Sepotong Waktu


To: st-rmdoni

Sepotong waktu
kusimpan di saku
bersama namamu

seiring bunga mekar
waktupun mekar
meresap di dadaku
memanggil namamu

: bila tetiba dua menyatu
satukah ini waktu?
bila tetiba dua memisah
pisahkah dua jiwa?

seperti setetes air
berjuta ikatan bulir
dua jiwa mengalir
seiring sejalur
: cinta kita

Tokyo, 2019

Advertisements

Seri Kuliah Heruiwak: Titrasi


Setelah membaca cerita ini semoga bisa sedikit mendapatkan gambaran tentang:

  1. Prinsip Titrasi
  2. Video Titrasi
  3. Pelajaran Hidup

Hm, memang kalau boleh jujur melihat biokimia dan sejenisnya membuat mata semakin berat dan bantal guling demikian menggoda. Dan, itu semua berubah ketika saya mulai mempelajari cara belajar metode Feynman. Feynman adalah seorang ilmuwan Amerika di bidang fisika teori dan mendapatkan Nobel. Ia bukan orang yang paling jenius, namun mampu menjadi “jenius’ karena menggunakan metode belajar yang tepat. Lebih lengkap mungkin bisa di baca di sini.

Nah, pertama saya membuat catatan tentang biokimia dengan menggunakan metode tersebut, saya mulai memahami prinsip, dan mulai dari prinsip itu menjalar pada “ketagihan” belajar. Jadi, belajar mulai menjadi kebutuhan. Pada artikel ini saya ingin menceritakan apa yang saya pahami tentang Titrasi, pKa, persamaan Henderson-Hasselbach, dan pI dari peptida.

Titrasi

Titrasi memang bukan hal inti yang ingin saya ceritakan disini, namun ini adalah pemantik awal yang membuat saya tertarik pada bagian ini. Titrasi dengan asam-basa dan menghasilkan warna sudah biasa dilakukan di laboratorium, bukan? Namun, apakah kita tahu prinsipnya? ini pertanyaan awal saya. Setiap kali melakukan titrasi yang ada dikepala saya hanya menghitung angka yang nantinya digunakan sebagai data. Bukan mencari tahu apa sebenarnya yang ingin saya tahu.

Lalu, pada saat membaca lebih lanjut tentang titrasi, mulai terlihat prinsip pertukaran ion H atau OH. Pertukaran ion yang saya pahami adalah pertukaran elektron yang dikirimkan/dilepaskan oleh suatu molekul ke lingkungan yang menyebabkan lingkungan tersebut asam atau basa. Asam adalah ketika ion H lebih banyak, dan sebaliknya dengan basa.

Apa masalahnya dengan H dan OH? ini pertanyaan berikutnya. Sebenarnya kedua ion itu sangat mempengaruhi kondisi molekul. Masih ingat bahwa protein memiliki bentuk dua dimensi atau tiga dimensi? Stabilitas conformasi atau bentuk protein sangat ditentukan oleh “interaksi” internal di rantai peptida yang menyusun protein itu. Artinya, ketika terjadi perubahan ion di lingkungan, peptida akan menyesuaikan interaksi antar residu asam amino dan berakibat pada perubahan bentuk. Perubahan bentuk berarti perubahan fungsi. Bisa semakin baik, atau semakin buruk. Bentuk = fungsi.

Lalu, memahami pentingnya ion H dan OH dalam lingkunan, maka berikutnya adalah bagaimana mengukurnya? Sebenarnya sudah sering kita lakukan, namanya adalah mengukur pH. pH didefinisikan sebagai kemampuan lingkungan untuk menangkap ion H, oleh karenanya pH asam (rendah) berarti sulit menerima ion H dan lebih menyukai menerima ion OH agar lebih “stabil”, dan sebaliknya. Jadi semakin rendah pH berarti semakin besar harapannya menerima ion OH alias semakin besar jumlah ion H di dalamnya. Ini yang biasanya terbalik di pemahaman mahasiswa.

