Diskusi Jadi Sepi


Belakangan ini, ruang diskusi yang saya temui tersisa ruang diskusi keilmuan. Diskusi tentang mikroorganisme, gen, protokol, kesalahan berfikir, membuat hipotesis, merangkum rencana, dan mengevaluasi data. Diskusi yang lain tentang komunitas, keluarga, dan sejenisnya, sepertinya telah padam semenjak lebaran.

Tanpa dasar, saya menarik kesimpulan (yang kemungkinan besar salah): diskusi telah menjadi sepi. Ruang diskusi melalui media sosial telah menemui titik jengah. Bertemu, diskusi, sambil minum kopi: ini tinggal memori yang terus memanggil-manggil untuk dieksekusi. Namun, kondisi masih belum memungkinkan karena faktor a, b, c, dan seterusnya.

Setidaknya, diskusi di fakultas sebelah timur (warkop), masih menjadi kenangan yang amat baik di kepala saya. Diskusi yang melahirkan semangat untuk belajar, mencoba, dan melangkah maju. Diskusi yang membuka wacana dan kemungkinan-kemungkinan baru. Diskusi yang… entah kenapa tak saya peroleh ngeh nya ketika membaca postingan medsos.

Kembali ke diskusi telah menjadi sepi. Diskusi apa lagi yang mau dicari? Selain untuk memberi semangat untuk kembali memulai? Toh, kesalahan telah terjadi. Hanya semangat maju yang bisa membuat diri lepas dari jenuh dan jengah. Diskusi, semoga tak jadi sepi.

Tokyo, 2022

Tak Menyerah!


Terlalu banyak yang terlewat dari radar. Kejadian-kejadian yang “penting” akan terus terjadi tanpa kita sadar. Bahkan, terkadang kita lupa untuk bersandar. Tak terasa, masa depan terlihat pudar. Seperti berjalan pada tikungan panjang, di jalan yang bundar.

Meski hilang arah, tak ada salah untuk terus melangkah. Sebab ini adalah satu-satunya jalan: tak menyerah! Biarpun rasanya, letih dan lesu bercampur resah. Menghantam dada, membikin susah. Kesadaran ini membikin saya masih tetap berusaha pasrah!

Lantas, bagaimana menyikapi hal yang terlewat? Bagaimanapun waktu tak dapat dilipat! Belajar dan mengambil hikmat. Mungkin, sedikit menghibur dada yang tersesat.

D3 so fast!

Ramadan kali ini


Ramadhan kali ini tiba lagi. Sudah lebih sepuluh hari. Tak banyak perubahan berarti. Meski, ingin terus memperbaiki hati.

Ramadhan kali ini ifthar bersama sahabat. Di gedung 8 tempat merapat. Lantai tujuh seperempat. Berlima kadang berempat. Berharap terus bersemangat.

Ramadhan kali ini, Tokyo masih seperti biasa. Tak terdengar adzan, teriakan sahur, atau imsya’. Seperti tak terasa. Namun, masih terus berusaha merasa. Sebab konon, iman dan taqwa adalah masalah rasa.

Ramadhan kali ini, studi terus berjalan. Entah kenapa terlalu banyak onak-elan. Terus melangkah meski pelan. Berharap suatu ketika kelak kembali bersua handai taulan.

Tokyo, 2022

Shoganai


Saya pernah mengalami kelabakan pada level yang sangat tinggi. Seperti waktu sehari terlalu cepat berlalu. Kalau boleh menggunakan istilah yang hiperbolis: “Kata ini (shoganai) telah menyelamatkan saya”.

Saya menduga kelabakan terjadi disaat merasa “harus melakukan sesuatu,” namun “waktu yang ada sepertinya telah hampir habis”.

Kelabakan bisa disebabkan oleh banyak hal, mayoritas karena menunda-nunda pekerjaan (penting). Sayangnya, pada banyak kasus: mau klabakan atau tidak, pekerjaan itu harus selesai dan hasilnya tidak bisa diubah. Ini yang membuat sedih dan stres.

Orang Jepang (terutama yang saya kenal) memiliki jargon untuk hal ini. Namanya adalah shoganai.

Ketika harusnya melakukan penelitian, tapi batal karena sakit..shoganai. Ketika tidak dapat data yang bagus…shoganai. Ketika waktu sudah mepet, tapi tetap tidak berhasil… shoganai. Ketika harapan kita X, namun yang terjadi Y … shoganai.

