Chapeau

Pagi-pagi benar Hugo keluar dari rumahnya dan menyapa tiga pohon mapel. Pohon-pohon itu tersenyum sambil memberikan tangkai kering yang patah di topinya. Hugo membalas senyuman dan melambaikan topinya ke arah tank-tank Inggris yang baru kemarin mendarat di Ibu kota.

Sore hari Hugo pulang tanpa mengenakan topinya “ia terlalu kotor untuk kupakai di kepalaku” katanya pada Maria, istrinya. Maria membuka sebuah lemari yang berisi topi dari bawah hingga atas, penuh sesak sambil berkata “kalau topi itu tak cocok, aku masih punya topi lain untukmu”

“Terima kasih sayang, kau selalu mengerti kalau aku selalu lupa dimana ku letakkan topi”

Hari berikutnya berjalan dengan cepat, Maria menunggu di depan balkon lantai dua. seorang laki-laki datang tergopoh-gopoh dan berteriak “Hugo mati… Hugo mati, dimana istrinya”

Maria turun tergesa-gesa hingga lupa menutup lemari topi. Ketika ia menemui laki-laki itu, ia menunjuk arah tank. Maria berlari ke arah tank dan tak menemukan apapun. Tiba-tiba dunia memutih di matanya. Tak lagi terlihat apapun, lalu muncul satu dua topi. Diikuti rombongan topi lain yang berjalan melewatinya. Maria berteriak “mau kemana kalian. Kalian chapeau suamiku”

“Maaf, kami harus berjalan menuju surga sebelum suamimu tiba. Sebab nanti dia di sana tak bisa bahagia kalau tak menutupi botak di kepalanya”

Maria lemas tersungkur di kaki Eifel.

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s