pH rendah = ion H tinggi = ion OH rendah

Lalu, apa hubungannya dengan titrasi? titrasi adalah upaya untuk mendapatkan seberapa banyak sebenarnya ion H atau OH dalam larutan. Caranya adalah dengan melakukan “netralisasi” sampai pH 7 dan membuat komparasi berapa banyak ion H atau OH yang ada di dalam larutan. Sederhananya secara prinsip adalah sebagai berikut:

Video Titrasi

Bila di dalam lingkungan terdapat 100 ion H dan 1000 ion OH (berarti basa), maka cara untuk mencapai “kesetimbangan ion” adalah dengan menambah?… tentunya ion H (titrasi dengan asam). Sebagaimana dapat dilihat pada video berikut:

Prinsip pertukaran ion pada titrasi

Melalui prinsip tersebut, sekompleks apapun molekul mulai dapat dideteksi berapa ion yang dibutuhkan untuk “menstabilkan” larutan. Dengan demikian dapat digunakan sebagai perhitungan “deduksi” berapa banyak ion H atau OH di dalamnya.

Pelajaran Hidup

Hal yang saya pelajari dari titrasi itu adalah mengukur seberapa “asam” atau “basa” diri kita, dan apa yang dibutuhkan untuk “menstabilkan” diri. Demikian juga, ketika kita terlalu “stabil” butuh “asam” atau “basa” seberapa banyak yang membuat kita “bergerak” namun tidak “mematikan”.

Contohnya, bila kita merasa terlalu “negatif”, penuh keluh kesah, merasa hidup terlalu berat, maka ini kesempatan yang baik untuk mengukur berapa “ion” positif yang dibutuhkan untuk stabil. Saya biasanya melihat video motivasi di youtube atau membaca buku motivasi dan mulai menghitung “waktu nonton” atau “jumlah halaman” sampai saya bisa mengambil nafas panjang dan merasa bahwa “hidup tidak terlalu buruk untuk dijalani”. Bila jumlah halaman yang saya butuhkan adalah 20 halaman, maka saya anggap bahwa “besok kalau merasa down lagi, saya hanya perlu membaca 20 halaman buku motivasi”.

Bagaimana dengan terlalu basa (baca: terlalu positif). Sayangnya, menurut pengalaman saya (yang baru 30-an tahun), terlalu positif juga memiliki dampak yang tidak baik. Over confidence = lack of knowledge. Sehingga, perlu melakukan negativisasi atau penambahan ion negatif. Cara yang biasa saya lakukan adalah mulai mencatat “apa yang saya tidak tahu tentang tema ini” atau “Dosa apa yang saya lakukan selama satu hari ini” atau sejenisnya. Intinya muhasabah diri, sehingga sampai titik berimbang dan kepala mulai mengecil pada ukuran normalnya.

Dengan demikian, kita bisa mengatakan “I’m so stupid” ketika orang lain mengatakan “you are you brilliant”. Seperti cerita Feynman ketika dia melihat ada orang lain yang lebih briliant pada suatu bidang (padahal tidak dapat Nobel). Sehingga ia melihat peluang untuk “bertumbuh”.

Semoga bisa menjadi pengingat, bahwa hidup bukan untuk jatuh atau sombong, namun untuk berkarya dan memberikan yang terbaik bagi kehidupan itu sendiri. Sebagai syukur terbesar atas kehidupan yang kita punyai.

Tokyo, 2019

Seri Kuliah Biokimia Heruiwak: Ikatan Peptida


Sebenarnya beberapa hari terakhir saya ingin bercerita tentang Biokimia, namun juga muncul keraguan apakah saya layak untuk menceritakan ulang hal tersebut. Namun, godaan untuk “tidak” menceritakan tersebut selalu ditentang oleh godaan untuk “berbagi” cerita. Jadi, saya mungkin menceritakan apa yang saya pahami dari beberapa buku yang beberapa hari ini saya baca. Semoga kalau ada koreksi diposting dan saya bisa belajar lebih baik lagi.

