Publikasi di Jurnal Nasional: Kitosan


Tidak dapat berkata banyak tentang publikasi ini kecuali bahagia. Bahagia karena berbagi. Bukan karena mendapatkan sesuatu. Yang kami bagikan pada kesempatan kali ini adalah hasil penelitian satu tahun silam yang dilakukan di Laboratorium Analisis Kimia, Fakultas Perikanan dan Kelautan. Tim kecil peneliti Microbial Biotechnology Research Group (MBRG) FPK UNAIR yang dipimpin oleh Tri Wahyuni.

Publikasi tim kami adalah di sebuah jurnal nasional yang juga terindeks di DOAJ, Journal of Fisheries and Marine Research (http://jfmr.ub.ac.id/index.php/jfmr)

Judul: EFFECT OF CHITOSAN COATINGS ON PRESERVATION OF RED SNAPPER (Lutjanus argentimaculatus Forsskal, 1775 ) DURING LOW TEMPERATURE STORAGE

authors:  Heru Pramono, Tri Wahyuni, Faris Abidin, Wahyu Ardianto, Fareza Ferdyna Nanda Sumartono

Sebagai gambaran, konsep penelitian ini adalah upaya memperpanjang masa simpan ikan segar dengan melakukan pelapisan tipis kitosan.

Advertisements

Beasiswa MEXT


Beasiswa MEXT bagi pelajar Indonesia dapat diakses di https://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Pada saat ini sekitar 5400 siswa Indonesia tengah melanjutkan pendidikannya di Jepang. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah mereka yang menerima beasiswa, baik dari pemerintah Jepang, instansi maupun perusahaan lainnya. Beasiswa Pemerintah Jepang yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah beasiswa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/ MEXT). Beasiswa ini meliputi biaya studi dan biaya hidup, tanpa ikatan dinas. 

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dan Konsulatnya di Surabaya, Medan dan Makassar setiap tahun melaksanakan pendaftaran dan penyeleksian bagi para peminat beasiswa Monbukagakusho. Adapun program-program yang ditawarkan kepada siswa Indonesia adalah Program Research Student bagi lulusan perguruan tinggi, Undergraduate, College of Technology dan Professional Training College bagi lulusan SMA dan Japanese Studies bagi mahasiswa program studi Jepang serta Teacher Training bagi guru. ” (https://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)

Saya termasuk yang mendaftar beasiswa ini dengan skema G to G (government to government) untuk pembiayaan tahun 2019.

Informasi lebih lengkap tentang beasiswa Monbu:

Penelitian Biologi Laut


Hari ini saya mengajar Biologi Laut. Sebuah materi yang mungkin asing bagi sebagian orang. Atau mungkin terlalu biasa bagi sebagian yang lain. Yang jelas, materi kuliah kali ini ‘spesial’ bagi saya, tentang metode penelitian biologi laut.

Penelitian, menurut saya secara singkat adalah mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya dengan metode yang sahih. Artinya, bertanya, dan menjawabnya sendiri. Meskipun relatif terlalu saya sederhanakan, setidaknya dua komponen itu adalah penyusun penelitian : pertanyaan dan jawaban.

Untuk menyusun pertanyaan, seseorang dituntut untuk menjadi peka terhadap masalah. Maka ketika ia melihat laut dengan biotanya, ada pertanyaan yang dapat diajukan dan dicari jawabannya (oleh yang bertanya). Maka dititik ini saya mengingat “yang bertanya mendapat jawaban”. Karena sepertinya dunia ini adalah tanda tanya dan tanda jawab.

Lalu untuk apa melakukan penelitian? rupanya ada banyak tujuan. Beberapa hanya mencari uang dari penelitian, beberapa ingin lulus kuliah, beberapa ingin mendampingi pacarnya selama di penelitian, beberapa yang lain ingin menjawab pertanyaan azali: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, ke mana arah hidup ini.

