Jogja-Cilacap et Memoar

Masih batuk. Pagi-pagi betul aku duduk di tepi toko yang masih tertutup. Jalan Wates masih agak lengang, sekali ini aku memutuskan membuka tas dan mengeluarkan ‘Kebahagiaan yang Pendek Macomber” nya Ernest Hemingway dan mulai menderas. Sesekali ku keluarkan handphone, melihat pesan yang masuk. “Kami baru menjemput mbak Deera”, aku menjawab ‘Oke’ dan kembali memasukkannya ke saku celana. Setelah selesai dua cerita tentang Perancis aku mendongakkan kepala dan terlihatlah pelangi pagi itu. Cantik.

Setelah berapa lama hujan rintik turun membuat jejak titik di atas aspal. Debu menari-nari dipermukaan jalan. Sebuah panggilan masuk, dan ku angkat

“Kami ada di sebelah barat mu”

“Dimana?”

“Di depan pasar”

“Baiklah, tunggu!”

Sekali lagi aku terbatuk, dan kembali melangkah kekiri, ke arah barat. Tepat di depan pasar Gamping, sebuah mobil xenia hitam berhenti. Pintu belakang terbuka dan seorang teman keluar sambil terkekeh, “Sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk sambil masuk ke dalam, duduk di kursi pojok kiri belakang, di dekat Mas Baytul.

“Sehat, Mas Bowo?” tanyaku pada pria berkacamata di belakang stir. Ia menoleh kebelakang sambil tertawa kecil “tentu saja” teman yang keluar memberi ruang ikut masuk dan menutup pintu. Mobil kembali menderu, lalu mulai berjalan pelan. Teman-teman mulai berbincang mengenai apapun, kuliah, teman, calon teman seumur hidup, kuliah lagi, lalu teman lagi dan seterusnya. Aku duduk sambil mengamati sebuah undangan berwarna merah, “Rani Afifah dan Andyk”, sempat tersenyum, ‘apa Andyk yang jago main bola?’ tanya salah satu bagian diriku, yang lain menjawab ‘mungkin saja, yang jelas kita akan ke Cilacap’ lalu berhenti. Aku memutuskan berbincang dengan teman yang ada di samping dari pada dengan hatiku.

Empat setengah jam kemudian kamipun sampailah pada sebuah pesta pernikahan. Setelah menduga-duga apakah rumah Rani lebih jauh dari RM ‘Bambu Seribu’ (jawa), ataukah sebelumnya. Dalam hati aku berkata ‘taskete’ ketika melihat sebuah acara pernikahan dengan tulisan ‘Rani dan Andyk’ 45 km sebelum RM tersebut. Beruntung sekali.

Kami turun dari mobil, mengisi daftar tamu, lalu masuk ke area pesta. Hampir saja menjarah, tapi akhirnya memutuskan untuk menjadi ‘manusia’ saja. Mas Baytul yang membawa kamera sempat memotret dua tiga kali, Ratih sempat menolak untuk makan banyak (tapi hebatnya bertahan untuk tidak makan bakso demi someone or something), dan Mbak Pipin memuji ke-pahitan Pare ayam sambil terus mengunyah. Mbak Deera tertawa sekali dua kali dan aku hanya terus mengunyah makanan yang ada di depanku. Ah, entahlah cerita apa lagi yang bisa kuceritakan, semuanya teramat sederhana tapi mengena.

Barakallahulaka wabaraka’alaika wajama’a bainakuma fii khair Mbak Rani Afifah dan Mas Andyk (bukan dari Persebaya). Juga Mbak Pipin yang hendak melanglang ke Bali, juga Mbak Ratih dengan impiannya, Mas Bowo dan istrinya, Mbak Deera dan Mas Baytul dan tesisnya, juga Mbak Siti Zubaidah dengan karirnya. All izz well.

Aku memikirkan satu paragraf di atas ketika duduk di meja bundar, tapi hanya kata All Izz Well saja yang melompat keluar dari bibirku. Teman-teman tak menghiraukan, aku kembali mengunyah makanan.

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

2 thoughts on “Jogja-Cilacap et Memoar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s