The Pilgrimage Paulo Coelho

Kapan hari saya merasa ada panggilan buku. Waktu itu sore-sore, mendung, uang tipis, dan rada pusing. Tapi saya pikir ‘jauh lebih pusing tidak ke toko buku daripada berangkat’ jadi akhirnya saya putuskan ke Togam4s Pucang (nama di samarkan, ntar di kira promosi :D), Surabaya. Di lantai dua ada ruang-ruang yang khusus untuk novel dan masuklah saya ke dalam lambung gedung itu. Al hasil dua buah buku melekat di tangan, tak mau pergi.

“Ya, mau apa dikata” kata saya sambil menuju kasir. Si mbak kasir tanpa ekspresi semenyenangkan Togam4s Jogja yang sudah jadi langganan saya semenjak kuliah semester 4 di UGM bertanya
“Ada lagi?” saya hanya tersenyum sambil menggeleng.

“Sekian rupiah Kak” katanya (sejak kapan saya nikah sama kakaknya dia ya kok jadi di panggil kakak, batin saya. Tapi setelah jalan-jalan ke Mal, ternyata semua SPG memanggil kakak pada yang masih bocah sampe yang kakek-kakek, so it’s fair for me… lol)

“Ya” kata saya sambil mengulungkan kartu ajaib. Selesai pembayaran saya langsung bertanya “ada penyampulan?” saya sih masih main streamnya Jogja, jadi mikirnya gratis gitu. Tapi mungkin tampang saya yang bopeng mirip kere ini membuatnya langsung menangkap gelagat tidak baik ini dan dengan santai ia menjawab.

“Ada di lantai satu, tapi biayanya sendiri”

“Terima kasih” jawab saya sambil memasukkan buku ke dalam tas. How can? sama-sama Togam4s tapi yang satu gratis yang satunya berbayar. Tapi ya sudahlah, kepalang basah. Saya pun berniat turun dan menyampul, tapi melihat mbak-mbak tukang sampulnya saya memutuskan untuk tidak meneruskan tindakan berbahaya ini. Alih-alih menyampul, saya langsung menuju motor butut tercinta, Roney, langsung gas pulang menuju kontrakan.

Sesampainya kontrakan saya membuka dua novel itu. Satunya novel tentang perang yang pernah saya baca (so bukan prioritas untuk sementara ini) yang satunya berjudul “Ziarah” karya Paulo Coelho. Nah novel inilah yang saya baca. Alhasil, novel setebal duaratus sekian halaman itu habis dalam dua hari. Ceritanya yang mengalir, kata-katanya yang tumpuk-tumpukan buanyaknya, serta alur cerita yang tidak terlalu beda dengan Alkemis akhirnya usai. Kesimpulan yang saya tarik adalah

“Kamu hanya bisa memilih berdamai dengan dirimu atau memusuhinya selamanya. Bila berdamai, maka damailah dengan keburukan-keburukanmu, temukan setan dalam dirimu dan akhirnya ajaklah mereka semua menuju ketingkat agape atau dalam bahasa Islamnya Rahmah, cinta tanpa batas yang mempengaruhi, sehingga bila kau mati, kau tak menyisakan penyesalan walau sebutir pasir”

Bagi yang mau baca, mangga.. tapi hati-hati dengan iman Anda.. ha ha 😀

Advertisements

8 Replies to “The Pilgrimage Paulo Coelho”

    1. the alchemist laris manis karena menyentuh orang Islam dengan backgroundnya dan ditulis oleh orang non. So, begitu pula nobel Turki diperoleh karena mensuport pendapat orang yang kontra-agama. politis? mungkin 🙂 he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s