Produktif di hari libur


Menjadi produksi bukan sebatas pada hari kerja karena pada prinsipnya hari kerja ataupun hari tidak kerja, sesungguhnya kita sedang menggunakan waktu. Dan waktu tidak mengenal libur atau hari kerja. Waktu tidak akan berbalik (kecuali mesin waktu benar-benar telah ditemukan) untuk kita, maka waktu adalah aset atau liabilitas yang sangat penting.

Waktu akan menjadi aset jika kita memanfaatkannya untuk selalu fokus menghasilkan karya, sedangkan ia akan menjadi liabilitas (tanggungan) kalau kita menganggap bahwa ia akan kembali untuk kita. Cara satu-satunya untuk menjadikan waktu menjadi aset adalah dengan menginvestasikannya dengan cara terbaik untuk menghasilkan karya.

Lalu apakah kita tidak boleh beristirahat? apakah kita tidak boleh berekreasi? apakah kita tidak boleh memiliki family time? Tentu jawabannya adalah boleh, boleh, dan boleh. Karena, produktivitas bukan berarti kerja atau uang. Istirahat yang menguatkan tubuh adalah produk. Pikiran yang jernih setelah rekreasi adalah produk. Keluarga yang harmonis adalah produk.

Namun, istirahat berlebih (lebih dari 8 jam) adalah liabilitas. Ia justru akan menggerogoti kesehatan kita. Dan ini berarti tidak produktif. Begitu juga dengan rekreasi. Rekreasi berlebih, menghabiskan tabungan satu bulan, hingga tubuh letih dan tidak berdaya lagi, bukanlah rekreasi. Ini adalah keborosan yang riil. Atau family time yang isinya hanya duduk-duduk tanpa tujuan, tanpa makna, di depan iklan televisi, ini bukanlah family time. Ini adalah upaya untuk membuang-buang waktu. 

Dari dua cerita di atas, maka seyogyanya hari libur adalah hari produktif. Menghasilkan pikiran jernih, tubuh yang kuat, keluarga yang harmonis, dan produk lain yang mungkin tidak bisa kita hasilkan pada waktu lain. Sebagai contoh, catatan ini juga wujud upaya saya memanfaatkan hari libur agar lebih produktif. semoga membagi manfaat bagi semua.

Gresik, 2019

Advertisements

Menata Meja Kantor dengan Metode KonMari


Meja kantor seperti rumah kedua bagi saya dan rupanya rumah saya adalah rumah yang sangat kumuh. Hal ini sempat membuat saya frustasi dan tidak bersemangat untuk ke kantor. Namun, sebuah video mengingatkan sebenarnya hal ini bukan saya saja yang mengalami. Ada beribu orang yang mengalami hal yang sama dan hidup dalam penyiksaan bernama meja kantor (berantakan) seperti ini: 😦

WhatsApp Image 2019-01-16 at 14.26.19.jpeg

Kemudian, pada sebuah video ditunjukkan betapa sebenarnya kita masih bisa menata meja kantor. Saya mengikuti metode yang disampaikan oleh Marie Kondo dalam metode Konmari ini.

Prinsipnya: rapikan dulu buku, lalu kertas kerja, peralatan kerja, dan terakhir barang-barang sentimentil.

Tahapannya:

  1. Kumpulkan semua buku di tempat yang luas, lalu pisahkan mana yang sebenarnya menyenangkan (spark joys) dan mana yang tidak. Bagi yang menyenangkan disimpan, bagi yang tidak diberikan ucapan terima kasih dan disingkirkan untuk diberikan orang lain.
  2. tata buku dengan posisi berdiri sehingga dapat dibaca dari samping judulnya, bukan ditumpuk.
  3. urutkan dari rendah ke tinggi.

Setelah itu, kertas kerja juga dikumpulkan dalam satu tempat, pilah dengan bijak sesuai kategori: dokumen penting, garansi, tugas berjalan, dan sudah selesai. Pisahkan sesuai dengan kriteria tersebut, dan apabila tidak masuk kategori dan tidak dibutuhkan bisa mulai dibuang.

