Jasad Hidup Non Seluler (virus), fase Lisis dan Lisogenik

Virus memang masih diperdebatkan apakah ia masuk dalam makhluk hidup ataukah tidak. Beberapa beranggapan bahwa virus merupakan perpindahan antara jasad tak hidup dengan jasad hidup*. Namun beberapa ilmuan berpendapat bahwa virus merupakan jasad hidup non seluler. Virus mampu berkembang biak dalam inang yang sesuai dengan memperbanyak diri melalui berbagai metode.

Metode perkembangbiakan virus:

1. Lisis

Pada fase ini inang akan mengalami lisis karena partikel virus memanfaatkan organel sel dan memproduksi virus baru dalam jumlah besar. Sel inang (sel target virus) tidak memiliki virulensi (ketahanan) sehingga ia akan lisis. berbeda dengan fase lisogenik, inang mati karena lisis tersebut, sedangkan pada fase lisogenik inang masih hidup namun dengan membawa DNA virus yang sewaktu-waktu dapat berpisah dan menghasilkan virus baru.

2. Lisogenik

Pada fase lisogenik inang tidak mengalami lisis karena memiliki virulensi terhadap virus. Namun ketika sel inang membelah, DNA virus akan ikut membelah dan memperbanyak diri, dapat diduga ketika inang mengalami penurunan virulensi, virus akan kembali memasuki fase lisis.

Kedua metode itu juga dapat disebut sebagai fase perkembangbiakan virus.

Sebenarnya pelajaran penting yang disampaikan disini juga ada sohib. Ini mengenai virus hati, seperti virus merah jambu, virus riya’, virus sombong, dan virus-virus yang lain dalam hati. Bila hati kita tidak memiliki virulensi yang kuat terhadap godaanya, bisa jadi hati kita lisis dan jadi mati. Hati yang mati bisa menjadi hal yang paling buruk dalam kehidupan seorang manusia. Namun, bila hati kita masih lemah, khawatirnya kita dapat terserang penyakit hati yang laten, atau virus itu dalam fase lisogenik dalam hati kita. So, lebih baik siapkan antivirus/antibodi dalam hati kita berupa iman yang teguh, saudara yang selalu mengingatkan akan kebaikan, mengkaji quran dengan tekun, banyak berdzikir dan shalawat, serta perbanyak amal shalih lainnya.

 

*Dikatakan jasad tak hidup (bukan mati) karena tidak diyakini memiliki kehidupan, seperti batu, kerikil, udara, api dll. Berbeda dengan benda mati, ia pernah hidup, seperti minyak bumi (dari plankton jutaan tahun silam), batu bara, kayu, pasir putih, dll. 

 

Ref: memori, berbagai sumber

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s