Lara

Dalam episode lara, mereka bicara tentang rasionalitas. Tapi sayangnya aku tak memikirkannya, namun merasakannya. Maka kukumpulkan semua keberanian untuk memilih siapa yang tepat dan siapa yang salah, bukan untuk menyalahkan siapapun. Pada akhirnya kalau aku benar, aku akan tersenyum dan melapangkan dada akan perang yang akan menghampiriku tanpa harus menyerang siapapun. Dan bila aku salah, maka biarlah egoku mengendap sekali lagi. biar ia akan menjadi bahan untuk pengakuanku, biar aku menjadi tanah lagi yang terinjak, namun pasrah saja pada yang Satu. aku mengaku.

Dalam episode lara, setiap suara telisik menjadi dentam keras yang membangunkan tidurku. Namun aku tak hendak menjadikannya guntur, atau menjadikannya sebagai tameng akan ketulianku. Justru kuarahkan ia untuk memberiku satu atau dua petunjuk kecil, sampai akhirnya aku bisa memiliki kepekaan itu setiap waktu. mendengar dzikir yang tak terucap, mengucap kata yang tak menepi. Mematri dalam hati, walau air mata terkadang mengembang, sungkan untuk terjatuh.

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

2 thoughts on “Lara”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s