Wajah

Sesosok tubuh membiru kedinginan di tengah malam. Aku mendekatinya dan melihat wajahku pada tubuh orang renta itu. Namun kutinggalkan. Ketika aku melintasinya, aku melihat matanya yang ialah mataku menatap diriku seperti aku menatap kagum pada wajahku di depan kaca. Dan itu membuatku semakin membenci pengemis itu, aku membenci kenapa ia tak bisa membenciku.

Di lorong yang sama, seekor tikus melintas sebelum akhirnya diterkam kucing. Kucing itu melihatku, dan sekali lagi aku melihat wajahku pada kucing itu. Kumisnya sama persis dengan kumisku, tipis, acak-acakan. Namun pagi ini ia telah kucukur, dan karenanya aku bisa sedikit berbahagia melihat kucing itu menggondol tikus, melintasi kakiku sambil berlari dan menghilang di balik sebuah tong sampah.

Akhirnya aku bisa keluar dari lorong itu. Ini sebuah jalan besar, dengan orang-orang yang berciuman di bawah menara Eifel. Aku tak tertarik melihat mereka, karena entah kenapa semua wajah yang kulihat ialah wajahku. Mata yang kulihat ialah mataku. Tubuh yang kulihat ialah tubuhku. Dan aku muak, melihat diriku yang berciuman dengan diriku sendiri, meraba-raba tubuhku sendiri, berpelukan dengan diriku sendiri. Aku menunduk,m melihat ujung sepatuku sendiri dan berusaha secepat mungkin pergi dari kerumunan diriku.

Pada sebuah apartemen yang kupilih asal, aku akhirnya berhenti dan memutuskan untuk menginap di sini malam ini. La France, tulisan di depan apartemen kecil itu. Ketika kuketuk pintu gerbang depan, seorang tua dengan wajahku tersenyum tulus sambil membukakan pintu. Di resepsionis seorang perempuan tua berkeriput, dengan wajahku juga tentunya, menyapaku dan memberikan kunci untuk masuk ke kamar 101. Aku mengambilnya tanpa menyapa apapun, ia seperti aku yang tak memperdulikan apa tindakan tamunya.

Sesampainya di kamar, aku membuka mantel hitamku dan kucampakkan begitu saja di atas kasur. Sebuah almari dengan kaca besar di pintunya menyapaku sambil berkata “bonjour”. Tentu saja tidak kujawab, aku belum cukup gila berbicara dengan almari walaupun aku bisa bicara dengan tongkat, lift, sepatu, bahkan batu pahatan pematung gagal. Lalu iseng kudekati kaca itu. sesuatu yang aneh, aneh sekali. Sampai-sampai aku tersenyum dan tertawa terbahak-bahak melihat cermin itu. Betapa tidak, bayangan seluruh kamar ada, bajuku nampak, rambutku nampak, tapi wajahku hilang. Dan aku tak sadar bahwa seluruh manusia dan binatang di muka bumi telah mencurinya dariku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s