Terakhir, barang-barang sentimental juga dikelompokkan sesuai kategori: menyenangkan dan tidak menyenangkan. Setelah itu, dirapikan dan disimpan pada tempat yang akan membuat kita bahagia ketika melihatnya seperti ini 🙂

WhatsApp Image 2019-01-16 at 14.26.19 (1).jpeg

Edisi bersih-bersih kantor.

Mengenai Biaya Hidup di Tokyo (Jepang) dan Busan (Korea)


Bagi siapapun yang akan berpindah ke manapun, biaya hidup adalah sesuatu yang menghantui pikiran. Mungkin hanya beberapa yang menganggap dirinya Hippies saja yang tidak memikirkannya. Namun, mayoritas orang akan memikirkannya dengan cukup serius karena menyangkut “ketidakpastian” dalam hidup.

Untuk share kali ini, sebenarnya adalah hasil studi saya membandingkan biaya hidup di Tokyo (yang belum pernah saya alami) dengan Busan (di sana hanya sekitar 25 hari total). Kenapa Tokyo dan kenapa Busan?

Tokyo dikenal sebagai salah satu kota yang termahal di dunia, sedangkan Busan mungkin dikenal karena film “Train to Busan” tentang hantu dan zombie. Saya punya alasan yang lain, karena Tokyo memiliki Toudai (Tokyo Daigaku) dan Busan memiliki (Pukyong National University). Dua universitas yang menjadi dua tujuan PhD saya. Meskipun, akhirnya saya harus memilih satu, dimana saya belum pernah ke sana.

Kembali ke isu, Tokyo sebagai kota besar rupanya tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan Busan. Hal ini saya komparasi berdasarkan beasiswa yang umumnya diterima oleh mahasiswa (pada level PhD). Untuk Tokyo, salah satu beasiswa yang terkenal adalah Monbukagakusho (MEXT) ada di post saya disini. Untuk Busan, beasiswa yang terkenal adalah KGSP. Namun, yang saya tahu ketika ke Busan, umumnya beasiswa diberikan dari profesor.

Berikut komparasi kedua kota tersebut (dari pengalaman dan hitung-hitungan saya yang awam):

Komponen Busan (Won) Tokyo (Yen)
Beasiswa            1,000,000              144,000
sewa rumah                350,000                53,280
gas listrik air                150,000                21,600
makan                300,000                38,880
Internet                100,000                14,400
Sisa                100,000                14,400

Kalau dibandingkan dengan kurs, sewa rumah di Busan (legkap dengan gas dan listrik) adalah sekitar 500.000 x 12 = 6 juta rupiah, sedangkan di Tokyo sekitar 74.880 x 130 = 10 juta rupiah. Hampir dua kali lipat lebih mahal. demikian juga kalau di kurs ke rupiah komponen biaya lain, tentunya juga hampir dua kali lipat.

Namun, ada yang menarik, yaitu persentase dari keduanya hampir sama. Bila 6 juta adalah 50% dari total beasiswa, maka 10 juta adalah 53% dari total beasiswa. Sehingga saya iseng menghitung biaya hidup di Surabaya. Bagi penghasilan sekitar 5 juta rupiah, sewa ruang apartemen dan jasa kebersihan sekitar 2,5 sampai 3 juta. Sehingga, komponen rumah ini di Surabaya juga sekitar 50-60% dari penghasilan. Dari sini, saya sedikit menyimpulkan (sementara), mau hidup di manapun itu sama (sama-sama penuh tantangan). Jadi, tidak perlu takut dengan tantangan. Siapkan diri, melangkah pasti. Bismillah.

Rumahsunyi, 2019

Pengumuman Hasil Penapisan Monbusho RS 2019


Penapisan. Screening. Upaya menyaring dan menyeleksi. Hasilnya adalah kandidat yang terseleksi.

Pengumuman hasil penapisan ke dua telah diumumkan. Alhamdulillah termasuk yang lolos. Yang artinya harus bersiap. Bersiap kultur. Bersiap budaya. Bersiap bahasa. Bersiap jauh dari tanah air.

Bersiap untuk apa atau siapa. Bagi saya, ini persiapan untuk diri sendiri. Biar energi smart grid dipunya. Biar 4 tahun kedepan pulang dengan dampak.

Bismillah. Bersiap menuju The University of Tokyo. Department of Agricultural and life sciences. Laboratory of Cell Biotechnology. Prof. Makoto Nishiyama.