Bagi penanya (atau peneliti) tipe pertama hingga ke empat, semuanya akan mendapatkan jawaban yang tidak akan memuaskan. Uang adalah barang yang akan hilang, lulus adalah momen yang akan terlewat begitu tercapai, pacar adalah tanda tanya besar karena masa depan belum dapat dilihat. Maka orang yang memutuskan meneliti untuk mendapatkan jawaban azali itulah yang menurut saya benar-benar peneliti.

Beberapa teman dan mahasiswa juga mungkin tidak tahu apa beda antara peneliti dan dukun kalau kedua-duanya mencoba menjawab pertanyaan tentang masa depan. Semisal Anda menanyakan pada dukun “Mbak suatu ketika di masa depan saya bisa beli mobil atau tidak?” maka dukun akan “melompat pada kesimpulan” dengan mengatakan “ya”, atau “tidak”. Sedangkan peneliti membuat perangkat logis yang sahih untuk membuktikan pertanyaan itu “apa itu mobil? mobil yang seperti apa? harganya berapa? kredit atau kontan? di dealer atau di tepi jalan atau di media sosial? butuh berapa banyak? waktunya kapan? dst” sehingga menjadi sebuah perangkat pertanyaan yang lengkap. Alih alih menjawab, peneliti sebenarnya “bertanya”. Maka kualitas pertanyaan itu menjadi kunci.

Kembali lagi ke Biologi Laut, ada pertanyaan mendasar yang sering diajukan untuk para peneliti laut “ke mana masa depan laut?” pertanyaan ini beberapa menjawabnya dengan pertanyaan yang lebih spesifik “ke mana masa depan laut akibat global warming?” atau “apakah keragaman biota laut mengalami perkembangan atau penyusutan?” dan pertanyaan lain yang mendukung. Jadi penelitian biologi laut, saya sarankan pada mahasiswa adalah yang menentukan “prediksi” ke depan tentang laut itu sendiri. Sebab pertanyaan ini jauh lebih penting bagi masyarakat yang lebih luas di masa yang akan datang “akankah anak cucu kita masih bisa makan ikan?”

Dua Hari, Praktikum, Buku, dan Puisi


Ada banyak alasan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang nampak dalam hidup ini. Beberapa memilih penjelasan saintifik, beberapa mencintai metafisik, yang lain menikmati fenomena sebagai musik instrumen dinamis yang menyenangkan. Bagi saya, dua hari ini serupa ketiga pendekatan tersebut dalam satu waktu yang bersamaan.

Dua hari ini, praktikum lapang mata kuliah HACCP, Teknologi Proses Termal, dan Teknologi Pengemasan tengah berjalan sebagai lintasan sejarah dalam batas ruang-waktu Greaik, Probolinggo, Sidoarjo. Dua hari ini pula sevuah buku menemani sepanjang jalan yang abstrak, Sejarah Singkat Tentang Waktu, Brief History of Time karya Stephen Hawkins mengisi ruang tanya, jawab dan penasaran dalam kepala.

Ada banyak hal yang dapat saya ceritakan tentang praktikum dan buku ini. Keduanya berkelindan serupa rambut panjang Ibu yang digelung dan dijadikan satu kesatuan. Indah sekaligus membuat rindu membuncah tiap mengingatnya. Meskipun ia telah berlalu sebagai riak dalam sejarah. Namun, tetap hidup dalam impuls dan syaraf kenang.

Hal pertama yang berkesan adalah tentang persiapan praktikum. Ada tubuh yang tak hendak mengikuti perintah. Ada nafas yang terkadang tak mau menjelma menjadi bagian diriku. Lantas, pada sebuah titik, kekasihku, ibu anak-anak saya mendorong saya untuk tetap meniti ruang-waktu ini. Dan karena cinta saya padanya, saya memutuskan untuk berangkat jua. Pada bagian ini, saya tahu bahwa keinginan kuat jauh lebih bermakna dari sekedar keterampilan ataupun ke-tahu-an.