Secara garis besar saya berusaha menjawab pertanyaan saya sendiri dengan logika yang mungkin tidak segitiga ke bawah tapi terbalik untuk membuat engagement lebih dulu dengan peptida sebelum tahu penjelasannya:

  1. Apa itu ikatan peptida?
  2. Bagaimana terbentuknya?
  3. Apa sebenarnya ikatan itu?
  4. Apa bentuk “balon energi” antara peptida
  5. Karakteristik ikatan peptida

Baiklah, dimulai dari mana ya? Kebetulan selama dua minggu ini mengutak-atik dan membaca kembali bab tentang asam amino. Beberapa catatan awal saya tulis di sini. Catatan berikutnya di sini adalah tentang bagaimana ceritanya asam amino tadi sambung-menyambung menjadi satu peptida.

Apa itu ikatan peptida?

Jalur yang umumnya “diyakini” oleh para ilmuwan adalah melalui “Dogma Sentral Biologi Molekuler” yaitu melalui translasi. Penjelasan translasi ada di sini. Ikatan yang menyambung mereka semua disebut dengan rantai peptida atau ikatan amide. Lebih jelasnya adalah “sambungan” asam amino tersebut adalah hasil reaksi hidrolisis dari dua asam amino. Ikatan yang terjadi adalah pada Karbon alfa dan Gugus Amide. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut

Tribute: By V8rik at English Wikipedia – Own work, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=7890768

Bagaimana terbentuknya?

Nah, selama ini saya melihat reaksi hidrasi atau kondensasi. Reaksi Hidrasi tersebut menghasilkan molekul air (H2O) sehingga seperti awan yang mengalami kondensasi. Bedanya, kalau dua awan menyatu menjadi kondensasi tidak menghasilkan molekul baru, sedangkan dua asam amino yang mengalami reaksi kondensasi menghasilkan senyawa yang disebut sebagai peptida. Peptida disusun atas Residu Asam Amino (disebut residu karena sudah kehilangan gugus OH atau H dari asam amino asal). Menariknya adalah, sebelumnya saya sama sekali tidak menganggap hal tersebut menarik.

“seperti sepasang kekasih yang memutuskan mengikat hati, harus ada pelepasan bagian dari diri (heruiwak)”

Saat saya membaca ulang bagian reaksi ini, saya menjadi terbayang-bayang bagaimana molekul-molekul tersebut menari-nari dan menghasilkan “ikatan” yang tidak lain adalah “Berbagi Elektron“. Atom C alfa dan N2 dari dua molekul asam amino mendekat, kemudian dibantu oleh Ribosom mengalami pertukaran ion, pemutusan O dan OH, pembentukan H2O seiring dengan terjadinya ikatan amide. Hal tersebut seperti ketika dua orang memutuskan untuk “terikat/ menikah”. Satu-satunya cara agar langgeng seperti asam amino adalah “berbagi elektron dan melepaskan OH dan H”. Artinya, pasti ada hal-hal yang di”lepaskan” seperti waktu, game, hangout, apapun itu dan menggantinya dengan berbagi elektron bersama. Mungkin konsepnya abstrak kali ya, namun saya hanya membagikan apa yang muncul dikepala saya saat mempelajari ikatan amide ini.

Sebenarnya apa “ikatan” atau “berbagi elektron” itu?

Berhubung saya kurang banyak masuk kelas pada saat Dr Utoro Yahya menjelaskan ini di Sekip UGM dulu, saya kembali menelusuri internet untuk mendapatkan jawaban. Rupanya, atom-atom itu memiliki karakteristik untuk “stabil” dalam bentuk molekul. Apapun yang membuat “tidak stabil” akan diubah menjadi “stabil” dengan melakukan upaya yang bisa dilakukan. Dalam hal ini adalah melakukan kondensasi. Hal tersebut dikarenakan ketika dua molekul berdekatan ada “kekuatan alamiah” secara fisika bahwa mereka harus “saling menolak” atau gaya nuklir (kalau saya sudah paham saya ceritakan, hehe). Untuk menetralkan gaya tersebut, maka ada “lem molekuler” bernama berbagi elektron. Sehingga ketika dua molekul tersebut akhirnya bersama, maka terjadi stabilitas ini disebut Hibridisasi atom. Kejadian yang terjadi secara alamiah.

