Tertelan kesibukan

Aku disini, menatap layar yang tak sempat mengedip. Mungkin ia lelah, namun aku tak lagi merasa lelah. Hanya tubuh ini memintaku untuk sekejap berhenti, mengamati kembali yang telah terjadi, dan mungkin menghirup satu atau dua aroma kopi panas mengepul di atas meja itu. Tapi ia telah dingin, aku kembali menulis, mendengarkan musik acak, lalu membuka rumahku disini. Kosong, tak ada apapun, hanya keletihan yang ditumpuk di atas kelelahan lain. Aku hampir lupa mendengarkan kata hatiku, hampir lupa mencari kemana aku akan menuju.

Sudahlah sudah, aku butuh ini. Aku butuh semua keletihan ini, maka kubiarkan saja ia menjalari otot-ototku. Sebab aku bisa mulai merasakan ekstase kerja. Workaholik ala pimpinan, atau mungkin para penulis cerita yang mengaku menjadi dewa-dewa. Ah, aku tak tahu mengapa, tapi aku bisa menikmati keletihan ini. Menikmati kesibukan yang membuat pikiranku sekejap teralihkan dari senyum dan tawa Umar nur Hamdany, si kecil, putra pertama kami yang baru saja berulang tahun. Ah, aku bisa tertelan kesibukan ini sampai petang nanti. Semoga abi bisa mendengar celotehmu senja nanti melalui pantulan gelombang dari BTS ke BTS. 🙂

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s