Universitas


Universitas

Uni

Unity

Versi

Sitas

Mungkin ini kenapa universitas pinginnya menyatukan banyak hal dalam satu rangkaian kejujuran.

Kembali ke mikrobiologi dan bioteknologi


Besok saya akan mengajar mata kuliah pengolahan hasil perikanan dengan tema fermentasi. Berbicara tentang fermentasi, saya jadi teringat penelitian s1 dan s2 saya yang dua-duanya berkutat tentang fermentasi ikan. Penelitian s1 saya tentang isolasi dan identifikasi khamir dan kapang pada proses produksi kecap ikan,  sedangkan pada penelitian s2 mengenai bakteri asam laktat ada produk fermentasi ikan tradisional.

image

Kedua penelitian itu telah menjadi batu pijakan untuk bidang yang saat ini saya coba kembangkan: mikrobiologi dan bioteknologi kelautan. Oleh karena itu, saya membentuk grup riset dengan nama Microbiology and Biotechnology Research Group (MBRG). Meskipun demikian, saya merasa waktu untuk melakukan passion saya teramat pendek. Ada harapan besar dalam dada saya untuk dapat melakukan lebih banyak riset daripada tugas administrasi. Sebab, administrasi tidak akan habis, sedangkan waktu untuk penelitian dapat habis.

Kembali ke mikrobiologi dan bioteknologi.  Ini adalah harapan besar saya dalam berkiprah di dunia. Bukan untuk mendapatkan sanjungan ataupun penghargaan, namun menawarkan solusi bagi bangsa melalui bidang keilmuan spesifik kita. Apapun itu.

(Rumah-persiapan ngajar)

Memilih topik penelitian skripsi


Topik penelitian skripsi biasanya menjadi bahan pikiran tersendiri bagi beberapa mahasiswa yang bertemu saya untuk berdiskusi. Beberapa sudah memiliki judul, beberapa baru punya keinginan suatu tema, yang lain malah sama sekali belum kepikiran. Pertanyaan umum yang muncul adalah bagaimana cara menemukan tema skripsi yang mudah, murah, dan berbobot.

Saya jadi teringat nasihat almarhum dosen saya, Dr. Iwan B Lelana mengenai tema skripsi. Beliau mengatakan pada saya

“mas…mas.. ndak ada skripsi yang gampang. Kalau menjalankan penelitiannya gampang, ngolah datanya sama ngebahasnya sulit. Kalau teori dan datanya gampang, penelitiannya yang sulit. Penelitian adalah suatu kompleksitas”

Berawal dari penjelasan tersebut saya pernah berdiskusi dengan dua orang dosen dari Riau. Mereka masih muda, namun visi mengenai riset sangat kuat. Hasil diskusi itu kalau boleh saya simpulkan adalah mengenai tujuan apa yang akan kita capai dengan penelitian itu, apakah memperoleh produk, optimasi produksi, atau pengetahuan dasar untuk dapat dikembangkan lebih jauh.

Saya juga teringat sebuah nasihat dosen saya pada mata kuliah Best Research Practices yang mengatakan:

Telitilah apa yang dibutuhkan bangsa kita, bukan apa yang kamu butuhkan.

Serupa dengan nasihat beliau, ada juga yang mengatakan telitilah apa yang dibutuhkan rakyat, bukan apa yang diminta industri.

Dengan demikian, tema skripsi dapat beragam degan satu tujuan: Kemandirian sebuah bangsa. Tidak logis kalau kita sampai saat ini hidup di tanah ini, menghirup udara gratis, makan dari tanaman yang tumbuh di tanahnya, dan mendapatkan fasilitas umum yang dibiayai oleh uang rakyat, namun kita tak memikirkan rakyat. Kalau kata mistis, bisa kualat. Namun, secara logika saya bisa mengatakan orang seperti itu akan terjebak dengan ambisinya. Lupa akan hakekat diri dan mengalami tekanan yang lebih dalam dirinya sehingga musibah dapat menimpa.

Jadi, apabila kita tengok lebih jernih, tema skripsi apa yang cocok untuk diteliti? Adalah sama dengan pertanyaan masalah apakah yang dihadapi oleh rakyatku? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelesaikannya? Kalau tidak bisa diselesaikan, hal apa yang bisa kutawarkan sebagai sebuah solusi?

(Rumah subuh kamar tamu)

Gelombang


Gelombang dijiwaku
Karang-karang remuk
Dan telisik pepasir di pantainya
Mengabur tanpa bentuk
Dalam gelap bertumpuk
Tak lagi kukenali

Menjadi manusia pembelajar


Saya melihat bahwa menjadi manusia paripurna memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar gelar. Untuk menjadi manusia aripurna diperlukan keterampilan jiwa, pikiran dan sosial yang memadahi untuk mengwmbangkan diri dan masyarakat yang berinteraksi dengan sang diri agar jauh lebih baik. Dengan kata lain,pembelajaran yang diberikan dalam dunia pendidikan semestinya mampu membangin ketiga aspek tersebut.