K. Aainsqatsi at English Wikipedia(Original text: K. Aainsqatsi) [Public domain]

Nah, cerita hibridisasi antara C alfa dengan N2 dua molekul asam amino tersebut rupanya mengikuti prinsip hibridisasi seperti gambar di atas. Tenang, pada saat saya melihat pertama juga langsung shock dan dua hari hampir tidak bisa berkata apapun. Ketakutan dan kebingungan. Untungya, dua hal tersebut (ketakutan dan kebingungan) adalah awal yang baik untuk belajar, bukan?

Menarinya gambar di atas adalah hidrogen dan karbon berbagi elektron yang ditandai dengan arah anak panah yang berkebalikan pada bentukan balon hidrogen dan balon yang menuju karbon. Balon-balon itu adalah “medan energi” yang diciptakan akibat resonansi elektron yang mengelilinginya. Berbeda dengan pemahaman saya selama ini kalau ikatan dua atom berbagi elektron secara setimbang, rupanya berbagi elektron membuat bentuk energi antara dua elektron tidak berimbang atau membentuk ruang energi. Bentukan tersebut kemudian menyebabkan ikatan satu dengan ikatan lainnya tidak serta merta bisa tumpang tindih dengan seenaknya. Menarik bukan? Hal ini yang benar-benar membuat saya dua hari bermimpi-mimpi tentang “balon dan elektron“.

Apa bentuk “balon energi” ikatan peptida itu?

https://i.ytimg.com/vi/D5-IC_POgN4/maxresdefault.jpg

Berdasarkan gambar di atas, ikatan antara C alfa dengan N2 memiliki bentuk balon yang lurus (menyambung) antara Sp2 masing-masing “balon”. Kedua balon tersebut benbetuk lurus dan menariknya lagi bentuk ikatan itu memiliki pengaturan datar seperti papan (planar), sehingga perputaran pada ikatan C alfa dengan C gugus karboksil atau C alfa dengan N2 tidak serta merta bebas berputar (berpilin), tetapi selalu diikuti oleh bentukan planar itu sendiri. Hal ini seprti memutar papan yang “cukup keras” sehingga memutar asam amino pada ikatan Calfa tersebut tidak “bebas”. Implikasinya, pergerakan asam amino tidak benar-benar leluasa untuk mengubah bentuk. Ranta asam amino boleh dibilang “cukup kaku”, sehingga bentuk final dari rantai asam amino dapat dikatakan “hampir selalu seragam membentuk satu konformasi” (akan saya ceritakan di lain waktu).

Karakteristik Ikatan Peptida

Sebagaimana saya ceritakan sebelumnya, “bentuk balon” dari ikatan peptida seperti “papan”. Ibaratnya kalau kita punya “papan kayu” yang disambung dengan paku satu dengan yang lain membentuk rantai dengan sudut tertentu, maka bentuk akhir dari papan-papan itu hanya stabil pada satu bentuk (konformasi). Dua konformasi sekunder yang umumnya terbentuk adalah alfa helix (uliran alfa) dan beta sheet (lembaran beta). Alfa helix bentuknya mirip-mirip dengan tali yang terpilin, sedangkan lembaran beta seperti anyaman benang wool untuk membuat sweeter.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a4/Alpha_beta_structure_%282%29.png

Seperti yang terlihat pada gambar tersebut di atas, residu asam amino tadi tidak serta merta bergerak “bebas” membentuk “benang kusut” namun mengikuti hukum kesetimbangan energi (energi terendah atau delta G nol). Hal tersebut dikarenakan sifat dari ikatan amida adalah bentuk planar, seperti ada rantai tak terlihat yang merajut keempat atom yang terdapat pada gugus C alfa dan N2.

