Bendera Putih

Kali ini seorang teman bertemu dengan wajah sedih. Bintang film kesayangan meninggal. Bintang film balapan, meninggal di mobil yang dikendarai. Saya yakin banyak yang tahu, atau bahkan banyak yang sedih. Inilah mengapa orang mengibarkan bendera putih. Bendera tanda menyerah, menyerah pada takdir. Namun, bukan takdir namanya kalau belum terjadi. Paling tidak, inilah yang saya anggap sebagai takdir. yang lalu tak bisa diulangi, ialah takdir.

Lantas, ketika bertolak dari Bangkok kemarin malam, saya juga melihat empat hari di Thailand yang telah menjadi takdir. Ia tak bisa lagi diulangi, tak bisa lagi diubah, dan harus diikhlaskan, entah baik entah buruk.

Bila hari pertama di Ambassador City Jomtien diisi dengan kelelahan dan pemandangan yang tidak menghadap laut, maka siang harinya adalah jadwal presentasi. Presentasi berbahasa Inggris kesekian yang saya lakukan, namun toh tetap ala Bantul. Ya, saya katakan Bantlish, Bantulin English. Beberapa ketawa dalam hatinya, mungkin. Tapi sudahlah, saya sudah mengibarkan bendera putih terhadap yang telah terlewat. Tak sia-sia juga rasanya ngobrol 15 menit setiap hari dalam bahasa Bantlish bersama teman-teman kontrakan.

Hari kedua seorang rekan presentasi, Eka Saputra namanya, tentang Edible film. setelahnya saya diajak oleh Browijoyo untuk mengikuti sesi JSPS. Di sinilah saya berjumpa dengan orang-orang yang sebelumnya hanya saya tahu melalui cerita atau melalui tulisan. Yamazaki sensei, Arai sensei, Takagi-sensei, John Bower-sensei, Prof Sang-Moo Kim dll. Nama terakhir yang saya sebutkan tentu sangat akrab ditelinga teman-teman satu angkatan. Ia kakek guru saya, sebab Prof Ustadi, dosen saya, ialah murid beliau. Juga guru dari kakak angkatan dan teman sebaya waktu di THP dulu, mas Wahyudi dan Bagus Adiprana.

Hari ketiga ke Bangkok, nonton pertunjukan, jalan-jalan di Kasetsart, lalu tidur. Hari ke-empat jalan-jalan lagi, capek lagi, lalu berangkat ke DMK, barulah kembali ke Surabaya. Dan semua ini telah berlalu, sebagai bendera putih yang dikibarkan. Tinggal apakah kedepan bendera putih ini menjadi tonggak kenangan, atau debu yang ditiup angin. Entahlah.

Saudaraku, terkadang rencana  yang kita anggap sempurna ternyata mengecewakan. Namun dari kekecewaan itu, lahirlah keberuntungan yang lebih besar. Tetapi jarang kita syukuri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s