Pada bagian berikutnya, kami berangkat menuju Gresik. Tempat yang rutin kami kunjungi dan hampiri untuk menuntut ilmu dan berbagi letih lesu. Bagi darah-darah baru, kata-kata itu demikian punya makna, namun bagi mereka yang tengah menjalani rendezvous, ini serupa mendengarkan lagu jazz kuno yang sudah berulang diputar di piringan hitam (yang juga kuno). Sedikit membosankan, sekaligus membawa kenangan-kenangan waktu yang kembali menata kuark dan antikuark dalam syarafku.

Lantas, pada sepanjang jalan ini saya ditemani buku yang tadi saya sampaikan. Ia menjelma dalam kecepatan cahaya, batas ruang-waktu, kuark dan anti-kuark, warna, dan apa yang sebenarnya tidak kita tahu. Semua membuat saya yakin meskipun kejadian-kejadian itu selalu berulang, ia tak pernah sama. Ia adalah fenomena yang menyerupai, namun pada dasarnya adalah hal baru. Karena itu, saya membuat hal baru pada praktikum kali ini yaitu tugas untuk membuat puisi dari materi saintifik. Dan benar, banyak darah baru yang menuliskan perasaannya sebagai puisi tentang termal. Namun, ada juga yang merangkum esensi dari saintifik untuk diubah menjadi harmoni yang dapat dinikmati.

Probolinggo, 2018

Bakteri Untuk Apa ia Ada?


Saya sangat berbahagia dan bersyukur pagi ini. Betapa tidak, dapat terbangun, menggunakan energi untuk beraktivitas dan berfikir, serta menuliskan kata-kata di sini (entah terbaca atau tidak), serta memikirkan apa yang mungkin terjadi hari ini saja sudah menjadi anugerah yang Allah berikan melalui waktu. Mengingat bidang keahlian yang saya tekuni adalah mikrobiologi dan dalam dua hari terakhir saya membaca sejarah singkat waktu, ada tulisan saya tentang mikrobiologi yang dihubungkan dengan waktu dalam kesempatan ini. Ini bukan bagian dari proyek apapun, melainkan menuliskan imajinasi saya semata.

Baiklah, saya memulainya dari bakteri, apa itu bakteri? seperti apa suatu makromolekul komplek menjadi bakteri? mengapa bakteri ada? dan apa peranannya bagi manusia dan semesta? Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang muncul sebagai bentuk pertanyaan awal kita sebagai seorang manusia. Bakteri adalah organisme yang terdiri dari satu sel (saja) dan mampu mencukupi seluruh sistem sel itu sendiri melalui metabolisme kompleks, keterkaitan antara pemecahan makromolekul nutrien menjadi energi dan struktur sel itu sendiri. Intinya, dia serupa satu balon kecil (biasanya berukuran 0,2-0,4 mikrometer), di dalamnya terdapat cairan (sekitar 80-90%), dan protein (enzim, tubulus, ribosom, dll), lemak (membran sel, dll) serta mineral (tentu saja ada phosphate, mineral yang digunakan untuk mengikat dan melepaskan energi). Dari definisi ini saja, sepertinya menunjukkan kalau kita masih belum mengerti sepenuhnya apa itu bakteri. Namun, paling tidak ada gambaran tentang bentuk dan isinya. Itu sudah cukup untuk awalan.

Kemudian kalau pertanyaannya diubah menjadi mengapa bakteri ada dan apa perannya bagi manusia dan semesta? maka pertanyaan ini akan membutuhkan berjuta jawaban (sebanyak artikel jurnal yang telah dan akan dipublikasikan di masa yang akan datang. Bahkan, saya yakin lebih banyak daripada itu). Pertanyaan pertama jauh lebih sukar untuk dijawab dibandingkan pertanyaan kedua tentang fungsi bakteri. Bakteri memiliki fungsi yang sangat beragam sehingga mereka dikelompok-kelompokkan dalam literatur.

