Redefinisi Produktif


Beberapa waktu silam, Cal Newport menulis dalam blognya mengenai tema yang menarik: kaitan antara slow dan productivity. Rupanya, banyak pekerja intelektual (misal: peneliti, guru, analis, dosen) mengalami apa yang disebut sebagai hidup 20%. Maksudnya, hanya 20% dari waktu yang dimiliki bisa dinikmati, selebihnya adalah pekerjaan yang menumpuk. Lalu, tercetuslah apa yang disebut sebagai slow-productivity.

Saya sendiri tidak terlalu paham mengapa tema ini menarik. Mungkin, karena banyak pengalaman personal yang “match” alias “klop” dengan definisi Cal sehingga saya menganggukkan kepala. Namun, kali ini saya ingin membagikan bagian komentar dari artikel itu, tentang review podcast Tim Ferris.

Kalau dari satu kota A ke kota B kita naik sepeda dengan “kerja keras”, terengah-engah nafasnya, juga tubuh sakit semua selama tiga hari setelahnya, dibandingkan dengan naik sepeda dengan santai, asal sampai, tapi tidak berarti malas-malasan dan berhenti sembarangan, tapi tetap melaju dengan kecepatan yang nyaman, kira-kira siapa yang akan menang? Jawabannya adalah yang “bekerja keras”, sudah pasti.

Namun, menariknya kalau ditanya berapa selisih waktu antara si “pekerja keras” dengan si “pekerja santai-fokus”? jawabannya mengejutkan 3 menit. Ya, hanya TIGA menit. Kalau disuruh memilih, saya masih memilih yang kedua: menikmati perjalanan, dapat manfaat kesehatan, tidak sakit tiga hari, dan masih bisa dikatakan menang (juara dua dari dua peserta hahaha).

Kembali pada tema produktivitas tadi, maka siapa yang lebih produktif: mereka yang “bekerja keras” dengan fokus, atau mereka yang “bekerja-santai-produktif (slow-productivity)? Jawabannya mereka yang bekerja keras dengan sedikit bar. Sehingga, kalau menjadi juara dengan mengorbankan kesehatan, waktu luang untuk diri dan keluarga, waktu untuk beribadah dengan tenang, dan waktu berdamai dengan diri sendiri, saya memilih kalah.

Todaimae, 2021

Ada: kamu


Ada letih yang tak henti menemani. Seperti bayang-bayang, meski lebih intim. Pada jalan senyap, hati yang gelap.

Ada perih yang sering terbuka-tutup. Seperti luka belum kering tak mau mengatup. Beda dikulit, di daging jantung.

Ada rindu, di pojok randu. Ke mana arah kutuju. Langkah letihku. Lukaku. Tak berujung, kecuali kamu.

kitazakae, 2021

Pikiran mengganggu Perasaan (atau sebaliknya?)


Masih sekitar berfikir, ada yang mengatakan bahwa pikiran itu diganggu oleh perasaan. Ada juga yang menyatakan sebaliknya, bahwa pikiran mengganggu perasaan. Manapun yang benar, saya merasa bahwa kedua hal itu tidak terpisahkan. Setidaknya saat tulisan ini dibuat.

Banyak (terlalu banyak) yang “harus” dikerjakan pada “satu waktu” terkadang membuat kita menjadi berhenti untuk mengerjakan apapun. Seperti tikus yang membeku di depan mulut ular berbisa. Otak berhenti karena “ketakutan”. Bedanya dengan si tikus, ketakutan yang sering kali saya alami adalah ketakutan yang saya buat sendiri.

Beranjak dari itu, saya teringat buku yang berjudul “Six thinking hats” yang pernah saya bahas di sini. Entah benar atau tidak, menurut si empunya buku itu, perasaan adalah “bagian dari berfikir”. Masalahnya, kalau dicampur dengan pikiran yang lain, menjadi tidak fokus.

Solusi dari masalah tidak fokusnya pikiran itu, saya biasanya menulis di buku. Fokus pertama saya, mengingat saya orang yang super introvert, adalah menuliskan semua perasaan saya sejujur-jujurnya (tips: tulis latin atau pakai kode kalau khawatir dibaca orang lain, yang penting bisa dibaca diri sendiri). Kemudian, saya beralih pada pikiran kedua, yaitu “fakta”. Setelah fakta, saya fokus pada “harapan” baru terakhir menuliskan “HAL KECIL APA YANG BISA SAYA LAKUKAN SAAT INI? (kaizen, saya pernah menyinggung di sini).