Di dalam Bahasa Indonesia (pergaulan), shoganai mungkin mendekati makna “ya.. udah lah,  mau begimana lagi” atau dalam Bahasa Jawa “piye meneh..wis kebacut”.

Shoganai, juga menjadi motivasi untuk move on dari masalah. Tidak terus berkecimpung di dalam perasaan gagal, dan kembali melangkah maju meskipun sudah gagal.

Menariknya, di sini (Jepang) kata ini masif digunakan. Saya teringat ketika saat saya gagal penelitian, sensei juga menasihati dengan kata ini. Bedanya dengan dosen saat di suatu negeri (YouKnowIKnow), ketika gagal ya…dicaci maki (he he.. ini tidak bisa digeneralisasi, hanya pengalaman pribadi).

Seandainya, kata “yaudah, mau bagaimana lagi” atau “piye meneh, wis kebacut” digunakan merata dan orang lebih ikhlas menerima tiap kegagalan lalu kembali melangkah maju, mungkin kemajuan bisa diperoleh dengan masif juga. Perlu menerapkan untuk diri, keluarga, lingkungan sekitar. Semoga bisa.

LupakodeEfilingpajak, 2022

Jangan Membuang Waktu!


(#LamaNggakNulisYangAbsurd. Note: ini adalah ocehan tanpa dasar, boleh percaya, disarankan jangan percaya!)

Waktu adalah kata benda yang senyatanya adalah abstrak, serupa dengan cinta, benci, rindu, dan sayang. Saking abstaknya, waktu tidak bisa dirasa oleh panca indra, tidak bisa dipegang, dirasakan, dicicipi, didengar apalagi dilihat.

Waktu itu sendiri sering saya definisikan sebagai jeda antara dua kejadian (yang diingat). Jadi, kejadian yang tidak diingat tidak memiliki waktu (di kepala saya). Sehingga, apakah waktu ada di masa dua detik atau dua minggu kedepan, masih tanda tanya.

Ada tidaknya waktu itu disebabkan oleh karena setelah (misalnya) membaca ini, kita tidak tahu masih mengalami kejadian lain dan menyimpannya dalam memori sebagai “waktu itu saya baca tulisan abstrak tentang waktu yang ditulis oleh Hak1m” atau lupa sehingga catatan ini tidak menjadi waktu. Saya sering berkhayal kalau sebenarnya waktu itu adalah memori itu sendiri.  

Konsep waktu-memori ini tidak perlu diambil pusing. Nanti bisa-bisa menyebabkan otak kekurangan oksigen atau asupan glukosa darah drop gegara terlalu serius. Anggap saja waktu adalah memori, lalu kalau tidak benar ya… lupakan! Ha ha ha.

Waktu kecil, waktu sekolah, waktu menikah, waktu memiliki anak, waktu berangkat ke Jepang dibayari MEXT, waktu penelitian di Tokyo University, waktu jalan-jalan ke Skytree Tokyo dan waktu-waktu yang lain, tidak lebih adalah memori di kepala saya. Agar waktu-waktu itu terus ada, saya sering menyimpan foto yang bisa memantik memori atau catatan agar masih bisa diputar ulang suatu ketika kelak. Dengan demikian, waktu-waktu itu bisa terus saya ulang di memori.

Lalu, apakah itu membuang waktu? Misalnya ketika belajar, sering disebut jangan “membuang waktu” dengan main game!, ketika liburan dibilang jangan “membuang waktu” dengan menonton TV seharian!, ketika menyusun tugas akhir jangan “membung waktu” dengan menunda-nunda!, dan seterusnya. Apakah ini benar disebut membuang waktu?

Saya sepakat hal yang “sia-sia” disebut membuang waktu. Namun, jauh lebih sepakat ketika menyebutnya sebagai “membuang memori”, sebab bagi saya waktu adalah memori. Jadi, menonton TV seharian asalkan menjadi memori yang baik (atau buruk) adalah memanfaatkan waktu. Ah, saya ingat film kartun Minggu Pagi: Doraemon, Dragon ball, Chibi Maruko-chan, Inuyasha, Digimon Adventure. Siapa bilang itu buang waktu, sini bawa kopi kita bisa diskusikan! Hua ha ha.