Bagian pengelompokkan ini digunakan untuk mempermudah manusia dalam mengenali mereka lebih dalam lagi. Lebih spesifik. Contohnya adalah bakteri yang diberi nama dengan peneliti yang memfokuskan dirinya pada bakteri ini: Escherichia coli yang awalnya bernama Bacillus coli. Nama Escherichia berasal dari orang yang mendedikasikan dirinya untuk menjelaskan penyakit diare pada anak, Theodor Escherich dari Jerman (yang bakal ulang tahun 29 November ini, ia lahir tahun 1857). Pengelompokkan dan penamaan itu kemudian menjadi ‘penanda’ kalau suatu organisme itu ‘aman’ atau ‘berbahaya’ bagi kita (tidak perlu saya jelaskan betapa narsis dan egoisnya manusia). Sehingga fungsi dari bakteri itu sendiri adalah ‘aman’ atau ‘berbahaya’ dari perspektif manusia. Namun, sejatinya alam tidak mengalami ‘aman’ atau ‘bahaya’ karena alam adalah sebuah sistem yang kompleks, tertata (cukup rapi dengan berbagai ketidakteraturan di dalam keteraturannya), dan saling terkait. Semisal bakteri E. coli di seluruh dunia di ‘matikan’ maka kesetimbangan akan diupayakan oleh jenis bakteri lain yang memiliki sifat yang mendekati E.coli dan hidup akan masih serupa.

Sehingga, pertanyaan pamungkasnya adalah mengapa bakteri ada? Ini akan membutuhkan waktu ratusan tahun ke-depan untuk dapat dijawab. Ada beberapa hipotesis yang dapat diajukan:

  1. Ia ada sebagai bentuk kebetulan semata
  2. Ia ada untuk mengawali seluruh kehidupan
  3. Ia ada untuk mengakhiri seluruh kehidupan
  4. Ia ada untuk menyetimbangkan kehidupan
  5. Ia ada untuk… (anda dapat menambahkan sendiri selanjutnya)

Sepertinya saya terlalu banyak bertanya tentang teknis selama ini pada diri saya sendiri, mencari jawabannya secara teknis, menjabarkan semuanya sebagai teknis. Mungkin karena saya mengampu Teknologi Hasil Perikanan, FPK UNAIR sehingga semuanya teknis. Namun, sebagai seorang ilmuwan, semestinya arah pertanyaan diperbesar dan luas lagi sehingga teknik yang disusun adalah valid dan menjawab pertanyaan “mengapa bakteri ada”.

Bakteri Endofit Tanaman Mangrove


Bakteri merupakan organisme/ jasad renik berukuran mikroskopis bersel tunggal yang hidup dalam berbagai lingkungan/ niche. Bakteri terdiri atas dua kelompok besar, yaitu bakteri Gram positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel terdiri atas peptidoglikan yang tebal  dan satu membran sel, sedangkan bakteri Gram negatif memiliki dua membran sel. Bakteri dapat tumbuh dalam berbagai lingkungan sebagai detritus, patogen, ataupun hidup dengan bersimbiosis dengan organisme yang lebih tinggi.

Simbiosis dengan organisme lain, baik tanaman ataupun binatang, dapat bersifat positif maupun negatif. Beberapa jenis bakteri telah dikenal memiliki peran baik pada manusia, sebagai contohnya adalah Bifidobacteria yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh manusia sehingga sering disebut sebagai probiotik. Di lain sisi, bakteri juga memiliki peran negatif sebagai agen infeksius. Salah satu jenis bakteri yang banyak dieksplorasi adalah bakteri endofit.

Bakteri endofit didefinisikan sebagai organisme yang hidup di dalam jaringan tanaman, namun tidak menyebabkan dampak buruk bagi inangnya. Bakteri endofit telah diteliti sejak sebagai produser bahan aktif, enzim, dan senyawa metabolit sekunder.

Bakteri Asam Laktat Sebagai Starter Kultur Sosis


Bakteri asam laktat (BAL) adalah bakteri Gram positif, tidak memproduksi spora, katalase negatif, dan mampu menghasilkan produk metabolit berupa asam laktat dari hasil fermentasi karbohidrat. BAL merupakan penyebutan pengelompokkan bakteri berdasarkan metabolit yang dihasilkan, bukan merupakan kelompok yang didasarkan pada klasifikasinya, sehingga terdapat dua Filum besar yang menyusun BAL, yaitu Firmicutes dan Actinobacteria. Sedangkan berdasarkan jenis metabolit yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat, BAL dikelompokkan menjadi dua jenis kelompok besar yaitu homofermentatif dan heterofermentatif. BAL homofermentatif menghasilkan hanya asam laktat sebagai produk utama fermentasi karbohidrat, sedangkan BAL heterofermentatif menghasilkan metabolit lain seperti diasetil, asam laktat, asam asetat, dan etanol dalam jumlah yang hampir sama.

