Ibu


Aku bukanlah anak dari pikirmu
Meski serupa bayi,
Terus kuhisap air susu idemu
Dan seiring waktu berjalan
Kau telah merasa
Sebagai ibuku
Sedangkan aku telah tumbuh
Sebagai perawan -jejaka
Dan merasa telah merdeka darimu

Lihatlah lihat aku
Kini tengah membeku kaku
Sempat kulihat dan kurawat
Ide-ideku tumbuh
Sebagai anak, jejaka-perawan baru
Dan sepertiku dulu
Telah mencampakkanku si ibu

Sumenep-pamekasan, 2016

Pengendalian diri dalam riset


Hal yang sudah wajar kita saya lakukan adalah menargetkan publikasi internasional pada jurnal bereputasi. Selain hal tersebut akan meningkatkan reputasi keilmuan seseorang, publikasi internasional juga memungkinkan project riset baru dapat di raih. Hal ini berarti menguatkan institusi dan laboratorium atau lembaga dimana kita berada. Meskipun demikian, terkadang kita saya terlalu berambisi dengan ide kompleks.

Saya sendiri menyadari bahwa hal tersebut tidak salah. Jurnal internasional menginginkan riset yang baik dan komprehensif. Namun, ambisi yang terlalu besar membuat penelitian yang dilakukan berkesan mengada ada tanpa alasab riil atau bahkan seperti pasar tradisional yang menyediakan semua data tanpa satu tujuan yang jelas. Kalau boleh disebut, penelitian seperti ini adalah penelitian gado-gado. Asal campur yang penting pakai bumbu kacang.

Hasil dari penelitian model ini juga seperti bumbu gado-gado tersebut. Dikacangi oleh reviewer. Diskusi yang berlangsung kemarin dengan Prif Indra Jaya (IPB) dan Dr. Carsten Thoms (DAAD) menunjukkan hal yang sama sekali berbeda. Suatu riset harus diperhatikan dengan seksama. Pertanyaan tujuan apa jauh lebih relevan dibandingkan sebanyak apa yang kita bisa berikan. Oleh karena itu, rancangan penelitian yang baik serta novelty menjadi lebih urgent untuk kita pikirkan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sering ditanyakan bagaimana agar penelitian kita relevan? Jawabannya adalah jawaban klise yang semua orang sudah tahu: membaca banyak artikel jurnal ilmiah yang banyak. Ada yang mengatakan perlu membaca minimal 10 artikel ilmiah sebelum menulis proposal skripsi. Beberapa yang jauh lebih senior mengatakan 100 artikel. Nah, kalau menurut saya yang lebih tepat adalah membaca sebanyak banyaknya hingga menemukan state of the art penelitian kita sendiri. Selamat berfikir kembali.

Asrama internasional IPB, 2016

Menulis abstrak MST CAREER


Hasil diskusi di MST CAREER hari ini lebih banyak saya tangkap mengenai abstrak. Abstrak pada penelitian memiliki fungsi yang tidak dapat digantikan oleh apapun, baik pendahuluan, metode ataupun hasil dan pembahasan. Abstrak merupakan wajah dari penemuan yang telah dilaksanakan. Meskipun demikian, banyak peneliti menganggap abstrak sebagai hal yang remeh.

Sebaliknya, abstrak justru digunakan sebagai bahan baku utama untuk menentukan apakah penelitian yang dilakukan pantas untuk diberikan perhatian, pendanaan, diskusi lebih lanjut, ataupun kolaborasi riset. Lebih lanjut Prof Indra Jaya menyampaikan bahwa hal utama ketika beliau menjadi reviewer dan menentukan sebuah proposak akan dibiayai atau tidak adalah abstrak.

Dr. Thoms, salah satu pembicara inti dalam workshop ini menyampaikan strategi untuk menentukan apakah penelitian yang dilakukan sudah baik atau belum. Hal tersebut ialah:

1. Tujuan/pertanyaan ilmiah apa yang ingin dijawab melalui penelitian ini?
2. Bagaimana metode penelitiannya?
3. Apa hasil utama penelitian ini?
4. Apa relevansi dengan dunia lebih luas?

Meskipun demikian saya tidak dapat memberikan penjelasan lebih komplit. Hal ini dikarenakan menyusun abstrak sebuah kegiatan praktik, bukan teori. Ada baiknya belajar langsung kepada mereka yang ahli dalam menyusun karya ilmiah level internasional.

Asrama internasional IPB, 2016

Berdiskusi dengan Dialog


Berdiskusi merupakan hal yang umum digunakan untuk tujuan tertentu, semisal menyusun panitia, menyelesaikan konflik, menyelaraskan visi, bahkan untuk urusan kecil seperti baju apa yang cocok untuk datang kondangan. Meskipun demikian, sebagian besar teman yang saya ajak diskusi berhenti pada kesepakatan sebelum diskusi itu berjalan. Sebagai contoh, pernah saya mengajak dua orang teman untuk mendiskusikan masalah praktikum x. Ia nampak mendengarkan, namun begitu saya tanya pendapat ia hanya menjawab “ya begitupun gak apa apa”.