Menunda-nunda dan membuat kita selalu ingat adalah waktu. Menunda melanjutkan studi lanjut S3 karena mencari pekerjaan, menunda mencari pekerjaan karena baru baru saja menikah, menunda memiliki anak karena belum punya istri adalah contoh menunda yang bisa terus diingat. Sehingga, menunda tidak selalu “membuang waktu”. Bagaimana dengan menunda menyusun skripsi? Menurut saya juga baik, asalkan diisi dengan memori. Misal memori horor mengingat wajah dosen pembimbing? Wkk…

Kesimpulan saya, waktu tetap ada ketika suatu momen menjadi memori yang masih dapat dipanggil ulang. Membuang waktu yang sebenarnya adalah ketika saya melakukan sesuatu (entah positif atau negatif), namun lupa apa yang dilakukan.

Dengan kata lain, hal positif yang dilakukan tanpa niat juga membuang waktu. Hal negatif yang dilakukan tanpa niat, juga membuang waktu. Mungkin, ini penyebab kenapa dalam setiap aktivitas diperlukan intens (niat) sebelumnya, sebab hanya dengan cara ini waktu bisa disimpan di memori kita. So, pesan yang bisa diambil dan dilaksanakan adalah: jangan membuang waktu dengan kegiatan apapun, awali selalu dengan Niat! Intens! Tujuan yang jelas!

Tentang kerja keras


(note: fakta detail sejarah banyak perlu diklarifikasi, saya fokus pada pelajaran yang diperoleh. Tks)

Kerja keras setara dengan dihargai oleh orang lain. Dua kata ini “kerja” dan “keras” memiliki konotasi yang negatif ketika dipisah, namun menjadi positif ketika digabungkan. “kerja” selalu berkonotasi lelah, kewajiban, terpaksa; sedangkan “keras” terkesan tidak mudah, sulit, tidak enak, kaku. Namun, seperti halnya “keringat olah raga”, “kerja keras” memiliki makna yang lebih positif dibandingkan kata “kerja” dan “keras” itu sendiri.

Kerja keras dipercaya sebagai sumber kesuksesan. Bahkan lebih ekstrem ia disebut-sebut sebagai satu-satunya penyebab kesuksesan, bukan yang lain (seperti dituhankan). Tanpa kerja keras, jangan bermimpi untuk sukses. Apapun definisi sukses, hampir selalu dihubungkan dengan kerja keras. Film-film heroik selalu bertema dasar kerja keras. Komik dan manga juga menjadikan kerja keras sebagai emblem kepahlawanan.

Bicara kerja keras, saya teringat cerita Toyotomi Hideyoshi. Laki-laki bertampang monyet (saru-Bahasa Jepang) mengawali hidup dengan kerja keras. Meniti karir dari menjual jarum di pasar, hingga akhirnya menjadi komandan militer tertinggi di Jepang pada zamannya. Kisah Hideyoshi ini menjadi buah bibir yang hampir tak ada usainya. Buku ditulis berdasarkan kisahnya. Kerja keras menjadi lebih berkilau seperti berlian ketika menceritakan Hideyoshi.

Sebelum Hideyoshi, Oda Nobunaga yang lahir dari keluarga terpandang juga memiliki emblem serupa. Sekali lagi, dengan kerja keras juga ia mampu menaklukkan hampir seluruh wilayah Jepang sebelum Hideyoshi, yang saat itu anak buahnya, mengambil alih kekuasaan dari anaknya setelah Oda mangkat akibat pemberontakan Mitsuhide. Kerja keras, sekali menjadi emas yang ditawar dengan nilai tinggi.

Namun, generasi setelah Hideyoshi adalah generasi yang katanya dibangun bukan dari kerja keras. Ia lahir dari keluarga kaya, terpandang, terdirik. Ia memutuskan mengikuti karir militer sebagai anak buah Oda Nobunaga setelah dikalahkan dalam sebuah perang. Lalu, ketika Hideyoshi berkuasa, ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan membaca dan menulis. Pemalas. Pecundang. Tak kerja keras. Tak layak dibanggakan.

