Silap silam sekejap



Masih kukenang, sekeping senja di sela myelin-jiwa

Jua potret sangkil masa bersama kekasih

Lantas dalam deru kereta di bawah rembulan yang membawaku padamu

Kutiupkan seluruh silap silam sekejap ‘tuk senyapnya rutinitas

Buat sepotong waktu bahagia bersama keluarga kecil kita

2017

Advertisements

Menilai orang lain


Menilai orang lain terkadang menjadi bagian yang sangat krusial karena benar tidaknya pebilaian akan menentukan tindakan yang akan kita ambil. Ketika kita mampu menilai orang lain dengan benar,  maka tindakan dan sikap kita terhadap orang tersebut. Sebaliknya jika menilai orang lain dengan tidak tepat akan menyebabkan kita bertindak dengan tidak tepat dalam mengambil sikap. Meskipun demikian, selalu ada kesempatan kita salah menilai karena perasaan yang tidak suka dengan orang yang akan kita nilai.

Suka tidak sukanya kita dengan orang lain, sebenarnya juga sangat tergantung pada bagaimana kita menyukai diri kita sendiri. Lho, kok menyukai diri kita? Karena sebenarnya yang tidak kita sukai adalah apa yang tidak kita sukai terdapat pada diri kita. Jadi, permasalahannya kalau kita tidak suka dengan diri sendiri akan menyebabkan kita tidak mampu menilai orang lain dengan benar. Atau, dengan kata lain yang tidak dapat kita nilai adalah diri kita sendiri. Mampu menilai diri akan sangat menentukan bagaimana menilai orang lain. 

Mbulet khan? 

Break


Senja kemarin, kau menyapaku dengan lembut

melalui senyap yang ganjil dan ruangan yang terasa lebih dingin dari semestinya

bukan, bukan karena aku terjebak di dalam influenza ini aku merasa kedinginan

namun, pada ruangan ini kau sampaikan betapa aku tak memiliki apapun kecuali istirah

serta bagaimana Imam Syafii mengatur waktu malamnya

sepertiga untuk menulis

sepertiga untuk qiyam

sepertiga untuk tidur

betapa jauh hidupku dan hidup beliau dalam bingkai nafas dan maut.

HR

Ibu


Aku bukanlah anak dari pikirmu
Meski serupa bayi,
Terus kuhisap air susu idemu
Dan seiring waktu berjalan
Kau telah merasa
Sebagai ibuku
Sedangkan aku telah tumbuh
Sebagai perawan -jejaka
Dan merasa telah merdeka darimu

Lihatlah lihat aku
Kini tengah membeku kaku
Sempat kulihat dan kurawat
Ide-ideku tumbuh
Sebagai anak, jejaka-perawan baru
Dan sepertiku dulu
Telah mencampakkanku si ibu

Sumenep-pamekasan, 2016

Pengendalian diri dalam riset


Hal yang sudah wajar kita saya lakukan adalah menargetkan publikasi internasional pada jurnal bereputasi. Selain hal tersebut akan meningkatkan reputasi keilmuan seseorang, publikasi internasional juga memungkinkan project riset baru dapat di raih. Hal ini berarti menguatkan institusi dan laboratorium atau lembaga dimana kita berada. Meskipun demikian, terkadang kita saya terlalu berambisi dengan ide kompleks.

Saya sendiri menyadari bahwa hal tersebut tidak salah. Jurnal internasional menginginkan riset yang baik dan komprehensif. Namun, ambisi yang terlalu besar membuat penelitian yang dilakukan berkesan mengada ada tanpa alasab riil atau bahkan seperti pasar tradisional yang menyediakan semua data tanpa satu tujuan yang jelas. Kalau boleh disebut, penelitian seperti ini adalah penelitian gado-gado. Asal campur yang penting pakai bumbu kacang.

Hasil dari penelitian model ini juga seperti bumbu gado-gado tersebut. Dikacangi oleh reviewer. Diskusi yang berlangsung kemarin dengan Prif Indra Jaya (IPB) dan Dr. Carsten Thoms (DAAD) menunjukkan hal yang sama sekali berbeda. Suatu riset harus diperhatikan dengan seksama. Pertanyaan tujuan apa jauh lebih relevan dibandingkan sebanyak apa yang kita bisa berikan. Oleh karena itu, rancangan penelitian yang baik serta novelty menjadi lebih urgent untuk kita pikirkan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sering ditanyakan bagaimana agar penelitian kita relevan? Jawabannya adalah jawaban klise yang semua orang sudah tahu: membaca banyak artikel jurnal ilmiah yang banyak. Ada yang mengatakan perlu membaca minimal 10 artikel ilmiah sebelum menulis proposal skripsi. Beberapa yang jauh lebih senior mengatakan 100 artikel. Nah, kalau menurut saya yang lebih tepat adalah membaca sebanyak banyaknya hingga menemukan state of the art penelitian kita sendiri. Selamat berfikir kembali.