Karakteristik tersebut berimplikasi pada:

  1. bentuk rantai peptida
  2. bentuk tiga dimensi peptida
  3. fungsionalitas peptida

Yup, untuk sementara sampai disini dulu. Semoga bisa menyambung di lain kesempatan.

Tokyo, 2019

Ueno Koen: Pasti


To: mbrg
Pada dinding tulang- putih
terpantul di wajah kolam Ueno
juga sakura yang letih
lepas tangkai- menari dijeda angin
lantas mengapung di wajahmu
membikin riak- jeda waktu kita
tak berulang lagi
mungkin,
Ada rantai tak nampak
gemrincing ditelinga, kolam
mendengar rangkaian
sejarah dan masa depan
dimana kita kaki menapak
tak berulang lagi,
pasti

白い骨の壁に
上野プールの表面に映る
疲れたチェリーも
茎から離れて、風は止まった
それからあなたの顔に浮かぶ
私たちの時間を遅らせる

二度と繰り返さない
たぶん、

目に見えないチェーンがあります
耳鳴り、プール
回路を聞く
歴史と未来
足を踏み入れるところ

これ以上、
確かに

Adachi-Ku, Tokyo

Cerita Tentang Asam Amino


Baiklah, ini memang sedikit berbeda dengan yang salama ini saya tahu tentang asam amino. Sebelumnya hanya tahu kalau asam amino itu penyusun dari protein, selebihnya nihil. Bahkan asam amino penyusunnya saja tidak ingat (jujur). Tapi, menyelami ke dunia molekuler, kita menemukan bahwa struktur kecil itu ternyata sangat menakjubkan (lebay).

Pertama, dari segi polaritas, asam amino yang 20 (yang umum, sebenarnya ada lebih dari 540 asam amino yang dideskripsikan, 20 yang paling sering ditemui) dibagi menjadi dua kelompok yaitu hidrofilik dan hidrofobik. Hidrofilik artinya suka dengan air (mengingat air polar, maka yang hidrofilik juga asam amino polar), dan asam amino hidrofobik (sebaliknya).

Asam amino yang non-polar (hidrofobik) dibagi menjadi dua kelompok lagi berdasarkan rantai cabang dari C-alfa nya, yaitu yang memiliki gugus alifatik dan gugus aromatik. Untuk gugus alifatik artinya ketika terjadi reaksi pada salah satu rantai elektronnya, akan menjadi rantai pemindahan (attached) elektron secara linear, sedangkan alifatik membentuk lingkaran (penjelasannya kapan-kapan lagi kali ya, masih saya pelajari).

Yang “lurus” alias “Alifatik” terdiri dari Glisin, Isoleusin, Leusin, Alanin, Metionin, Prolin, dan Valin. Saya menyingkatnya dengan penamaan asam amino satu huruf (GILA-MPV). Jadi, Seorang Alfa yang GILA pada MPV bisa-bisa nggak mau mandi (hidrofobik), ini mnenmonik yang saya gunakan.

Lalu yang jalur elektronnya melingkar “Aromatic” terdiri atas Triptofan, Tirosin, dan Fenilalanin. Disingkat satu huruf menjadi (WYF). Aroma Willow Yang Fantastis. Mungkin sedikit abstrak, tapi untuk mengingat saja kalau pepohonan memiliki aroma khas, saya yakinnya pohon Willow juga punya aroma (walaupun belum pernah tahu aromanya seperti apa).

Jadi, si Alfa yang GILA MPV punya Aroma Willow Yang Fantastis karena Takut Air (hydrofobik).

Lalu asam amino yang berikutnya adalah asam amino yang polar. Polar saya bayangkan seperti kutub utara atau selatan (polar pole). Sebagai cerita lanjutan dari si Alif tersebut. Polar yang netral terdiri atas asam amino Serin, Threonin, Asparagin, Sistein, dan Glutamin (SeTaN CaQ, maaf agak surabayan).