Setelah itu, saya membuat catatan 3-5 hal terpenting yang akan saya kerjakan hari ini, atau most important things (MIT) seperti yang saya pernah tulis juga di sini. Terakhir, untuk mengatasi paranoid saya yang super plus ditambah harapan yang berlebih akibat terlalu banyak jadi korban film kartun dan perfeksionisme yang dari dulu menghantui, saya mengerjakan semuanya dan bersiap untuk GAGAL. Prinsipnya “Bersiap dengan yang terburuk, lakukan yang terbaik SAAT INI” atau negative thinking positive action.

Di sela-sela kekhawatiran plus covid-19 yang makin menjadi di Tokyo, hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah: 1. just do it! well, nggak terlalu greget.

Tokyo, 2021

Cincin Besi


Cerita yang pernah saya dengar di rekaman kaset lawas milik kokoh saya masih terngiang di kepala. Tentang seorang Mullah (ulama) yang disebut Nashrudin.
Suatu hari, ia dipanggil oleh raja. Sang raja bertanya “Nashrudin, aku kan raja, tapi aku masih sering sedih dan kecewa. Apakah kamu tahu obatnya?”
Nashrudin berpikir sebentar sebelum memberikan si raja sebuah cincin besi lalu melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Si raja marah, tapi menahan diri karena memang perilaku si empunya cincin besi memang sering bikin ulah. Lalu, si raja melihat cincin itu sambil merenungkan pertanyaannya dan jawabannya. Tak selang berapa lama, si raja melihat tulisan di cincin itu yang mengatakan “INIPUN AKAN SEGERA BERLALU”.
Seperti mendapat pencerahan si raja memanggil ajudannya “berikan 100 keping uang emas pada Nashrudin”. Adjudant yang bingung berbalik sambil bertanya kenapa. Ia mengambil uang dan menyampaikannya pada Nashrudin. Si adjudant bertanya “itu cincin mahal sekali ya?” Nashrudin hanya mengangguk dan berlalu. Ya, cerita inipun juga segera berlalu.
Kesedihan dan kesenangan, kesehatan dan sakit, masa santai dan hectic, muda dan tua, kaya dan kehilangan uang, senang dan susah, semuanya adalah seperti cincin besi. Lingkaran yang utuh. Dan tiap kali kita mengalami satu hal, hal itu juga akan segera berlalu. Hal baik digantikan hal buruk, demikian juga sebaliknya.
Menyikapi hal itu, hal terbijak yang bisa kita lakukan adalah seperti Nashrudin “diam dan melenggang”, sebab Nashrudin tahu uang yang ada di tangannya juga akan segera “berlalu” ketangan istrinya. LoL.

Tokyo, 2021

Serius Beristirahat!


Semalam tidur jam 1 bangun jam 4 (3 jam) setelah seharian kemarin ngelab habis-habisan. Perasaan seperti “pahlawan” di bulan Agustus tanggal 17 kemarin, akhirnya berbuah pada hari ini. Sayangnya, buah dari kerja keras dan mengorbankan istirahat adalah: kelelahan, negative thinking, pesimis, dan depresi ringan.

Boleh dibilang bekerja bisa berdampak positif pada kehidupan saya. Namun, kurang istirahat juga dipastikan berdampak negatif. Bahkan, ada buku yang menyampaikan bahwa kurang istirahat berkorelasi positif dengan penyakit mental seperti depresi. Sehingga, hari ini saya menelan pil pahit dari “kerja keras” yang tidak cerdas kemarin.

Setelah ditimbang-timbang, kerja keras itu tidak selalu baik. Kerja yang kontinyu dalam jangka waktu yang panjang, mungkin ini pola yang paling cocok bagi saya. Marathon, bukan sprint.

Berkaca dari pengalaman hari ini, saya memutuskan untuk mengambil istirahat dengan serius. Seserius mengambil pekerjaan laboratorium. Hal ini dikarenakan, menganggap sepele istirahat juga setara dengan menganggap enteng pekerjaan penelitian. Saya memilih untuk serius untuk istirahat.