Asrama internasional IPB, 2016

Menulis abstrak MST CAREER


Hasil diskusi di MST CAREER hari ini lebih banyak saya tangkap mengenai abstrak. Abstrak pada penelitian memiliki fungsi yang tidak dapat digantikan oleh apapun, baik pendahuluan, metode ataupun hasil dan pembahasan. Abstrak merupakan wajah dari penemuan yang telah dilaksanakan. Meskipun demikian, banyak peneliti menganggap abstrak sebagai hal yang remeh.

Sebaliknya, abstrak justru digunakan sebagai bahan baku utama untuk menentukan apakah penelitian yang dilakukan pantas untuk diberikan perhatian, pendanaan, diskusi lebih lanjut, ataupun kolaborasi riset. Lebih lanjut Prof Indra Jaya menyampaikan bahwa hal utama ketika beliau menjadi reviewer dan menentukan sebuah proposak akan dibiayai atau tidak adalah abstrak.

Dr. Thoms, salah satu pembicara inti dalam workshop ini menyampaikan strategi untuk menentukan apakah penelitian yang dilakukan sudah baik atau belum. Hal tersebut ialah:

1. Tujuan/pertanyaan ilmiah apa yang ingin dijawab melalui penelitian ini?
2. Bagaimana metode penelitiannya?
3. Apa hasil utama penelitian ini?
4. Apa relevansi dengan dunia lebih luas?

Meskipun demikian saya tidak dapat memberikan penjelasan lebih komplit. Hal ini dikarenakan menyusun abstrak sebuah kegiatan praktik, bukan teori. Ada baiknya belajar langsung kepada mereka yang ahli dalam menyusun karya ilmiah level internasional.

Asrama internasional IPB, 2016

Berdiskusi dengan Dialog


Berdiskusi merupakan hal yang umum digunakan untuk tujuan tertentu, semisal menyusun panitia, menyelesaikan konflik, menyelaraskan visi, bahkan untuk urusan kecil seperti baju apa yang cocok untuk datang kondangan. Meskipun demikian, sebagian besar teman yang saya ajak diskusi berhenti pada kesepakatan sebelum diskusi itu berjalan. Sebagai contoh, pernah saya mengajak dua orang teman untuk mendiskusikan masalah praktikum x. Ia nampak mendengarkan, namun begitu saya tanya pendapat ia hanya menjawab “ya begitupun gak apa apa”.

Alih-alih sekedar menjadi “gak apa apa” saya sebenarnya berharap ada buah pikiran atau sudut pandang baru. Saya sendiri menyadari bahwa saya masih jauh dari kualifikasi untuk memutuskan. Oleh karena itu, dengan berdiskusi saya mengharapkan ide, gagasan, makna, atau perspektif yang baru mengenai sebuah masalah yang ada. Tetapi, apabila tanggapan rekan diskusi masih pada tahap non responsif atau acuh tak acuh, maka hal tersebut tidak dapat diperoleh.

Mengenai hal ini, saya melihat dan merasakan bahwa ada kendala personal untuk berdiskusi. Hal ini juga membuat saya mendengarkan kata hati saya yang bertanya “mengapa diskusi menjadi menakutkan bagi kelas? Di sisi lain, mengapa mereka begitu aktif di media sosial dan warung kopi? Apakah faktor-faktor ‘lepas’nya pikiran dalam berdiskusi? Apa yang bisa saya lakukan? ”

Jawaban dari pertanyaan itu terus saya cari hingga saat ini. Sebuah titik terang sempat saya lihat dari sebuah buku yang menceritakan tentang Socrates. Ia bermuka jelek, tua, pemalas, namun fokus pada diskusi yang fundamental dalam bentuk dialog. Ada hal yang masih belum dikuasai untuk menghidupkan diskusi di kelas, salah satunya adalah kemampuan dialog.

Kemampuan dialog sendiri masih sangat jarang dipelajari. Orang-orang seperti Socrates lebih banyak mengandalkan pada kemampuan bawaan untuk berdialog sedankan orang seperti saya memerlukan lebih banyak berlatih. Berkaitan dengan pertanyaan dan kemampuan dialog, diskusi di kelas semestinya lebih lepas, tanpa batasan yang terlalu kaku, serta penuh dialog. Meskipun demikian, dialog hanya terjadi kalau kedua belah pihak merasa dan menyadari satu hal yang sama. Oleh karwna itu, salah satu hal penting yang perlu dilakukan sebelum memulai diakog adalah memaparkan secara jelas sebuah tema yang akan didiskusikan serta diiringi dengan niat yang jujur untuk mendapatkan solusi. Dengan demikian, suasana dialog akan hidup dan membuka ide baru yang menanti untuk dikonfirmasi di masyarakat, software, kolam percobaan, meja laboratorium, dan kelas atau lebih luas dari itu semua.

IPB 2016