Sore Datang


MZ, AF

Sore datang dengan demikian cepat. Kita telah tak lagi merapat. Kapal-kapal merentangkan layar mengikuti arah bebintang. Beberapa anak terlelap dipeluk dingin angin pantai, yang lain merintih kelaparan. Orang-orang tua tak menangkap ikan marlin ataupun bertarung dengan ikan hiu di sini. Mereka menghirup udara malam dan mengenang masa ketika laut menjadi ladang dan perburuan. Kenangan demi kenangan melesat secara acak dibenaknya. Serta bunga kamboja yang tak hendak tumbuh di pepasir pantai tempat istrinya disemayamkan. Maka, kita kembali menjadi biasa, serupa bebayang dibawah sinar rembulan. Dan laut, tetap berombak meskipun kita telah lesap dalam mimpi.

Advertisements

Kolang Kaling: Dilema Standar Ganda


Image result for kolang kaling

Suatu ketika seorang guru diskusi dengan murid-muridnya tentang surga

G= guru

M= murid

G: ” anak-anak, kalian harus rajing mengaji, belajar, berbakti kepada orang tua dan guru ya”

M: “Kenapa Pak Guru?”

G: “Biar kalian masuk surga. Kalau masuk surga, semua yang kalian sukai bisa kalian dapatkan dengan mudah, gratis, dan tinggal minta’

M:” contohnya apa Pak?”

G: “buah-buahan, makanan, minuman, apapun”

M :” kalau kolang-kaling ada Pak?”

G: ‘Tidak ada”

M: “Lho katanya semua ada Pak”

G: “karena saya tidak suka kolang-kaling”

m: ????????????????

Fish cake industry 


Gambar di atas diambil dua tahun yang lalu ketika berkeswmpatan mengikuti training HACCP yang diselenggarakan oleh BFIA, Busan, Korea Selatan. Gambar tersebut adalah kegiatan edukatif yang diadakan oleh sebuah pabrik pengolahan fiah cake tertua di Busan. Kita dapat mengikuti kegiatan seperti mwmbuay fiah ccakes, menghias, dan mengolahnya dengan disertai penjelasan standar higiene. Peserta yang dominan adalah anak kecil beaerta keluarganya.

Dari inspirasi tersebut saya berfikir, alangkah baiknya sistem edukasi yang aplikatif itu juga diselenggarakan di Indoneaia. Bayangkan anak anak pada masa liburannya bisa ke pabrik pembekuan ikan, atau produksi fish cake, setelah selesai, olahannya dapat dibawa pulang untuk oleh oleh. Atau bisa memilih ke bengkel bus, melakukan kegiatan pengecekan meajn sekaligua test drive satu atau dua putaran. Atau mungkin juga di unit layanan deteksi mikrobia, dilatih melihat makhluk halus bernama bakteri probiotik dan dijelaskan fungsinya bagi tubuh. Mungkin kedepan perlu lebih implementatif dalam menjelaskan teori gelasi yang mbulet itu… hehehehe

Terkuburkerja a.k.a Tertungkus mungkus


Istilah terkubur kerja dalam bahasa Indonesia disebut dengan ‘tertungkus mungkus’ atau dalam Bahasa Inggris “overwhelmed” merupakan hal yang wajar terjadi. Tertekan, tertatih, hampir putus asa, dan tidak tahu harus melakukan yang mana (karena terlalu banyak yang harus dikerjakan) merupakan gejala yang muncul akibat tertungkus mungkus ini. Ketika saya mengalami hal ini, ada beberapa hal yang saya kerjakan dan hal ini cukup membantu.

  1. Membuat list hal-hal yang harus dikerjakan, dengan membuat lis pekerjaan, saya seperti seorang yang berada di tengah lautan dan melihat ribuan bintang. Ada bintang yang kerlipnya redup dan tak memberikan arah, namun pasti ada bintang yang menunjukkan arah kemana saya harus melangkah. Dan bintang itu yang saya ikuti, artinya saya akan mengerjakan hal yang pertama kali paling jelas dan paling memungkinkan untuk dikerjakan terlebih dahulu.
  2. Membuat tenggat waktu untuk mengerjakan. Sebagaimana telah kita ketahui, waktu demikian terbatas sehingga bila kita ingin menyempurnakan segala pekerjaan, maka yang terjadi adalah tidak semua pekerjaan akan terselesaikan, sehingga pilihlah, prediksikanlah waktu yang paling tepat untuk mengerjakan dan berhentilah pada waktu yang telah ditentukan itu. Apabila tidak selesai, saya biasanya tinggalkan dan arrange waktu lain untuk mengerjakannya atau menambahkan waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikannya. apapun yang terjadi. Hal ini benar-benar sederhana, namun sangat menyiksa bagi para perfeksionis.
  3. Berhentilah sejenak ketika selesai mengerjakan satu pekerjaan, bersiaplah mengerjakan pekerjaan berikutnya. Hal ini akan memberi secercah harapan sebelum kembali terbenam, ha ha ha…
  4. Ingatlah semua itu akan segera berlalu. Hal-hal buruk akan segera berlalu dan berganti dengan hal-hal yang baik, dan hal-hal yang baik akan segera berlalu dan berganti dengan hal-hal yang buruk. keduanya adalah siklus yang pasti. Jadi, hiduplah sebagai manusia utuh yang siap menghadapi keduanya.