Alih-alih sekedar menjadi “gak apa apa” saya sebenarnya berharap ada buah pikiran atau sudut pandang baru. Saya sendiri menyadari bahwa saya masih jauh dari kualifikasi untuk memutuskan. Oleh karena itu, dengan berdiskusi saya mengharapkan ide, gagasan, makna, atau perspektif yang baru mengenai sebuah masalah yang ada. Tetapi, apabila tanggapan rekan diskusi masih pada tahap non responsif atau acuh tak acuh, maka hal tersebut tidak dapat diperoleh.

Mengenai hal ini, saya melihat dan merasakan bahwa ada kendala personal untuk berdiskusi. Hal ini juga membuat saya mendengarkan kata hati saya yang bertanya “mengapa diskusi menjadi menakutkan bagi kelas? Di sisi lain, mengapa mereka begitu aktif di media sosial dan warung kopi? Apakah faktor-faktor ‘lepas’nya pikiran dalam berdiskusi? Apa yang bisa saya lakukan? ”

Jawaban dari pertanyaan itu terus saya cari hingga saat ini. Sebuah titik terang sempat saya lihat dari sebuah buku yang menceritakan tentang Socrates. Ia bermuka jelek, tua, pemalas, namun fokus pada diskusi yang fundamental dalam bentuk dialog. Ada hal yang masih belum dikuasai untuk menghidupkan diskusi di kelas, salah satunya adalah kemampuan dialog.

Kemampuan dialog sendiri masih sangat jarang dipelajari. Orang-orang seperti Socrates lebih banyak mengandalkan pada kemampuan bawaan untuk berdialog sedankan orang seperti saya memerlukan lebih banyak berlatih. Berkaitan dengan pertanyaan dan kemampuan dialog, diskusi di kelas semestinya lebih lepas, tanpa batasan yang terlalu kaku, serta penuh dialog. Meskipun demikian, dialog hanya terjadi kalau kedua belah pihak merasa dan menyadari satu hal yang sama. Oleh karwna itu, salah satu hal penting yang perlu dilakukan sebelum memulai diakog adalah memaparkan secara jelas sebuah tema yang akan didiskusikan serta diiringi dengan niat yang jujur untuk mendapatkan solusi. Dengan demikian, suasana dialog akan hidup dan membuka ide baru yang menanti untuk dikonfirmasi di masyarakat, software, kolam percobaan, meja laboratorium, dan kelas atau lebih luas dari itu semua.

IPB 2016

Universitas


Universitas

Uni

Unity

Versi

Sitas

Mungkin ini kenapa universitas pinginnya menyatukan banyak hal dalam satu rangkaian kejujuran.

Kembali ke mikrobiologi dan bioteknologi


Besok saya akan mengajar mata kuliah pengolahan hasil perikanan dengan tema fermentasi. Berbicara tentang fermentasi, saya jadi teringat penelitian s1 dan s2 saya yang dua-duanya berkutat tentang fermentasi ikan. Penelitian s1 saya tentang isolasi dan identifikasi khamir dan kapang pada proses produksi kecap ikan,  sedangkan pada penelitian s2 mengenai bakteri asam laktat ada produk fermentasi ikan tradisional.

image

Kedua penelitian itu telah menjadi batu pijakan untuk bidang yang saat ini saya coba kembangkan: mikrobiologi dan bioteknologi kelautan. Oleh karena itu, saya membentuk grup riset dengan nama Microbiology and Biotechnology Research Group (MBRG). Meskipun demikian, saya merasa waktu untuk melakukan passion saya teramat pendek. Ada harapan besar dalam dada saya untuk dapat melakukan lebih banyak riset daripada tugas administrasi. Sebab, administrasi tidak akan habis, sedangkan waktu untuk penelitian dapat habis.

Kembali ke mikrobiologi dan bioteknologi.  Ini adalah harapan besar saya dalam berkiprah di dunia. Bukan untuk mendapatkan sanjungan ataupun penghargaan, namun menawarkan solusi bagi bangsa melalui bidang keilmuan spesifik kita. Apapun itu.

(Rumah-persiapan ngajar)

Memilih topik penelitian skripsi


Topik penelitian skripsi biasanya menjadi bahan pikiran tersendiri bagi beberapa mahasiswa yang bertemu saya untuk berdiskusi. Beberapa sudah memiliki judul, beberapa baru punya keinginan suatu tema, yang lain malah sama sekali belum kepikiran. Pertanyaan umum yang muncul adalah bagaimana cara menemukan tema skripsi yang mudah, murah, dan berbobot.