Hideyoshi lengser dari jabatannya akibat setengah gila pasca kegagalannya menaklukkan Hankuk. Si pemalas ini naik posisi menjadi shogun menggantikan Hideyoshi setelah menang perang. Keputusan pertamanya adalah memindahkan ibu kota Jepang kuno dari Kyoto ke daerah rawa-rawa dan kemudian disebut sebagai Tokyo. Keputusan yang saat itu ditertawakan oleh banyak “orang pintar”. Namun, kini dipuji-puji sebagai keputusan paling brilian.

Tulisan-tulisan si pemalas ini konon juga dijadikan undang-undang dasar pada saat ia berkuasa dan oleh anak keturunannya. Ia tak banyak turut campur dalam pengurusan negara, lebih sering menulis dan “santai”. Konon, undang-undang yang ia buat dengan santai itu menstabilkan Jepang kuno sampai sekitar 300 tahun sebelum Restorasi Meiji.

Lalu, siapakah yang lebih sukses? Melihat hasil tentunya si pemalas bernama Tokugawa Ieyasu ini adalah jagoannya. Tak terkalahkan. Namun, orang masih nyinyir, sebab ia tidak kerja keras. Kemudian, ada penelitian yang mencoba menghubungkan antara kerja keras, kepuasan kerja, dan produktivitas. Hasilnya mengejutkan, rupanya semakin bekerja keras seseorang akan semakin puas bekerja, namun semakin rendah produktivitasnya.

Saya merenung lama akibat tulisan dari buku McKeown yang menceritakan hubungan kerja keras, kepuasan kerja, dan produktivitas itu. Apa yang saya cari? Kepuasan kerja atau hasil? Dengan berat hati, saya meletakkan mahkota kerja keras di sebuah tas usang yang tak lagi saya buka lagi semenjak itu.

Sebagai gantinya, saya mengenakan topi pelari maraton yang berlari “santai” namun tak pernah usai. Seperti lari yang tak berujung, namun terus ke depan. Langkah demi langkah. Tak ada kepuasan kerja di sini, namun perlahan, saya melihat hasil. Ya, hasil. Semenjak itu, saya memutuskan untuk menjadi seperti Ieyasu yang meluangkan waktu untuk membaca dan bersantai. Namun, tak pernah usai untuk terus bekerja, meskipun tanpa kata “keras” lagi. Kerja menjadi emblem positif, sedangkan keras adalah emblem yang tak selalu berkilau.

Mungkin, ini salah satu penyebab Rasulullah menyampaikan “berimanlah lalu istiqomah”. Bukan “berimanlah, lalu bekerja keras”. Sebab istiqomah, seperti maraton, terkesan membosankan dan tanpa ujung. Namun, jelas memberikan hasil. Wallahua’lam.

Tokyo, 2022

Mendefinisikan ulang kata “lamban”


Lamban. Kata ini lebih sering berkonotasi negatif. Lamban bekerja disinonimkan dengan malas. Lamban berfikir bersinonim dengan bodoh. Lamban memutuskan dianggap plin-plan. Lambat menikah dipandang tidak laku. Kita bisa menambahkan lamban yang lain untuk mendapatkan konotasi negatif yang sejenis.

Meskipun demikian, apakah lamban makan di restoran berbintang empat bersama kekasih dianggap malas? Lamban menyusun tulisan sebelum dikirimkan ke penerbit buku dianggap bodoh? Lamban menabung berpuluh tahun sebelum mendaftar haji dianggap konyol? Pertanyaan retoris yang jawabannya adalah tidak!

Lamban makan direstoran disebut “romantis”, lamban menyusun tulisan disebut “teliti dan jeli”, lamban menabung disebut “hemat”. Lamban di sini berkonotasi positif. Sehingga, lamban itu sendiri tidak berarti positif atau negatif, melainkan netral.

Tulisan ini saya ketik dengan lamban. Bolak-balik dibaca dan diperbaiki. Berharap lamban tulisan ini lebih bisa saya nikmati atau bisa menjadi memori. Membaca tulisan saya lakukan dengan lamban. Berharap bisa menghormati penulisnya.

Berjalan di taman juga dengan lamban. Berharap bisa mensyukuri nikmat sehat. Mengunyah makanan juga lamban. Berharap bisa mengikuti contoh yang baik dari Rasul dan orang-orang suci. Konon, ini juga didukung penjelasan yang ilmiah.