Lucu memang, biasanya serius untuk bekerja, tapi siapa yang main-main dengan pekerjaan? Banyak orang (termasuk saya) bermain-main dengan istirahat. Menganggap istirahat adalah buang waktu dan non-produktif. Nyatanya: 3 jam tidur justru membuat waktu penelitian saya (8-10 jam) hari ini terbuang sia-sia karena fisik dan mental yang drop!

Semoga rekan-rekan juga SERIUS dalam BERISTIRAHAT ya.

Tokyo, 2021

Produktif dinilai dari apa?


Nilai ukuran produktif sering diartikan sebagai “jumlah produk” yang dihasilkan. Dengan definisi ini, maka sesuatu yang tangible seperti produk, barang, atau jasa yang dihasilkan dalam satu-satuan waktu dianggap sebagai satu-satunya ukuran. Bahkan, sering kali ini menjadi tolok ukur untuk menilai seseorang itu produktif atau tidak.

Mengacu pada definisi di atas, kaum intelektual seperti guru, dosen, peneliti menjadi terpacu untuk mengejar jumlah per satuan waktu. Sering di kafe saya mendengar “berapa jurnal yang sudah kamu hasilkan?” “Jam mengajarmu berapa semester ini?” atau “buat buku lagi tahun ini ya?” Atau pertanyaan sejenisnya.

Salahkah berfikir demikian? tentu saja tidak. Mengingat belakangan ini pemerintah juga menggembor-gemborkan tentang world class university dan sejenisnya, maka jumlah publikasi, jumlah dosen bergelar doktor, jumlah mahasiswa asing, jumlah dan jumlah menjadi ukuran yang kasat mata.

Saya kemudian berkaca pada beberapa buku yang belakangan ini saya baca ringkasan atau review-nya dari berbagai sumber. Menariknya, ada jurang pemisah yang jelas antara jumlah dan kualitas. Antara kuantitas dan keabadian. Memang absurd, tapi memang demikian karya-karya fenomenal jarang dihasilkan dari mengejar jumlah. Mereka menghasilkan karya dalam waktu yang lama, dengan renungan yang mendalam, dan proses yang panjang.

Apakah orang yang “tidak produktif” seperti mereka akan dihargai di masa kini? Tentunya mereka sudah dipecat. Ha ha.

Ngalorngidurlgakjelas.com

Penting ya istirahat?


Terkadang, yang saya rasakan belakangan ini adalah “merasa menyia-nyiakan waktu”, tidak produktif, dan sia-sia. Ini bukan perasaan negatif semata, namun lebih menjurus pada pertanyaan mendasar “apakah saya bermakna?” di kehidupan ini.

Jawaban sementara atas pertanyaan itu justru saya temukan pada sebuah buku berjudul Rest: Why You Get More Done When You Work Less. Argumentasi yang disediakan oleh Alex adalah belakangan ini manusia relatif menghargai “kerja keras”, “banting tulang”, “keringat dan darah yang bercucuran” daripada “beristirahat”.

Secara logis (atau intuitif), saya juga menyadari dan meyakini hal itu. Pasalnya, semakin kerja keras, semakin baik hasilnya. Juga “semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, semakin banyak dan bagus hasil yang diproduksi”.

Well, rupanya itu hanya perasaan saja. Faktanya, hanya segelintir orang yang bekerja keras menghasilkan banyak. Fakta lain menunjukkan ada yang seolah-olah “tidak bekerja keras” karena pulang lebih cepat, punya waktu untuk keluarga, bisa jalan-jalan, dst ternyata juga menghasilkan banyak. Kesimpulannya: kerja keras tidak selalu identik dengan hasil.

Argumentasi berikutnya disampaikan oleh bapak Neuroscience modern Santiago Ramón y Cajal yang (kalau gak salah ingat) menyampaikan bahwa waktu istirahat juga penting untuk kinerja otak. Maksudnya (mungkin), istirahat itu juga “bekerja” bagi otak, bahkan mungkin lebih keras dibandingkan kerja fisik di tempat kerja. Sehingga, orang yang sepertinya “santai” bisa jadi menghasilkan produk yang lebih bagus daripada yang sepertinya “banting tulang”.