BAL banyak dimanfaatkan sebagai probiotik, yaitu organisme hidup yang dapat memberikan manfaat pada inang apabila dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Probiotik dengan kultur BAL umumnya berbahan baku susu sapi dan dipasaran dalam bentuk yogurt, susu yogurt, atau kapsul. Meskipun demikian, BAL juga dapat dimanfaatkan sebagai kultur starter dalam fermentasi sosis, seperti yang telah diteliti oleh peneliti M. Salim Ammor dan kolega dalam artikel berikut: https://doi.org/10.1016/j.meatsci.2006.10.022

Berdasarkan artikel tersebut, terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai acuan suatu isolat BAL dapat digunakan sebagai kultur starter dalam pembuatan sosis, diantaranya:

  1. Memiliki kemampuan menghambat bakteri patogen dan menjamin food safety
  2. Mampu memproduksi asam dengan cepat
  3. Menghasilkan senyawa antibakteri seperti bakteriosin
  4. tidak menghasilkan biogenic amin
  5. Tidak mengandung gen resistensi antibiotik
  6. Karakteristik fungsional lain, atau dapat menghasilkan nutraseutikal

Mempertimbangkan hal tersebut, laboratorium kami juga melaksanakan studi terkait aplikasi BAL dari genus Tetragenococcus dan Lactobacillus dalam produksi sosis ikan. Ikan yang digunakan di laboratorium kami adalah ikan lele dengan tiga perlakuan utama, yaitu dengan penambahan Tetragenococcus, penambahan Lactobacillus, dan gabungan dua isolat tersebut. Hasil penelitian yang diketuai oleh Saudari Tutut menunjukkan bahwa aplikasi isolat Tetragenococcus menghasilkan produk yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kontrol maupun Lactobacillus dan gabungan kedua isolat. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendapatkan formula sosis terbaik dengan kultur starter BAL jenis Tetragenococcus.

Menentukan Target vs Merealisasikan Target


Ada hal yang menarik di tiap tahun baru. Ada target-target baru yabg dibuat. Dengan sepenuh hati bahkan. Tanpa ada niat untuk berbohong pada diri sendiri. Target itulah yang betulan diinginkan pada tahun ini. Titik. 

Begitu bulan demi bulan berjalan ada perubahan. Ada kemalasan. Ada ketakutan untuk mewujudkan mimpi dan harapan itu. Namun,  ini masih berapa bulan di awal. Harapan, keinginan, mimpi-mimpi mulai pudar meski masih hidup. Berdenyut seperti hidup segan mati tak mau. 

Demikianlah mimpi itu akan mati di tengah tahun. Tidak lagi bergairah menjalani mimpi. Semua ditikam rutinitas. Tak menyenangkan. Tak menegangkan. Oleh karenanya ada jurang antara realitas dengan harapan. Padahal kedua hal itu muati selaras. Maka bagaimana mewujudkan itu semua? Inilah yang lebih penting daripada tangis penuh kepastian di awal bulan. Karena merealisasikan mimpi jadi lebih penting.

Kabar baiknya mimpi itu bukan permainan. Mimpi dapat direalisasikan asalkan kita benar tahu detailnya. Asalkan kita paham bagaimana melangkah detik demi detiknya. Sehingga kita dapat merealisasikan, bukan hanya memimpikan.

