Pemilu Putih

Entah, banyak suara mendesing. Aku tak mendengarnya sebagai kutuk, aku mendengarnya sebagai seru. Beberapa berseru untuk mendukung kepala garuda, beberapa setengah tubuh banteng, beberapa tetap pada pohon tua merapuh, yang lain terpecah. Namun, belakangan aku tak lagi mendengarnya sebagai sumpah serapah. Ini peperangan yang mereka buat, bakar, dan hendak dicari siapa yang pantas menari di atas bangkai-bangkai yang terkalahkan.

Aku tak mengatakan menang itu buruk, bahkan kekalahan itu adalah keburukan. Namun aku memilih kedua sudut itu sebagai pelajaran, sebab menang atau kalah bukan tujuan, melainkan proses. Dan hidup kita ialah proses yang tak kunjung usai sebelum al-maut mengetuk pintu rumah kita, atau menggedornya dengan kasar. Naudzubillah.

Lantas beberapa bertanya padaku tentang perang itu. Siapakah yang kupilih? maka dengan tegas kujawab aku memilih pilihanku, dari pikiranku, dari jiwa dan hatiku. Titik. Bukan dari imajinasi yang dilukis, bukan dari potret-potret artis berjibun yang hambar, bukan iklan konyol yang membuang-buang uang, bukan pula poster-poster ngaco di tepi jalan Merr. Aku memilih pilihanku, dan itu cukup. Sebab bagiku aku tak mendukung untuk menang, tapi aku mendukung untuk merasa menjadi manusia Indonesia, dan merasa hidup dalam tanggungan dan pertanyaan demi pertanyaan.

Kau tahu, beberapa waktu mengamati media, maka banteng lama itu mulai menanjak. Namun, aku tak mudah melepaskan sejarah, dan sejarah sering berulang. Begitu pula dengan pohon tua, ia juga punya sejarah dan sejarah akan berulang. Maka aku memutuskan untuk memilih putih. Putih yang bersih, menata dirinya hingga harmonis, dan bekerja dengan bahagia. Sebab kebahagiaan ialah inti dari semua yang kita kejar di dunia, namun di akhirat semua itu jadi tanya. Maka aku memilih mereka yang memiliki catatan paling putih, paling bersih, walaupun dua noda cukup mencolok mata. Tapi toh itu ialah bentuk yang kita selalu lihat. Tinta yang menempel di kertas putih, selalu lebih nampak dari kertas putih itu sendiri. Maka inilah pilihanku, apa pilihanmu? Itu pilihanmu.

Advertisements

2 Replies to “Pemilu Putih”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s