Saya jadi teringat nasihat almarhum dosen saya, Dr. Iwan B Lelana mengenai tema skripsi. Beliau mengatakan pada saya

“mas…mas.. ndak ada skripsi yang gampang. Kalau menjalankan penelitiannya gampang, ngolah datanya sama ngebahasnya sulit. Kalau teori dan datanya gampang, penelitiannya yang sulit. Penelitian adalah suatu kompleksitas”

Berawal dari penjelasan tersebut saya pernah berdiskusi dengan dua orang dosen dari Riau. Mereka masih muda, namun visi mengenai riset sangat kuat. Hasil diskusi itu kalau boleh saya simpulkan adalah mengenai tujuan apa yang akan kita capai dengan penelitian itu, apakah memperoleh produk, optimasi produksi, atau pengetahuan dasar untuk dapat dikembangkan lebih jauh.

Saya juga teringat sebuah nasihat dosen saya pada mata kuliah Best Research Practices yang mengatakan:

Telitilah apa yang dibutuhkan bangsa kita, bukan apa yang kamu butuhkan.

Serupa dengan nasihat beliau, ada juga yang mengatakan telitilah apa yang dibutuhkan rakyat, bukan apa yang diminta industri.

Dengan demikian, tema skripsi dapat beragam degan satu tujuan: Kemandirian sebuah bangsa. Tidak logis kalau kita sampai saat ini hidup di tanah ini, menghirup udara gratis, makan dari tanaman yang tumbuh di tanahnya, dan mendapatkan fasilitas umum yang dibiayai oleh uang rakyat, namun kita tak memikirkan rakyat. Kalau kata mistis, bisa kualat. Namun, secara logika saya bisa mengatakan orang seperti itu akan terjebak dengan ambisinya. Lupa akan hakekat diri dan mengalami tekanan yang lebih dalam dirinya sehingga musibah dapat menimpa.

Jadi, apabila kita tengok lebih jernih, tema skripsi apa yang cocok untuk diteliti? Adalah sama dengan pertanyaan masalah apakah yang dihadapi oleh rakyatku? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelesaikannya? Kalau tidak bisa diselesaikan, hal apa yang bisa kutawarkan sebagai sebuah solusi?

(Rumah subuh kamar tamu)

Gelombang


Gelombang dijiwaku
Karang-karang remuk
Dan telisik pepasir di pantainya
Mengabur tanpa bentuk
Dalam gelap bertumpuk
Tak lagi kukenali

Menjadi manusia pembelajar


Saya melihat bahwa menjadi manusia paripurna memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar gelar. Untuk menjadi manusia aripurna diperlukan keterampilan jiwa, pikiran dan sosial yang memadahi untuk mengwmbangkan diri dan masyarakat yang berinteraksi dengan sang diri agar jauh lebih baik. Dengan kata lain,pembelajaran yang diberikan dalam dunia pendidikan semestinya mampu membangin ketiga aspek tersebut.

Bagaimana membangun jiwa atau mental? Mengingat kata Konfusius, aku mendenfar dan aku lupa,aku melihat dan aku ingat, aku melakukan dan aku paham. Maka untuk menanam mental yang kuat tidak hanya dari nasehat semata,namun harus sampai level mengalami. Untuk hal tersebut, maka diperlukan kemampuan untuk menghadapi masalah secara langsung, face to face dan penuh keberanian. Untuk hal ini, saya berusaha meniru apa yang telah dilakukan oleh para guru zaman dahulu, yaitu memberikan tugas yang kelihatannya tidak mungkin dikerjakan. Namun, sejatinya manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dan ini terbukti. Banyak mahasiswa mengeluh ketika saya tugaskan untuk mwmbaca buku dan menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku tersebut secara lisan. Alhasil beberapa mahasiswa gagal pada pertemuan pertama. Namun, pada tugas berikutnya tak ada satupun yang tak lolos. Berhasil, mereka bisa.

Meskipun demikian, lolos di tahap pertama hanya bisa membuka kapasitas. Kapasitas musti ditingkatkan karena kapasitas yang ajeg hanya untuk mereka yang berhenti belajar. Bagaimana meningkatkan kapasitas? Saya mengajarkan pada mahasiswa sebuah permasalahan yang baru dan belum pernah ditemui. Dengan terbukanya kapasitas, ternyata mayoritas dari mereka langsung bisa beradaptasi dengan masalah baru tersebut.

Terakhir, menjadi manusia pembelajar berarti harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam istilah Bung Hatta, seorang mahasiswa harus dapat bertoleransi dengan berbagai ide, tanpa harus terpengaruh. Unsur sinergis jauh lebih diutamakan, oleh karena itu, diskusi adalah sebuah keniscayaan.

Demikianlah tiga hal yang harusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Manusia manusia pembelajar yang akan menjadi pembangun bangsa. Manusia manusia pembelajar yang tak akan curang ataupun menyerah. Manusia manusia pembelajar yang akan menegakkan panji kebesaran kita sebagai sebuah bangsa.

*ruang baca fpk unair.

Letihku


Letihku
Bersabarlah padaku
Seperti seorang kekasih
Menantikanmu pulang
sebab
Aku tak tahu
Betapa jauh jarak tempuh
Serta gelombang menghadang
Namun
Aku tahu kau cukup punya sabar
Buat menanti
Sebait doa lagi

(Mushola)