Berkelana

Tubuhku, berayunlah

tuntun seluruh jiwa dan ragaku

menuju tanah tanpa tuan

biar aku bisa berdiri

dan menghirup udara bumi

utuh tanpa sentuh

 

Mataku, tataplah

ornamen titian hijau

tempat seorang dulu muda

kini mulai mengelana

serupa kerut

pada setiap sudut kulit

seorang pertapa tua

 

Telingaku, dengarlah

lagu-lagu sendu

angin yang tersayat ilalang

serta daun kering

terinjak gilas sepeda

bila kau bisa mendengarnya

dengarlah lagu ku

yang tak kuberi nada

hanya sunyi

 

tanganku, rabalah

semua derap langkah kelana ini

telah menjelma kerut demi kerut

dan kantung mata

ia hendak menjelma lagi

dua tiga uban putih di kepala

sampai kelak seluruhnya

berhenti dan menepi

untuk menanti

perjumpaan abadi

 

Surabaya2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s