Bagaimana membangun jiwa atau mental? Mengingat kata Konfusius, aku mendenfar dan aku lupa,aku melihat dan aku ingat, aku melakukan dan aku paham. Maka untuk menanam mental yang kuat tidak hanya dari nasehat semata,namun harus sampai level mengalami. Untuk hal tersebut, maka diperlukan kemampuan untuk menghadapi masalah secara langsung, face to face dan penuh keberanian. Untuk hal ini, saya berusaha meniru apa yang telah dilakukan oleh para guru zaman dahulu, yaitu memberikan tugas yang kelihatannya tidak mungkin dikerjakan. Namun, sejatinya manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dan ini terbukti. Banyak mahasiswa mengeluh ketika saya tugaskan untuk mwmbaca buku dan menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku tersebut secara lisan. Alhasil beberapa mahasiswa gagal pada pertemuan pertama. Namun, pada tugas berikutnya tak ada satupun yang tak lolos. Berhasil, mereka bisa.

Meskipun demikian, lolos di tahap pertama hanya bisa membuka kapasitas. Kapasitas musti ditingkatkan karena kapasitas yang ajeg hanya untuk mereka yang berhenti belajar. Bagaimana meningkatkan kapasitas? Saya mengajarkan pada mahasiswa sebuah permasalahan yang baru dan belum pernah ditemui. Dengan terbukanya kapasitas, ternyata mayoritas dari mereka langsung bisa beradaptasi dengan masalah baru tersebut.

Terakhir, menjadi manusia pembelajar berarti harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam istilah Bung Hatta, seorang mahasiswa harus dapat bertoleransi dengan berbagai ide, tanpa harus terpengaruh. Unsur sinergis jauh lebih diutamakan, oleh karena itu, diskusi adalah sebuah keniscayaan.

Demikianlah tiga hal yang harusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Manusia manusia pembelajar yang akan menjadi pembangun bangsa. Manusia manusia pembelajar yang tak akan curang ataupun menyerah. Manusia manusia pembelajar yang akan menegakkan panji kebesaran kita sebagai sebuah bangsa.

*ruang baca fpk unair.

Letihku


Letihku
Bersabarlah padaku
Seperti seorang kekasih
Menantikanmu pulang
sebab
Aku tak tahu
Betapa jauh jarak tempuh
Serta gelombang menghadang
Namun
Aku tahu kau cukup punya sabar
Buat menanti
Sebait doa lagi

(Mushola)

Nuansa kampus islami


Sore kemarin saya berdiskusi dengan mahasiswa kerohaniahan islam. Beberapa hal yang menarik adalah program kerja yang mereka susun. Ada beberapa program kerja yang merupakan turunan dari program kerja sebelumnya, dengan kata lain proses evaluasi belum berjalan dengan baik. Meskipun demikian, kehendak untuk berbuat baik dan membumikan islam sehingga tidak eksklusif saya berikan apresiasi yang besar.

Berbicara tentang membumikan islam, saya mengasosiasikan dengan nuansa islami. Mengutip paradigma islam Kuntowijoyo, islam semestinya dibuat terbuka sehingga dapat diterima oleh semua kalangan, lalu tahap berikutnya adalah menjadi kultur yang meresap di dalam masyarakat barulah ideologi itu dapat tegak berdiri. Oleh karena itu, membumikan islam di kampus semestinya diawali dari membuat islam dapat diterima semua civitas, lalu menjadikan kultur islami itu mendarah daging pada setiap diri.

Terkait dengan hal tersebut, saya merindukan nuansa kampus yang penuh cahaya. Pagi betul mahasiswa datang dengan pakaian rapi nan wangi, datang pertama langsung mencium tangan para guru, dilanjutkan shalah dhuha dan tilawah. Ketika jam menunjukkan waktu belajar dimulai mahasiswa bergegas sambil berdzikir, berdoa agar ilmu yang akan mereka peroleh dapat ditransformasi menjadi amal dan akhlaq, dan memulai langkah dengan basmallah. Selesai kuliah mereka berbondong menuju masjid untuk shalat dhuhur diawali dengan qobliyahnya. Setiap sepekan sekali berkumpul dan khataman Quran di kampus, dilanjutkan makan dan shadaqah. Dan hal tersebut terus dilakukan hingga tahap demi tahap membumikan nilai islam dapat terwujud.
(Pagi sebelum ke kampus)