Kalau disintesis, sebenarnya orang yang “bekerja keras di jam kerja” dan mengambil waktu “istirahat (produktif)” relatif lebih menjamin hasil daripada yang hanya memilih satu diantara keduanya. Pasalnya, kerja keras pada rentang waktu tertentu diperlukan untuk membuka jalan sampai akhirnya menemukan jalan buntu. Dan istirahat yang produktif, akan menemukan jalan tikus, retakan tembok, atau alternatif untuk menembus jalan buntu itu.

Lalu, pertanyaannya istirahat yang produktif itu seperti apa? apakah tidur 13 jam a la Einstein? atau menyendiri di tengah hutang a la Thoreau? Atau menggambar a la Cajal? atau apa?

Alex menunjukkan bahwa apapun yang disebut sebagai “hobi” adalah istirahat. Meskipun di buku yang sama ia menyarankan untuk mengambil waktu istirahat yang “tranquil”, yang tanpa gangguan, tanpa buka layar hape, tanpa ngobrol dengan siapapun (bahkan ngobrol dengan diri sendiri juga tidak). Pasalnya, ini akan membuka banyak hal yang bagus bagi “kerja” kita.

Apakah waktu istirahat cukup? Sepengetahuan saya selama di Tokyo dua tahun ini, orang-orang sepertinya tidak mengambil waktu istirahat yang cukup. Budaya face time sangat kenthal sehingga kalau pulang lebih awal dianggap “tidak kerja keras”. Juga waktu libur musim panas hampir tidak pernah diambil oleh teman laboratorium. Sabtu-Minggu orang kerja di lab mati-matian juga. Tidak ada waktu untuk istirahat. Apakah ada hasilnya?

Pengalaman di sini menunjukkan ada dua polar yang berbeda. Satu yang super kerja keras, satu polar yang biasa-biasa kerjanya. Apa hasil yang mereka hasilkan? bagi yang bekerja mati-matian pagi sampai tengah malam senin sampai Minggu, selama dua tahun ini belum menghasilkan publikasi (atau maksimal 1 publikasi). Sedangkan yang biasa-biasa saja justru menghasilkan produk yang lebih banyak, setidaknya 1 publikasi di jurnal Nature Chemical Biology dan 2 publikasi di jurnal lain. Akan tetapi, orang yang kerja keras relatif dihormati dibandingkan yang biasa-biasa saja.

Saya jadi bertanya: bekerja apa yang dicari? Hasil atau penghargaan? Nah, setelah saya pikir-pikir, saya tidak perlu dihargai karena sudah dapat dari keluarga tercinta (LoL), so, kerja a la Rest: why You Get More Done When You Work Less cukup meyakinkan saya.

Tokyo, 2021

Menerima atau Menolak?


Bagi saya, menerima atau menolak sesuatu adalah hal yang sangat sulit untuk diputuskan. Hal ini dikarenakan semenjak kecil sudah selalu diajari “nerimo ing pandum” atau menerima apa adanya. Sehingga, menolak merupakan sesuatu yang tidak pantas atau bahkan bisa dibilang “saru”.

Tapi, seiring dengan waktu, saya menjadi orang yang selalu “menerima” alias “push over” dan bahasa lain bisa juga disebut “manutan”. Ketika disuruh A, siap, ketika disuruh B oke, ketika disuruh C laksanakan. Alhasil, sebagian waktu saya “hilang” untuk menuruti apa yang disuruh dan diperintahkan oleh orang lain. Saya kehilangan arah.

Dampak buruk dari selalu menerima saya alami di dalam hati. Nama dampak itu adalah “tidak siap menerima penolakan” karena anggapan saya semua orang juga sama-sama “nerimo”. Mind set ini belakangan menjadi momok besar dalam hidup karena rupanya orang lain tidak suka menerima, orang lain banyak yang lebih suka memberontak. “sial”-nya, karena mereka menolak dan memberontak, banyak pekerjaan yang bukan pekerjaan saya digelontorkan ke saya. Keluarga, personal, dan waktu untuk spiritualitas bisa dibilang menipis dan makin jauh dari jangkauan.