Bahkan, kitab-kitab juga turun dengan lamban. Konon kitab Quran turun 22 tahun lebih 2 bulan. Sehingga, Rasulullah s.a.w hafal Quran di usia 60-an tahun. Beliau mulai menghafalkannya di usia 40 tahun. Sedangkan sekarang, banyak yang mengatakan “saya sudah tua, sudah terlambat, dan sudah lamban untuk menghafalkan”. Tema ini mungkin tidak cocok di tulisan ini ha ha… (dipaksakan.co.jp).

Kesimpulan saya adalah lamban melangkah adalah positif. Lamban memutuskan adalah positif. Lamban menikah juga positif. Lamban lulus kuliah positif juga. Apapun itu, lamban adalah positif.

Tokyo, 2022

Hari baik dan Hari buruk


Sebagai pengingat diri: apapun yang telah terjadi pada diri kita adalah hal yang baik. Apapun yang akan terjadi pada kita adalah hal yang baik.

Ini memang generalisasi yang super optimis. Namun, realitas adalah realitas, sedangkan apa yang terjadi pada diri kita (yang ku rasakan) adalah perspektif. Perspektif positif adalah baik secara subjektif.

Seorang anak keluar dari rumah menuju sekolah. Di jalan dia berlari dikejar anjing. Di gerbang sekolah, temannya mengejek. Saat ujian dapat nilai nol. Pulang sekolah dimarahi ibu. Malam harinya tidur kemalaman.

Itu adalah realitas. Secara pengalaman: bisa jadi sangat bervariasi.

Bagi anak yang (diajari) pesimis. Hari itu adalah hal buruk. Sudah bangun pagi merasa terpaksa, masih dikejar anjing merasa sial, diejek teman merasa marah, dapat nilai buruk, merasa bodoh, dimarahi ibu, merasa tidak berguna. Simpulan: hari yang buruk.

Bagi anak yang (diajari) optimis. Hari itu adalah hari baik. Sudah bangun pagi merasa prestasi pertama hari itu. Masih dikejar anjing, merasa senang punya teman binatang (lol), diejek teman merasa dekat dengan mereka, dapat nilai buruk, merasa perlu belajar lagi, dimarahi ibu, merasa disayangi. Simpulan: hari yang baik.

Apapun yang terjadi adalah perspektif subjektif. Seperti sains: Semua adalah indah pada teori, namun dihancurkan seketika dengan realitas. Namun, apakah manusia menyerah pada realitas? Tidak, kita terus menyusun teori dan terus melangkah maju. Sebab: hari ini adalah hari yang baik.

Chiba, 2022

Poin penting studi lanjut di LN


Selama menjalani program doktoral di Jepang ini, saya memiliki beberapa catatan yang tidak terkait dengan penelitian. Namun, ini sangat menentukan keberhasilan kita melangkah lebih jauh ke depan.

  1. Ekspektasi

Ekspekstasi orang lain adalah “milik orang itu” bukan hal yang perlu kita pikirkan. Bahkan, ekspektasi sensei adalah miliki beliau, bukan sesuatu yang mewajibkan kita untuk memenuhi ekspektasi beliau. Alih-alih memikirkan ekpektasi orang lain, fokus pada ekspektasi diri sendiri. Ini jauh lebih penting. Ekspektasi terlalu tinggi menyebabkan paralisis (tidak bisa bergerak), ekspektasi terlalu rendah menyebabkan malas. Ekspektasi juga sebaiknya terukur, bukan seperti “saya akan lulus”, tapi “saya pasti lulus, bisa 3 atau 4 tahun”. Lebih baik lagi kalau ukuran itu lebih rinci dan sederhana untuk dikerjakan, misal: satu hari review satu artikel dan menuliskan komentar atau pikiran tentang artikel itu.

2. Melawan diri sendiri

Saya tidak melihat bahwa yang paling “kejam” adalah diri saya sendiri. Sering kali saya melihat sensei, atau posdok, atau senior berlaku tidak adil atau merendahkan diri saya. Setelah tiga tahun berjalan, saya baru sadar bahwa orang lain memiliki perspektif-nya masing-masing, dan ketika saya merasa orang lain kejam pada diri saya, sebenarnya saya setuju pada dia. Ini berarti, saya yang paling kejam pada diri saya sendiri. Ketika orang mengatakan “kamu bodoh” kalau kita naik pitam, berarti kita menyetujuinya, kalau saya “berdamai” dengan diri sendiri, mau dikatai apapun bisa melenggang santai.