Untuk menetralkan kegilaan si Alif pergi kepolar dan dijalan bertemu dengan SeTaN CaQ sehingga ia menjadi sangat syok. Betapa SeTan CaQ itu sangat senang aroma Willow Yang Fantastik.

Kelompok berikutnya adalah Polar basa (bermuatan positif) yang terdiri atas Histidin, Lysin, dan Arginin. Mnemoniknya : Untuk menjadikan pikirannya lebih Positif, maka selama di Polar si Alif banyak-banyak berdoa sehingga His head Kly aR (baca His head clear- maksa mode on). Ini untuk memudahkan mengingat kalai Histidin singkatannya H, lysin singkatannya K, dan arginin singkatannya R.

Lalu terakhir, si Alif rupanya masih sering teringat hal-hal negatif, sehingga selama di Polar ia banyak mengingat nasehat dari ustaD dan bahwa hidup bakal tamatE. Ini untuk mengingat bahwa asam amino bermuatan negatif adalah Aspartat (D) dan glutamat (E).

Cerita lengkapnya:

Alif GILA MPV– beraroma Willow Yang Fantastis” menuju Polar, tapi bertemu SeTaN CaQ! maka ia berfikir Positif hingga His KlyaR. negatif thinkingnya diusir dengan nasehat ustaD dan ingat tamatE.

Adachi-ku, Towa, Tokyo 2019

Cara Mengubah Dunia


Dunia tidak akan berubah dengan sendirinya, ketika kita tidak mengubahnya. Inilah yang saya yakini benar adanya. Bila kita terlahir dari sebuah keluarga yang suka memboroskan uang, dan kita dibesarkan berpuluh tahun dengan cara yang sama, maka kita juga tidak akan bisa berubah menjadi seorang yang hemat dengan cepat. Ia memerlukan waktu untuk berubah. Demikian pula bila kita sudah “memelihara” kebiasaan: menunda-nunda, malas, tidak produktif, berpikir dan bertindak negatif, tidak mengambil tindakan (hanya berfikir saja), ini memerlukan upaya untuk mengubahnya. Tidak akan berubah bila tidak diubah mulai SAAT INI.

Why before How

Pertanyaan yang kadang muncul adalah “Bagaimana?” padahal yang perlu dijawab pertama adalah “Mengapa?” Coba bayangkan bila seorang yang boros tadi terus menjalani pola hidup yang sama. Sekaya apapun ia, suatu titik kekayaannya akan mulai berkurang dan ia mulai mengumpulkan penyesalan. Penyesalan demi penyesalan kecil itu suatu ketika akan meletus menjadi penyesalan besar.

Demikian pula dengan kemalasan untuk belajar. Bila satu hari malas belajar, mungkin akan mengatakan “cuma hari ini” bila satu minggu malas maka akan mengatakan “minggu depan aku belajar” bila sudah satu bulan malas, maka “bulan ini bulan puasa, tidak perlu banyak belajar, cukup ibadah” bila sudah satu tahun dan ilmu tidak bertambah, maka setelah menerima raport atau IPK, baru menyadari bahwa kemalasan yang dikoleksi itu menjadi bencana besar.

Alasan paling kuat untuk saya adalah Identitas diri saya. Karenanya, maka saya perlu mengambil langkah-demi langkah yang diperlukan bukan? Lalu bagaimana dengan yang lain? Tiap orang punya alasan yang paling jujur untuk melangkah. Dan alasan itu kadang berbeda-beda tiap orang.

Step by Step: Baby Step

Lalu setelah menemukan alasan banyak juga yang bertanya “Lalu bagaimana memulainya? terlambat sudah satu mid semester berlalu” atau “terlanjur uangku tinggal sedikit” atau “Tidak akan berguna, aku tidak bisa menjadi yang terbaik di kelas juga. Aku bodoh”. Kalau boleh saya katakan, itu semua hanya alasan. Seperti yang dikatakan oleh kawan saya

Alas iku ombo, tapi luwih ombo alasan

(Jawa: Hutan itu luas, tapi lebih luas alasan)

Maka, saya ingin mengatakan “lebih baik terlambat daripada tidak masuk sama sekali. Lebih baik mulai menabung daripada tidak punya sama sekali. Lebih baik mendapatkan IPK 2,76 daripada IPK 2,70” Intinya, progress yang “sedikit” jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun.

