Malam Sebelum Kamboja Mekar

Serasa waktu telah bergulir dipunggungku

Dan keletihan tergulung roda yang menyisir jalan

terjal, batu, semak

kita masih saling melempar isyarat

Melalui mata sarat dan jemari terpahat

Umur adalah karat bagi besi bernama hidup

 

Kau sering bermain dengan pahat dan kenang

Dan menjadikan patung tanah liat itu terlihat cacat

Oleh ikatan ruang yang tergulung cahaya

Aku hanya bisa merentangkan tangan

Seperti reranting pohon kering yang berdoa

Memohon seguyur hujan buat anak dan akarnya

 

lantas setelah waktu berada dibalik tubuhku

Aku melihat cahaya meredup sebelum akhirnya padam

Dan pintu-pintu : hitam, putih, abu-abu, terbuka

Tawa dan tarian mega seperti hendak melempar

Lembing cahayanya

Sekali lagi.

Surabaya, 2013

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s