami, Gempa, dan terlebih bencana ego. Amin.