Di sela-sela pekerjaan laboratorium yang tak kunjung berkurang ini, saya merenungkan dua hal itu dan akhirnya menemukan sebuah titik. Bahwa menerima bukan berarti menerima semuanya. Menerima penolakan, menerima diri sendiri ketika menolak ajakan dan perintah orang lain juga berarti “nerimo”, menerima. Bahwa menerima bukan berarti “manutan” dan menjadi orang yang “yes man”.

Tapi, bagaimana dengan menolak?

Menolak adalah hal yang tersulit dalam hidup. Menolak ajakan pikiran untuk menonton satu film lagi, satu chapter manga/komik lagi, satu chapter novel lagi adalah tantangan berat. Seperti menolak ajakan makan gratis teman pada saat diet merupakan dilema yang tak berujung. Lol.

Meskipun demikian, setelah dipikir-pikir sebenarnya menerima juga sama dengan menolak. Demikian juga sebaliknya. Contohnya: disuruh untuk mengerjakan A, padahal sebenarnya tidak mau. Maka ketika mengerjakan (menerima), sebenarnya dia menolak kemauannya sendiri. Demikian juga sebaliknya, ketika menolak perintah A itu, sebenarnya dia menerima kemauannya sendiri. Jadi, menerima dan menolak selalu pada dua sisi satu keping mata uang (mbulet ya wkk).

Lalu, saya menyikapi dua pilihan itu dengan satu hal yang sederhana: risiko. Saya bertanya “risiko apa yang saya mau terima ketika memutuskan ini?”

Misal: -Ambil libur Natsu yasumi (liburan musim panas) atau tidak.

Risiko kalau tidak ambil: kelelahan secara fisik dan mental, depresi ringan atau menengah, menyesal dan tidak optimal kerja

Risiko kalau ambil: pekerjaan penelitian tertunda selama seminggu, dianggap tidak kerja keras oleh teman lab, khawatir dijauhi teman lab.

Berhubung saya siap menerima risiko ke dua dan tidak siap depresi, saya memutuskan ambil liburan. Peduli amat dengan pekerjaan yang tertunda, peduli amat pandangan orang, saya siap menerima risiko itu.

So kesimpulannya:

  1. menerima dan menolak adalah dua muka satu mata uang.
  2. Menerima atau menolak sama-sama memiliki risiko
  3. Mengambil risiko yang siap diterima, lalu memutuskan adalah salah satu cara terbaik ketika memutuskan sesuatu (menurut saya sih, lol)

Kairaku, Chiba-ken, 2021

Kekhawatiran dan Harapan


Bingung mau nulis apa di dinding ini. Tiba-tiba ingat tentang kematian seorang sahabat dua hari silam karena terkena Covid-19. Sedih, kaget, bingung, sekaligus khawatir. Sedih karena obrolan dan candaannya nggak bakal bisa didengar lagi, kaget karena demikian mendadak, bingung karena jauh dari rumah duka tidak bisa berbuat apapun, khawatir dengan keselamatan keluarga di tanah yang jauh.

Semoga semua diberi keselamatan, jalan terbaik, dan kesabaran. Keselamatan lebih utama daripada dekat jauhnya tempat tujuan. Karena jalan terbaik bukan selalu jalan yang kita mau dan harap-harapkan, melainkan jalan yang telah ditentukan kebaikannya oleh-Nya. Dan kesabaran adalah satu-satunya kunci yang kecil, tak terlihat, sekaligus paling menentukan di kehidupan.

Tokyo, 2021

Pengalaman Studi Di Jepang (warning curhat)


Warning: curhat

Tulisan ini sebagai pengingat bagi diri sendiri, dan siapa tahu bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya bagi yang hendak melanjutkan studi di luar negeri bersama keluarga. Sebab ini mungkin bisa dikatakan curahan hati setelah merenungkan apa yang saya alami. Saya yakin, tiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dan tak ada yang bisa disamakan sehingga mungkin hanya sebagai pengingat saja.