Continue reading Terkuburkerja a.k.a Tertungkus mungkus

Kuliah vs Mencari Ilmu


 

Image result for cantrik

sumber: wayangindonesia.web.id

Banyak sekali (dalam kesempatan-kesempatan yang saya miliki) saya bertanya kepada mahasiswa, baik yang sedang duduk di kantin, atau mencari WiFi untuk konek dengan medsosnya “apa tujuanmu kuliah?” dan anehnya mayoritas menjawab “untuk mencari kerja”, “mendapat jodoh”, “cari teman” dan “mencari ilmu”. Dalam diskusi lanjutan, akhirnya pada akhir yang tidak berakhir, karena pertanyaan ini adalah pertanyaan retoris atau mungkin konfirmatif. Retoris karena semua orang sudah tahu semua tujuan orang kuliah, sekaligus konfirmatif, apakah ada tujuan lain selain yang umumnya dijawab. Dan, tidak ada kreatifitas dalam menjawab pertanyaan yang sama.

Saya teringat sebuah artikel (tapi lupa siapa yang menulis :)) yang menyatakan bahwa di Indonesia, mayoritas orang kuliah karena ‘teman’ kuliah sehingga tidak ada tujuan yang jelas. Di Australia, bila orang mau kuliah, pasti mereka sudah memiliki roadmap atau peta jalan yang jelas mau jadi apa mereka selepas mendapatkan diplom (gelar). Namun, kalau sekali lagi saya bertanya kepada anak-anak didik saya tentang kuliah, maka jawabannya ngggambyang alias tidak jelas. Namun, sesuai juga dengan prinsip ‘survival of the fittest’ rupanya orang kita jauh lebih bisa survive meskipun dengan tujuan yang tidak ditetapkan. Atau, gegara kita tidak punya tujuan maka tidak ada patah hati, serupa orang yang tidak punya kekasih juga tidak punya sakit hati.. ha ha ha..

Kembali ke jalan yang benar, saya juga sering mengkonfirmasi tujuan “mencari pekerjaan” ini, lha kalau mau pekerjaan kenapa tidak melamar pekerjaan? bukankah jawaban ini jauh lebih logis? Kalau melamar kuliah tentunya bukan dapat pekerjaan. Kemudian, kalau mau tujuannya mencari jodoh, harusnya mengirim surat atau melalui medsos ‘nembak’ kandidat pacar, kalau mau cari ilmu, ah.. ilmu sudah ada di ujung jari kita. Ada di internet berseliweran di mana-mana… ada ribuan buku gratis yang dapat diakses dan dipelajari, namun toh tak satupun buku itu didownload dan dibaca oleh mahasiswa saya (termasuk saya, ha ha ha ha). Jadi, sepertinya perlu diarahkan kembali tujuan kita kuliah itu untuk apa.

Kalau boleh berpendapat, maka ‘nyantrik’ adalah jalan yang terbaik daripada ‘menuntut’ karena melalui pendidikan yang diharapkan adalah transformasi personal dan keahlian. Ilmu saja tanpa sikap hanya akan menghasilkan ilmuwan yang kurang peka terhadap permasalahan masyarakat dan dunia. Sikap saja tanpa ilmu hanya menghasilkan pegawai-pegawai yang diperalat untuk ‘hanya’ tujuan ‘profit (uang)’ semata. Bila tujuan itu tercapai, maka alumni adalah sebuah keluarga, putra putri yang senantiasa ‘kangen’ dengan rumah mereka (baca: kampus), yang ‘ujung’ ketika lebaran tiba, yang mengirim uang ketika ‘adik-adik’ kekurangan dana, yang akan dengan senang hati menerima adik-adik mereka masuk menjadi rekan kerja di tempat mereka berada, dan yang senantiasa rindu pada masa lalunya.

Permasalahannya, nyantrik pada siapa?  mungkin akan kita bahas di kesempatan lain saja. Too sensitive. ha ha ha ha

pikun


Mimpi-mimpi dan harapanku menjelma jadi pepasir pantai, dipermainkan ombak, namun tetap bertahan di pantai bernama memori

Bila suatu ketika kelak, pikun telah memelukrasuk benangbenang akalku, mungkin aku menjelma karang beku

Tak kemanapun, tak bergeser di antara mimpi dan harapan yang bahkan tak lagi kukenali

Anak Perempuanku


Namanya Anisa Nur Hamdany. Lahir pada tanggal 13 Mei 2017 di Jawa Timur. Sebuah wilayah yang dahulu sama sekali tidak terlintas dalam imaji. Lantas kini, pada usianya yang 4 bulan mulai meniti jalan-jalan berliku melintasi kota hingga rumah kenang milik kedua eyang. Ke Jogjakarta.

Foto di atas adalah foto Anisa ketika di dalam bus kota. Ia demikian menikmati tiap gedung yang melintasi jendela. Serupa Einstein yang memutuskan relativitas. Maka, dalam relativitas yang sama, ia juga menjadi pusat dalam perhatian eyang kakung dan eyang putrinya.

Kamipun menyempatkan diri mengunjungi tempat bersejarah bagi ayah dan bunda. Sebuah tempat sederhana yang tak menarik bagi kebanyakan pelancong. Taman pintar namanya.

Ah, semua jejak, semua kenang adalah untuk meniti masa depan.