Lalu, bagaimana memulainya?

Mulai dari Hal Kecil

Bila ingin mulai menghilangkan kemalasan, putuskan hari ini sampai satu minggu kedepan memulai hal kecil. Bila ingin meningkatkan nilai IPK atau raport, mulai dari hal kecil sampai seminggu kedepan. Apa contohnya? Membaca satu halaman atau tiga slide mata kuliah setiap hari selama satu minggu kedepan. Oke, ini memang tidak akan membuat perubahan. Tapi tidak perlu tergesa-gesa. Lakukan challenge ini satu minggu dan mulai tingkatkan “sedikit” pada seminggu berikutnya.

Saat saya memutuskan untuk menurunkan berat badan, saya hanya mengatkaan “seminggu ini saya akan lari selama 5 menit”. Dan saya melakukannya selama seminggu. Pada hari pertama sampai ke tiga, lari 5 menit itu seperti siksaan mengingat berat badan saya 95 kg. Namun, pada hari keempat sampai ke tujuh nafas mulai terasa ringan dan saya berhasil lari 5 menit tiap pagi.

Pada minggu berikutnya saya memutuskan untuk lari 7 menit, dan saya berhasil selama satu minggu penuh. Minggu berikutnya lari 9 menit dan saya berhasil lagi, pada bulan itu saya berhasil lari sekitar 10 menit tiap harinya. Apakah berat badan saya turun? Tidak. Ha ha ha.. tetap 95 kg. Namun, pada bulan berikutnya keajaiban mulai terjadi. Saya berlari 12 menit pada minggu pertama, 15 menit pada minggu kedua, 17 menit pada minggu ke tiga, 19-20 menit pada minggu keempat. Berat badan saya turun menjadi 93 kg. Well, tidak signifikan bukan?

Pada bulan berikutnya, saya berlari 20 menit di minggu pertama, 22 menit di minggu kedua, 25 menit di minggu ketiga sampai ke empat. Tebak berapa kg berat badan saya turun? 92? 91? 90? Hm… sayang sekali jawabannya belum tepat. Berat badan saya menjadi 87 kg. Celana saya sudah menjadi kebesaran semua, dan bergerak menjadi jauh lebih ringan. Voila, perubahan terjadi di bulan tiga bukan?

Jadi kalau ingin menghemat uang, mulai hari ini katakan bila akan membeli sesuatu yang rutin, misal tiap hari membeli cokelat 3 batang, hari ini sampai seminggu kedepan hanya akan membeli 2 tiap hari. Uang senilai 1 batang cokelat dimasukkan ke kantong khusus (challenge 1 minggu), dan lakukan progress kecil tiap minggunya. Bila satu batang cokelat harganya Rp 3000 rupiah, maka di minggu pertama ada Rp 21000 di kantong. Bila diminggu kedua bisa hanya membeli 1 batang cokelat tiap hari, maka di minggu kedua mengumpulkan Rp 42000 + 21000 = 63000, dan bila pada minggu ketiga tidak membeli cokelat kecuali tiga kali dalam seminggu maka di kantong akan ada Rp 117000, dan bila pada minggu keempat hanya satu kali membeli cokelat maka ada uang Rp 177000. dan bila ini dipertahankan selama 20 bulan, maka ada uang lebih dari Rp 2000000 yang terkumpul. Cukup untuk jalan-jalan dari Indonesia ke Malaysia selama satu hari penuh.

Mulai Saat Ini

Apapun itu, bila tidak dimulai tidak akan terjadi perubahan. Seperti yang selalu dikatakan oleh Pak Tung Desem Waringin:

Take action miracle happen, No action nothing happen.