  1. Kuliah di luar negeri bersama keluarga itu tidak seindah postingan IG, FB, dan medsos lain

Banyak mahasiswa yang studi di luar negeri dan posting di medsos tentang jalan-jalan. Seperti postingan saya tempo hari ketika jalan-jalan ke Tokyo Skytree. Atau indahnya bunga sakura ketika mekar. Foto ketika tulip bermekaran di Yokohama. Kerlap-kerlip kembang api di Natsu yasumi. Atau bergaya di depan Sensouji. Namun, kalau boleh jujur, kuliah di luar negeri tidak melulu jalan-jalan. Sebaliknya 90-99% waktu habis di depan meja laboratorium untuk seminar, penelitian, sedikit banyak mendapat “kata-kata mutiara (baca ijime) dari senpai, posdok, sensei. Hanya saja, bagi yang sedang di sini tidak sanggup untuk menceritakannya di media sosial. Bisa-bisa mengganggu ketenangan keluarga yang masih di tanah air bukan?

2. Kuliah di luar negeri pasti lulus dan kembali dapat pekerjaan

Sekali lagi tidak. Saya memiliki teman yang studi di Jepang dan setelah 4 tahun baku hantam dengan penelitian masih dinyatakan “belum layak” untuk lulus. Alhasil kembali ke tanah air tanpa gelar (meskipun jelas membawa ilmu). Jadi, kuliah di luar negeri, sudah bersikeras berjuang, jauh dari nasi padang, sate, mie ayam dan bakso, masih ada risiko untuk kembali tanpa gelar. Masih lagi pekerjaan, tentunya ini menjadi topik tersendiri yang perlu dibahas lebih dalam. Mempertimbangkan penyetaraan kebutuhan, karakteristik personal, keterampilan mencari pekerjaan, dan seabreg tema lain.

3. Kuliah di luar negeri punya uang banyak

Wow, ada yang seperti itu? Saya kaget kalau iya. Mungkin beliaunya bekerja sambilan (dan tentunya mengorbankan waktu istirahat yang berharga), atau mendapatkan hadiah? Kalau boleh dibilang kurs tidak berlaku di sini. Beasiswa yang saya peroleh sekitar 148 ribu yen (sekitar 15-18 juta rupiah perbulan) bisa membuat mata membelalak bagi yang belum tinggal di Tokyo. Giliran saya bilang uang kos 8 juta, transportasi ke kampus 2 juta, makan 3 juta, bayar asuransi kesehatan 500 ribu berempat, plus keperluan anak untuk sekolah bla bla bla, jumlah itu bisa dibilang sangat “mepet”. Setelah sedikit iseng saya hitung dengan biaya hidup di Surabaya, beasiswa ini setara dengan uang 3 juta tinggal di Surabaya. So, apa uang banyak? relatif ha ha.

4. Kuliah di luar negeri seru ya

Hm… kalau yang ini, memang seru sih. Terlepas dari satu tahun pertama yang membuat “depresi”, frustasi, hampir menyerah dst (ini pengalaman kolektif dan pengalaman pribadi), selebihnya seru. Meskipun ada risiko menjadi terbiasa dengan kultur di luar negeri seperti ketertiban, tepat waktu, antri, tertib administrasi, tenang, tidak banyak bercanda, dst yang ketika dibawa pulang ke negeri sendiri bakal jadi “aneh” dan menginisiasi anggapan “sombong”, “sok pintar”, dan “sinis” wkk… Padahal, kalau boleh jujur tidak ada niatan sama sekali untuk itu, tapi mungkin kebawa budaya “asing” di negeri “asing”. Jadi, perlu penyesuaian lagi untuk bisa “ngopi bareng” “bercanda tanpa tedeng aling-aling”, dan “nyumbang ketika ada gawe”. Lol.

Selebihnya, bisa dilanjutkan di lain waktu ya. Ini waktunya menyelesaikan digestion check 10 strain bakteri, isolasi genom dan cek PCR siapa tahu bisa dikloning besok, memotong plasmid untuk memasang gen SARP besok, laporan seminar bulan depan yang masih 10% selesai, progress report yang menumpuk, barusan mendapat “kata-kata mutiara” dari posdok, dan dapat “granat” dari sekolahan anak karena anak saya dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran (terutama kanji), dan serangkaian pikiran lain yang kalau tidak disortir dipastikan saya pulang dan menginap di RSJ. Jadi, selamat berburu beasiswa ke luar negeri dan jangan lupa bersiap mental untuk itu. He he.. Peace…