Pidato Wisudawan… pokoknya lebay…

Hadirin yang terhormat,

Marilah kita panjatkan rasa syukur yang tiada terukur ke hadirat Allah, Tuhan Seluruh Semesta, sebab hanya karena atas izin-Nya jua lah, pada hari yang berbahagia ini kita dapat dipertemukan dalam acara yang sungguh agung, Wisuda Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Periode Januari 2013. Satu monumen yang pantas kita abadikan dalam memori jua dalam hati terdalam kita.

Monumen yang tak berdiri dalam satu malam bak kisah Candi Seribunya Bandung Bondowoso-Roro Jongrang, namun monumen yang dibangun dari satu demi satu batu bata penyusunnya: usaha, semangat, kerja keras, pengorbanan, keringat, bahkan air mata. Ditata dalam waktu yang lama, terus menerus, pantang mundur. Terkadang di tengah jalan ada aral, rintangan yang menggoda untuk berhenti, namun alhamdulillah kami pun tetap melangkah hingga dapat menyelesaikan monumen itu hari ini, disini, bersama-sama. Semua itu tentu atas kucuran keringat, doa yang terpanjat serta dukungan orang tua, keluarga, almamater, dosen, serta segenap pihak staf dan pengelola program. Monumen dalam hati ini pun terbangun demikian elok, berupa sematan gelar pascasarjana yang membanggakan.

Bagi kami, wisudawan-wisudawati, hari ini ibarat pengesahan sebuah monumen yang amat bersejarah. Kami yang membangunnya demikian lama, akhirnya mampu berdiri tegak, mengamati monumen itu, belajar satu demi satu ilmu selama prosesnya dan tentunya kami berharap mampu menjadikannya sebagai bekal untuk menjadi pribadi-pribadi yang kokoh dan teguh dalam mengemban seluruh tanggung jawab yang tersemat bersamaan dengan gelar ini. Namun kamipun menyadari bahwa monumen yang terbentuk di hati kami hari ini bukanlah akhir, melainkan awal yang baru untuk bermetafosis menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meminjam istilah Anthony Robin, CANI! (continously and never ending improvement ), peningkatan yang berkelanjutan dan tanpa henti.

Bapak, ibu dan hadirin sekalian yang mulia,

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang paling jujur dari lubuk hati kami kepada segenap jajaran pengelola universitas dan fakultas, staf akademik dan non akademik, mulai ujung gerbang, parkiran, tata usaha, keuangan, perpustakaan, akademik, hingga petugas kebersihan, atas dukungan dan layanan yang demikian luar biasa.

Juga teruntuk orang-orang tercinta, khususnya orang tua kami. Ah, jujur ananda yang duduk disini bukan apa-apa tanpa cinta tanpa batas kalian wahai Ibunda dan Ayahanda tercinta. Anda berdualah yang tiada lelah, penuh ikhlas, membentuk jiwa-jiwa kami hingga ada asupan tenaga yang luar biasa hingga dapat menyelesaikan monumen ini. Semoga Allah berkenan menjaga dan meridhai mereka, orang-orang tercinta kita dalam lautan kasih dan sayang-Nya.

 

Hadirin yang berbahagia,

Kami merasa sangat beruntung sekaligus bombong bisa mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di pelataran keraton dan merapi Jogjakarta ini, Universitas Gadjah Mada yang tercinta. Universitas yang dibangun oleh para pejuang kemerdekaan, memiliki visi yang jauh ke depan untuk menyejahterakan bangsa, serta memiliki prestasi yang luar biasa.

Di almamater tercinta inilah kami belajar untuk mengerti ilmu, memahaminya, mengamalkannya dari para empu guru sejati untuk diolah hingga menjadi satu gagasan, tindakan, dan karya yang semoga bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Meskipun demikian, toh semakin kami menuntut ilmu, semakin kami ingin tahu. Inilah yang diajarkan oleh para empu guru sejati kepada kami, untuk tak pernah puas diri menuntut ilmu dan mengamalkannya sepanjang hayat di kandung badan, dari ayunan hingga liang pemakaman.