Ada cara yang paling menarik untuk merealisasikan mimpi itu. Pertama perlu spesifik problemnya di mana. Bila kita ingin memiliki rumah pada tahun ini, maka yang paling utama adalah punya DP dan punya lokasi rumahnya. Pertanyaannya apakah sudah dicari lokasinya? Apakah sudah disiapkan DP nya?  Perkaranya sering kali kita belum punya keduanya. Maka, dibuat segera perencanaanya. Tahap ini perlu spesifik. Lihat record yang telah kita lakukan. Apakah tiap hari kita menginveat kan waktu untuk mecari lokasi dan cari DP? Kalau sudah, buatlah grafiknya. Apakah konsisten setiap harinya? 

Ban Bocor dan Inovasi


Kabar baiknya adalah ban motor saya bocor lagi. Tepat di sebelah Pojok Benteng Keraton Jogjakarta. Selepas lepas dari mobil-mobil plat non AB yang mengantri keluar benteng. Seperti sebuah perjalanan panjang penuh kenangan. Bagi si pemilik mobil.

Akhirnya kami memutuskan membeli buah salak. Snake fruit yang terkenal manis itu. Salak pondoh asal Sleman. Sembari beristirahat selepas letih berjalan. Kabar baiknya dari pemilik kios salak. Ia tanpa ragu menunjukkan lokasi tambal ban. Bahkan bersedia mengambil motornya dan mengecek apakah tambal ban itu buka. Saya tertegun. Demikian tulusnya orang-orang ini. Jauh dari apa yang biasa saya temui di Kota Surabaya. Tempat saya mengadu nasib.

Saya mengetik ini tepat di belakang motor yang ditambal. Dan sukses membuat saya bersyukur. Karena begitu kita melihat jarak antara kondisi dan harapan, kita melihat peluang bertindak. Saya memilih bertindak lebih positif. Toh, ini kabar baik. Disela-sela kabar bobroknya moral, masih ada yang mau membantu. Sangat tulus.

Kabar baik berikutnya adalah inovasi. Saya berharap ada yang dibidang kimia atau teknik mengembangkan inovasi di bidang per ban bocoran ini. Saya sangat senang berapa waktu silam mendengar ada yang telah mengembangkan teknologi tambal ban otomatis. Caranya memasukkan suatu cairan tertentu yang apabila menemui ban bocor akan dengan otomatis menutupnya.

Inovasi yang lebih masif juga telah dikembangkan dengan adanya ban tubeless. Kedua inovasi itu tentunya kita apresiasi dengan sangat baik. Namun, entah kenapa kedua inovasi tersebut belum final. Masih ada gap, masih besar tantangannya. Saya berharap gap itu dapat dikembangkan dengan serius. Bukan sekedar lomba yang akan dilupakan. Bukan sekedar penggagasan pasar baru buat harga yang lebih tinggi. Bukan untuk sekedar main-main.

Teknologi seperti ini yang dengan senang hati saya berharap untuk mendengar diskusinya. Dan mungkin, meskipun tidak dapat memberi alternatif solusi pada saat ini, saya berfikir adanya sejenis bakteri yang mampu membantunya. Mungkin sejenis bakteri yang mampu membuat biofilm dan menggunakan kondisi semi anaerob untuk memproduksinya. Juga dengan kemungkinan kombinasi dengan nitrogen. Untuk itu, mungkin ada yang punya ide untuk dapat diimplementasikan

Perkembangan Riset Recovery Protein


Tahun 2017 ini sangat menggembirakan bagi grup riset MBRG karena ada wilayah baru yang diteliti. Recovery protein dari limbah industri perikanan. Meskipun sayangnya tidak berfokus pada mikrobiologi, namun aspek bioteknologinya tetap menjadi dasar.

Penelitian ini dilandasi oleh banyak faktor. Faktor dominannya adalah limbah hasil perikanan yang menggunung. Dari setiap 1 ton ikan, maka akan dihasilkan 6 kwintal limbah. Lebih dari separuhnya. Terdiri dari kepala, kulit, tulang, dan sisik. Semuanya digiling jadi tepung atau paling gampangnya ditumpuk jadi sampah. Limbah yang menggunung dan potensial menimbulkan bencana penyakit dan Continue reading “Perkembangan Riset Recovery Protein”