Ego

Hey, kamu pikir bisa berjalan tanpa pakaianmu, melintasi mal-mal dengan membanggakan seluruh kebiadaban? aku tak hendak mengatakan padamu tentang bendera-bendera, wajah-wajah, poster-poster, iklan-iklan yang berseliweran diseluruh hidupmu selama dua belas hari terakhir. Akupun tak memaksamu sepakat dengan apa yang kukatakan, toh aku tak mengikatmu dengan tali yang nampak ataupun sihir. Aku hanya hendak mengatakan padamu tentang ego. Cermin retak yang kau bangga-banggakan.

Ia memiliki E. Ia memiliki G. Ia memiliki O.

Aku menamai E untuk suatu ekstase. Kau tahu, aku demikian bahagia dengan ekstase hingga jemariku menarikannya. Pikiranku mengatakan aku selalu benar, dan seluruh dunia salah. maka kebenaran yang kucerna, menjelma menjadi rambut-rambut yang tumbuh di mataku, menutup hidup dan matiku dengan kekaburan. Hingga kau mengatakan betapa konyolnya sudut pandangku, atau bahkan kau menertawakan seluruh ekstaseku. Namun kau boleh mengatakan aku apapun, sebab aku mengalami ekstase. Dan ekstase membuatku tak nampak pada matamu yang terbuka.

Aku menamai G untuk gelang. Seperti gelang yang melingkar, tak memiliki ujung. Ia menjelmakanku sebagai semua ujung sekaligus tanpa ujung. maka semua pendapat mengenaiku akan melukaiku. Sebab ujung bukanlah sifatku satu-satunya dan tanpa ujung bukanlah definisiku. Aku serupa ular yang melingkar hingga lupa dimana kepala dan ekornya. Aku menyerupai bisa yang terlanjur mengalir bersama ujung-ujung pembuluh darahku. Maka aku yang memiliki G tak lagi memiliki celah untuk disalahkan meskipun kau tahu aku salah. Meskipun kau tahu aku marah. Meskipun kau tahu aku merasa direndahkan.

Aku menamai O untuk octa. Octa untuk seluruh hidupku. Maka delapan adalah namanya, dua lingkaran kosong yang bersentuhan pada satu titik. disinilah aku menjadikan diriku jumawa, membanggakan diriku sebagai bagian intelektualitas yang tergadaikan, sekaligus menjelma menjadi ketololan yang kupelihara. Ah, kau tak akan memaknai kata-kataku, kau hanya akan mencampakkan matamu ke arah lain dan inilah ekor seluruh definisiku.

Maka EGO-kupun sempurna. Aku yang ekstase menganggap seluruh hidupku tak lagi memliki celah dan ujung lantas seperti octa, aku menganggap seluruh dunia hanya titik untuk ketololan. Inilah egoku, yang kau lukai dengan dalam walaupun hanya dengan kata kecil. Inilah egoku yang membuatku ekstase dengan amarah walaupun hanya kau sulut dengan setitik api. Inilah egoku yang menganggap kesempurnaan hanya pada sudut pandangku yang tak bersudut walaupun pendapatmu benar. Inilah egoku yang menjelmakan semua menjadi kekosongan walaupun seluruhnya isi. Kecuali aku.

Advertisements

9 Replies to “Ego”

    1. ha ha ha… mas, kita adalah diri kita, bukan pendapat orang. Maka saya adalah saya, pendapat saya, konklusi terkadang menyulut kita untuk menjadi orang lain, maka mungkin lebih baik kita berbincang tentang apakah ego kita dapat kita kendalikan, atau kita yang ia kendalikan

      1. keberuntungan juga merupakan hasil perolehan, meski nggak diharap2kan. getting caught doing something good, thus you deserve an award. 🙂 iya nih saya tidurnya sepotong-sepotong terus, dikit2 bangun. gak bisa gaspol sampe pagi.

      2. berarti pakai jurus pelor nggak mempan mas Ilham… he he… kalau nggak salah definisi itu dari black and white swan bukan ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s