Puteri Naga Api


“seperti ini hidup yang selalu kita alami. memiliki berbagai jebakan, rintangan, dan gundah gulana untuk diatasi. ketika kita mampu mengatasinya maka akan menemukan puncak yang bernama ‘kemanusiaan’. ini adalah karena kita meninggalkan sifat ‘kebinatangan’ kita.” kata laki-laki itu dihadapan putranya yang masih kecil.

“oh begitu ya Yah, lalu, mengapa ibu menjadi Naga Api?” tanya putranya. konon istri lelaki itu telah menjelma menjadi Naga Api dan terbang kelangit untuk mencari sesuatu yang disebut hidup layak bagi putranya.

“hah” lelaki itu menarik nafas panjang “Ibumu tak mau menunggu kita untuk bisa memahami bahwa dia seorang putri. maka iapun menjelma menjadi Naga yang selalu bergerak untuk memberikan kamu hidup yang lebih baik dari sebelumnya”

“kenapa ayah tidak bekerja?” tanya anak itu lagi.

“Karena aku hanya ada dalam bayang-bayangmu saja”

*sebuah rilis untuk singgle parent yang berjuang bagi putra-putrinya
tetaplah menjadi Naga Api.

Tugas Akhir, Akhiri Tugas


Ketika aku mengatakan “Wah sulit sekali nyelesaiin tugas akhir ini”

tiba-tiba terbaca “dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah” (14:20)

aku teringat kepada sebuah potongan pembicaraan antara aku dan pikiranku/ me and myself/, lets check it out:

maka pemuda berambut keriting itupun memikirkan beribu-ribu lintasan pikiran yang memasuki kepalanya.  dihadapannya ada hutan rimba dan gunung tinggi menghadang. sedangkan dibelakang sana ada sebuah rawa-rawa penuh buaya. dan selebihnya hanyalah tebing curam dengan tulang-tulang manusia Continue reading “Tugas Akhir, Akhiri Tugas”

maslalo maskin


pertapakotakabar tentang akan turunnya pertapa besar dari gunung membuat banyak warga desa menanti-nanti di gerbang desa. seharian mereka menanti untuk mendapatkan wejangan berharga, atau sekedar mengeluhkan tentang hidup mereka yang payah. bahkan ada seorang yang menanti hanya untuk minta tanda tangan/pertapaholic/

setelah matahari mulai bersembunyi Continue reading “maslalo maskin”

Dialog Pembukaan


Suatu ketika Nasrudin bertamu kesebuah rumah di pondokan tepi hutan. halamannya kacau balau, dindingnya rapuh, dan sepi.

“pesta macam apa ini” pikirnya. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya keluar dengan senyuman yang sangat hangat. Nasrudin mengucapkan salam dan dijawab lelaki itu sambil memeluk sang Mullah.

“ayoh masuk Din, pestanya segera dimulai”

“Mari” jawab Nasrudin sambil bertanya-tanya “pesta apaan nich”. lalu setibanya Continue reading “Dialog Pembukaan”