Cerpen Tentang Cerpen

Aku duduk di depan komputer yang diberi nama Liyan oleh adik perempuanku. Memandangi keyboard, lalu beralih ke layar. Jemari, sudah ku letakkan ke atas papan tuts, hendak mengetik a la sepuluh jari seperti yang diajarkan oleh Pak B sepuluh tahun silam.

Apa yang harus kutulis? tanyaku. Kemudian aku memutar kembali lidahku dan kuyakinkan pada diriku, tidak ada yang harus kutulis. aku cukup berpura-pura menulis saja disini. Kalau istriku melihat, aku akan mengatakan aku sedang menulis cerpen.

Detak detik jam terdengar, beberapa kali suara kucing mengeong di luar pintu rumah. Anjing-anjing tetangga juga tak mau diam, terus menggonggong. Merinding juga rasanya tengah malam mengetik sendirian, tak tahu apa yang akan di ketik.

Sekitar lima belas menit berlalu, dan layar Word di depan mataku masih kosong, beberapa kali aku mengetik huruf, namun berakhir dengan Backspace yang ganas. Aku mulai malas mengetik lagi. Apa ada ide lain selain mengetik cerpen? pendek namun harus lezat. Lezat namun bergizi. Tiga gabungan yang membingungkan.

Sejujurnya aku bisa mengetik yang pendek, tapi tidak lezat. Semua diksi yang kugunakan hanya obrolan acak, atau kadang terlalu ilmiah. Sesuai dengan gelar Master of Biotechnologi yang tersemat gagah di belakang namaku, namun agak membuatku malu. Singkatannya M.Biotech sering terpeleset jadi M. Idiotech di kepalaku. aku malu.

“Aha, aku menulis saja tentang gelarku ini. mungkin aku bisa memulai dengan kata yang pendek dan kuat seperti yang diajarkan Papa Hemingway” teriak batinku. Aku mulai mengetik kata pertama, kedua, ketiga hingga akhirnya titik. Kubaca sekali lagi, ternyata tiga baris. Sama sekali tidak pendek. Tidak lezat. Tidak bergizi.

Suara pintu dari belakang terbuka. Lantai bersuara langkah. Istriku mendekat lalu merangkul leherku,

“Menulis apa, Say?” bisiknya. Buru-buru kutekan backspace dengan ganas. hingga tak tersisa satupun kata.

“Tak menulis apapun. aku bingung, Yank”

“Mungkin kamu perlu menuliskan cara menulis cerpen terlebih dahulu. Cerpen a la Eru”

“Ah, benar juga” kataku sambil memalingkan wajah. Kembali menatap layar kosong. satu garis tegak sisa backspace berkedip-kedip, seperti mengejek.

“Tapi aku tidak bisa menuliskannya Yank, banyak yang sudah menuliskannya”

“Apa peduli kita Say, kamu harus menuliskannya”

“Baiklah” jawabku. Aku mengambil nafas, lalu mulai menekan kata pertama ‘cara’ lalu kedua ‘menulis’

“Pet’ layar monitor padam. Lampu padam. Listrik padam. Hanya kegelapan tersisa, dan hangat rangkulan tangan istriku yang masih melingkar di leher.

Eru Armuno@CerpenLangitanah

Advertisements

11 Replies to “Cerpen Tentang Cerpen”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s