Menggelantung di Tebing Tinggi

Aku seperti ditebing tinggi, menggelantung pada tali. Entah apakah ini yang disebut dengan ekstase atau yang mungkin disebut sebagai pemicu adrenalin. Namun, sepertinya bagiku ini sangat menjemukan, membosankan, dan hampir membunuh seluruh kreatifitas yang mungkin bisa kubuat. Lantas, siapa yang mengukir nama demi nama hingga 99 di dinding tebing? aku tak tahu, namun sambil terus menggelantung di tali, aku berubah menjelma menjadi monyet yang lama.

Duhai, wajah monyet ini. Mengapa ia demikian mengharapkan perubahan pada tataran di negara yang konon serupa perhiasan hijau ini. Ataukah ini karena tahun pesta? ataukah hanya karena ini menjemukan? entahlah. Yang jelas, aku juga tak mau menghadapi yang seperti ini lagi. Aku tak mau menjelma wajah-wajah yang tak kukenali, atau wajah-wajah yang kau kenal tapi tak kumaui. Aku berdamai dengan mereka, berangkulan dan berjalan menuju jalan yang sama.

Ah, menggelantung di tebing tinggi ini, aku hendak melepas dua tanganku dan membiarkan angin menerbangkanku, namun di satu sisi, untuk kesekian kalinya… aku ingin duduk di puncak memandang langit-Mu.

Advertisements

4 Replies to “Menggelantung di Tebing Tinggi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s