Eksistensi

Seperti bayangan. Eksistensiku hanya ada ketika kegelapan tak ada, dan cahaya menjadikanku menjadi ada. Maka bisakah kau menjadi cahayaku kekasih? ataukah aku akan terpendam dalam lautan kegelapan, disela-sela bisik gelombang setan dan iblis dalam nafsuku, terkubur di antara karang-karang terjal amarah, dan mengamuk seperti badai ditengah samudra?

Kekasihku, mungkin kita tak bisa merajut laut untuk berpendar, serupa kunang-kunang laut yang terinjak nelayan. Namun, bisakah kau menjadi lampu badai kecil yang menopang harapan seorang nelayan sasar? Bisakah kau membias dalam riak-riak yang selama ini membelenggu mataku, hingga bisa kulihat seberkas jalan yang tak nampak? Bisakah kau tunjukkan bagaimana seorang Rasul mencintai orang-orang yang mendendam api dalam jiwanya pada sang utusan?

Duhai kekasih, aku tak memaksamu untuk apapun. Biarlah kubiarkan engkau menjadi apapun, dan biarlah eksistensi yang kukejar ini pupus waktu demi waktu. Asalkan kita masih bisa saling pandang, sebelum akhirnya subuh memanggilku.

Advertisements

2 Replies to “Eksistensi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s