Buat Jadi Kebiasaan

Kemudian jadikan kebiasaan. Caranya sederhana kok, buat kebiasaan yang sudah dilakukan di tahap pertama tadi selama 3 minggu. Ya, hanya tiga minggu saja. Seorang teman mulai membiasakan shalat Dhuha. Di minggu pertama terasa berat sekali, minggu kedua sudah mulai ringan, di minggu ketiga sama sekali tanpa beban. Kini ia mengatakan sudah lebih dari 3 bulan shalat Dhuha setiap harinya. Sesuatu yang saat ini saya coba lakukan. Ha ha ha…

Pengingat diri: Towa, Adachi-ku, Tokyo 2019

Menentukan Prioritas Dalam Belajar


Saya menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri yang belakangan ini terlalu banyak bermain-main dengan waktu. Sepertinya hanya manusia yang bermain-main dengan maut. Bahkan, seekor kupu-kupu akan memaksimalkan waktunya yang singkat untuk menghimpun tenaga, menyimpan tenaga tersebut dan mempersiapkan generasi berikutnya dengan seksama. Atau seperti tanaman yang mengatur “jam hidupnya” di musim-musim yang berat. Karenanya, saya menulis ini untuk mengingatkan diri.

Prioritas dalam belajar sebenarnya harus mengikuti tiga hal dalam idealisme saya:

  1. Sesuai dengan identitas diri a la The Productive Researcher (Mark Reed)
  2. Diatur dengan runut a la Compounds effect ( Darren Hardy)
  3. Dieksekusi dengan serius a la Deep Work (Cal Newport)

Pertama: Diatur sesuai dengan identitias diri

well, saya menuliskan identitas diri saya seperti Piechart berikut:

Sayangnya, realitas harian yang selama ini saya kerjakan seperti berikut:

Artinya, saya terlalu banyak belajar, banyak juga membuang waktu (hitungan persen dari waktu produktif 16 jam), kurang memprioritaskan keluarga, dan penelitian. Alhasil, ini sebagai penyebab hari-hari terasa sangat menyiksa dan tidak produktif. Dengan membuat Piechart ini mulai hari ini saya bertekad untuk mulai menyesuaikan waktu sesuai dengan identitias yang saya yakini. Bismillah. Lebih lengkap tentang ini bisa dipelajari di buku Mark Reed (The Productive Researcher)

Kedua: Menyusun agenda a la Compounds Effect (Barden Hardy)

Untuk menyesuaikan hal tersebut, maka disusun agenda harian untuk:

  • Belajar (Bahasa Jepang, Bioteknologi, Biokimia, Mikrobiologi, Bahasa Inggris) sebanyak 20% dari waktu produktif atau setara dengan 3 jam 12 menit setiap harinya. Butuh rencana matang untuk menjadikan 3 jam 12 menit selama satu tahun mempelajari banyak hal.
  • Researcher (Entrance Exam, Artikel Jurnal Nature Chemical Biology) sebanyak 40% atau setara dengan 6 jam 24 menit. Ini perlu disusun dan dieksekusi sebaik mungkin.
  • Keluarga (Ayah, Suami, Anak, Saudara) sebanyak 40% atau setara dengan 6 jam 24 menit juga (Saya berencana membuat buku cerita untuk Umar, Buku Catatan Harian Anisa). Selama ini saya hanya meluangkan waktu sekitar 30 menit sampai 1 jam. Waktu yang sangat sedikit dari identitas saya

Ketiga Mengeksekusi Rencana a la Deep Work (Cal Newport)

Untuk mengeksekusi semua rencana, diperlukan waktu yang berada dalam blok (Chunk) yang sesuai sehingga kualitas pekerjaan dapat dihasilkan dengan baik. Saya pernah mencoba Chunk 30 menit dan sangat baik hasilnya, sayangnya masih belum konsisten. Artinya, sesuatu yang mudah dilakukan, selalu mudah untuk ditinggalkan. Hari ini dimulai dari nol lagi, dan tidak ada salahnya untuk terus me-reset- diri kita untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna bukan?

Adachi-ku, Touwa, Tokyo 2019