Berdiskusi dengan Dialog

Berdiskusi merupakan hal yang umum digunakan untuk tujuan tertentu, semisal menyusun panitia, menyelesaikan konflik, menyelaraskan visi, bahkan untuk urusan kecil seperti baju apa yang cocok untuk datang kondangan. Meskipun demikian, sebagian besar teman yang saya ajak diskusi berhenti pada kesepakatan sebelum diskusi itu berjalan. Sebagai contoh, pernah saya mengajak dua orang teman untuk mendiskusikan masalah praktikum x. Ia nampak mendengarkan, namun begitu saya tanya pendapat ia hanya menjawab “ya begitupun gak apa apa”.

Alih-alih sekedar menjadi “gak apa apa” saya sebenarnya berharap ada buah pikiran atau sudut pandang baru. Saya sendiri menyadari bahwa saya masih jauh dari kualifikasi untuk memutuskan. Oleh karena itu, dengan berdiskusi saya mengharapkan ide, gagasan, makna, atau perspektif yang baru mengenai sebuah masalah yang ada. Tetapi, apabila tanggapan rekan diskusi masih pada tahap non responsif atau acuh tak acuh, maka hal tersebut tidak dapat diperoleh.

Mengenai hal ini, saya melihat dan merasakan bahwa ada kendala personal untuk berdiskusi. Hal ini juga membuat saya mendengarkan kata hati saya yang bertanya “mengapa diskusi menjadi menakutkan bagi kelas? Di sisi lain, mengapa mereka begitu aktif di media sosial dan warung kopi? Apakah faktor-faktor ‘lepas’nya pikiran dalam berdiskusi? Apa yang bisa saya lakukan? ”

Jawaban dari pertanyaan itu terus saya cari hingga saat ini. Sebuah titik terang sempat saya lihat dari sebuah buku yang menceritakan tentang Socrates. Ia bermuka jelek, tua, pemalas, namun fokus pada diskusi yang fundamental dalam bentuk dialog. Ada hal yang masih belum dikuasai untuk menghidupkan diskusi di kelas, salah satunya adalah kemampuan dialog.

Kemampuan dialog sendiri masih sangat jarang dipelajari. Orang-orang seperti Socrates lebih banyak mengandalkan pada kemampuan bawaan untuk berdialog sedankan orang seperti saya memerlukan lebih banyak berlatih. Berkaitan dengan pertanyaan dan kemampuan dialog, diskusi di kelas semestinya lebih lepas, tanpa batasan yang terlalu kaku, serta penuh dialog. Meskipun demikian, dialog hanya terjadi kalau kedua belah pihak merasa dan menyadari satu hal yang sama. Oleh karwna itu, salah satu hal penting yang perlu dilakukan sebelum memulai diakog adalah memaparkan secara jelas sebuah tema yang akan didiskusikan serta diiringi dengan niat yang jujur untuk mendapatkan solusi. Dengan demikian, suasana dialog akan hidup dan membuka ide baru yang menanti untuk dikonfirmasi di masyarakat, software, kolam percobaan, meja laboratorium, dan kelas atau lebih luas dari itu semua.

IPB 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s