terkadang

terkadang, aku melihat semuanya sebagai derita. mayat, janin, kekasih, maut. namun, lebih sering aku melihat semuanya sepintas lalu, di antara dua waktu tidur malamku. bahkan dalam mimpi-mimpi yang tak sengaja kusambangi, mereka tak meninggalkan jejak apapun. lalu akupun mengatakan, inipun hanya mimpi.

pada waktu yang lain. aku terkadang melihat semuanya sebagai kesyukuran. ketika maut melintasiku, aku bersyukur. ketika maut menjemput orang lain, akupun bersyukur (meski perih). terasa semuanya terbungkus dalam khusyuk yang mendera.

kini, aku melihat semuanya dengan membawa potret di pundak. sekejap mengambil berita, menyimpannya, untuk kemudian melupakannya. dan tiba-tiba tulisanku yang telah terkubur, bangkit lagi. menjadi seseorang yang pernah kukenali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s