Olah Raga, Olah Pikir, Olah Jiwa

Olah raga, sedemikian seringkah atau sedemikian jarangkah kita? Ah, saya jadi membayangkan demikian banyak orang memikirkan tubuhnya demikian intens. Hampir seperti pengamat saham di bursa efek. Ketika tembem sedikit tuh pipi, sudah bingung, apalagi kalau mulai pertumbuhan ke samping atau ke depan.

Hm, jadi bertanya-tanya juga, ada nggak ya yang sering ‘olah’ yang lain. Bukan olah nasi, sayur, lauk, tapi ‘olah pikir’ dan ‘olah jiwa’.

Olah pikir memang penting, bisa dengan catur (saya suka menyebutnya olah pikir daripada olah raga, lha bidak caturnya nggak seberat babel kok), atau mengisi TTS. Kadang kecanduan bahkan. Berikutnya bagaimana dengan ‘olah jiwa’?

Bagaimana caranya ‘olah jiwa’? Hm… membingungkan betul yang terakhir ini. Yang pertama bisa lah di usahakan sepekan tiga kali, yang kedua sewaktu-waktu bisa, yagn ketiga ini lho, aneh. Menurut saya sih ‘olah jiwa’ ini penting dilakukan, dan selama kita hidup. Wow, sedemikian lebay kah? mungkin. Sebab ‘olah jiwa’ itu mulai dari menahan marah, ngurangin total makan, kalau pas jalan-jalan ke mall dompetnya dimasukin dalem-dalem (kecuali niatnya emang beli barang), pas di jalan menghindari kebelet (ngebut maksudnya), menahan jempol kiri dari bel motor, menahan lidah dari ngomongin tetangga yang wuih nyebelinnya, dan lain-lain.

Bukannya yang terakhir ini paling melelahkan? Mungkin juga yang paling menyehatkan (walaupun belum tentu mencerdaskan)

Advertisements

13 Replies to “Olah Raga, Olah Pikir, Olah Jiwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s