3. Progres atau hasil

Sering kali saya melihat hasil, hasil, dan hasil. Menariknya hasilnya adalah gagal, gagal, dan gagal. Dengan demikian, saya selalu merasa diri saya gagal, gagal, dan kegagalan itu sendiri. Padahal, tujuan belajar ada 4 tahapan: tidak tahu kalau tidak tahu, tahu kalau tidak tahu, tahu kalau sudah tahu, tidak tahu kalau tahu. Selama kegagalan itu mengajari saya bahwa sebelumnya saya tidak tahu dan sekarang saya tahu kalau, misal, metode X itu tidak berhasil, maka sebenarnya saya melangkah ke tahapan kedua. Well, ini abstrak ya.

4. Ada orang yang menanti kita

Entah itu orang tua, keluarga, atau teman, selalu ada yang menanti kita “apa adanya”. Mau berhasil penelitian atau gagal, mau dibantai saat zemi atau dipuji, mau dibully atau dipuji, orang yang menanti kita akan menerima kita “apa adanya”. Dengan demikian, melangkah musti positif, sebab dengan positif kita bisa bahagia. Bisa jadi di depan kita hancur dan sedih, tapi saat ini harus bahagia. Jangan sampai kegagalan, kesedihan selama di laboratorium terbawa ke keluarga atau penanti kita 🙂

5. Negative thinking positive action and positive feeling

Dulu saya selalu berpedoman pada worst case scenario. Alhasil, semua yang saya lakukan selalu penuh negative thinking. Lalu setelah mengikuti beberapa training, saya menjadi negative thinking positive action, membawa saya dari orang desa sampai kuliah S3, alhamdulillah. Kemudian, belakangan saya paham bahwa negative thinking dan positive thinking tidak harus bermusuhan. Saya bisa memikirkan hal terburuk yang bisa terjadi, lalu melakukan hal positif terbaik yang bisa saya lakukan, dengan sambil merasa bahagia saat melakukan aksi tersebut.

6. Memaafkan

Energi terbesar bukan ketika kita fit dan kuat, namun ketika hati kita bisa memaafkan siapapun yang bersalah pada kita. Memaafkan mengangkat beban terberat, dan menggantinya dengan sayap. Memaafkan mengubah pahitnya empedu, dengan manisnya madu. LoL, puitis yang nggak puitis kan. Yang jelas, saya belajar dan terus belajar untuk memaafkan. Terutama memaafkan diri sendiri. Ini paling berat.

7. Terus belajar

You know better than me in this respective.

Tokyo, 2022

Tentang Budaya Jepang: shizuka


Shizuka yang kita tahu adalah nama teman Nobita di film kartun Doraemon. Shizuka sendiri dalam bahasa Jepang berarti “tenang”. Selama 3 tahun saya hidup di Tokyo dan Chiba, budaya shizuka ini sangat terasa. Tentunya ada pengecualian seperti: harajuku, akihabara. Selain itu, semua terasa tenang.

Ada beberapa catatan yang saya peroleh di sini:

  1. Saat bekerja, shizuka berarti fokus dan menghargai orang lain. Memang di lab ada yang suka bicara, namun ketika bekerja semuanya akan shizuka, tanpa bicara sama sekali, bahkan pernah dalam sehari, saya hanya bicara “ohaiyougozaimasu” (selamat pagi) dan “shitsureishimashita” (pulang duluan). Awalnya aneh, lama-lama saya menikmati shizuka ini.
  2. Saat di rumah, shizuka berarti menghormati tetangga. Ada saja orang yang bercanda dan menembus suara ke rumah sebelah. Ada orang dari negeri seberang yang relatif “berisik”, dan berakhir pada pemutusan kontrak rumah.
  3. Saat di kendaraan, shizuka berarti menjaga kerapihan. Memang ada waktu desak-desakan masuk kereta. Memang ada yang bicara keras di dalam kereta, namun itu sangat bisa dihitung dengan jari tangan. Satu tangan.
  4. Saat sendirian, shizuka berarti… tidur. Oyasuminasai…. (selamat tidur).. wkk.. serius banget ya 3 di atas.

Tokyo, 2022