Hadirin yang mulia,

Pada kesempatan ini pula, perkenankanlah kami mengucapkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang paling jujur dan tulus kepada para empu guru nan bijaksana tersebut, para dosen kami yang tiada kenal lelah menuntun kami dalam mendaras ilmu pengetahuan, melukis hari-hari kami dengan ilmu dan pemikiran, menempa kami menjadi akademisi dalam kehidupan kampus yang mempesona. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, kebijaksanaan, kejernihan jiwa, kearifan, dan keridhaan-Nya kepada para empu guru sejati kami.

 

Teruntuk almamater tercinta, kampus biru, kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada,

Nama besarmu tak akan pernah tergantikan. Tapak pastimu dalam membimbing bangsa tak dapat disangsikan. Harapan negeri ini tertumpu di pundakmu. Kami berharap semoga kampus biru Universitas Gadjah Mada ini senantiasa berkutub pada rakyat, bukan pada pejabat dan birokrat, menjelmalah menjadi kampus populis bukan elitis apalagi politis, kampus yang dikelola dengan hati dan idealisme sejati, bukan oleh, maaf, kepicikan dan pragmatisme. Sehingga tetaplah menjulang tinggi bagai mercusuar, yang meskipun tinggi terus menerangi dan menunjuki yang dibawah untuk berjalan di jalan keselamatan. Sehingga engkau akan melahirkan putera puteri terbaik bangsa yang jenius sekaligus religius, yang menyediakan solusi bukan provokasi, yang menggugah semangat juang bukan hanya sebatas uang.

Sebab bangsa ini butuh para cendekiawan yang bijak, pemimpin yang senantiasa mengayomi rakyatnya dengan kejernihan hati dan pikiran, penyelenggara negara dengan integritas tanpa cela, teknokrat yang memeras keringat untuk rakyat, serta pemikir yang mengukir peradaban. Hingga semua itu membawa negeri Indonesia tercinta ini ke peradaban emasnya, kemajuan, kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan bersama.

Bangsa ini merindukan putera-puteri terbaik bangsa yang bersedia mengutub kepada rakyat dan menjaga serta mengembangkan bangsa ini hingga menjadi pencelup, pewarna peradaban dunia. Kami percaya, di bawah kinerja para putera-puteri terbaik bangsa yang tulus, jujur, berdedikasi tinggi, dan berjuang untuk memajukan negeri’ di bawah panduan para senat terhormat dan empu guru nan bijaksana, insya Allah Universitas Gadjah Mada akan sanggup mengemban tanggung jawab ini dengan sempurna.

Hadirin yang mulia,

Di hadapan almamater kami, orang tua tercinta kami, empu guru kami, serta seluruh tamu undangan, perkenankanlah kami pamit mohon diri, untuk meneruskan jejak langkah kehidupan sambil menyimpan dan memandang monumen kebahagiaan ini terus dalam hati. Izinkan kami menjadi insan yang diamanatkan Muhammad Iqbal dalam potongan syairnya:

 Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu

Hembuslah panas nafasmu di atas kebun itu

Agar harum nawastu meliputi segala

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyi ombak jua

Hanya berbunyi ketika terhempas di pantaiku

Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu

 

Terakhir, doakan kami untuk senantiasa dapat menjaga amanah kehidupan dan terus, menginspirasi tiap insan untuk mengabdi pada Tuhan dalam memakmurkan bangsa dan negara, menuju kejayaan jua. Sentuhkan tangan lembut kalian pada kening kami dan restuilah kami untuk senantiasa menjadi air bah peradaban bukan hanya ombak, agar bertumbuh sempurna, bak padma mekar di tengah kolam, tetap indah meski di tengah lumpur. Amin…

Terima kasih atas seluruh perhatian, mohon maaf atas segala salah dan khilaf kami.

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Kau selalu puisi nan wujud dalam jantungku yang terus berdenyut.

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s