Ketakutan

Ketakutan yang paling menakutkan. Ada yang pernah mengalaminya? Saya pernah, ada ketakutan penelitian tidak kunjung usai, ketakutan kalau membayar semesteran lagi (secara kantong sudah kopong), ketakutan akan masa depan, ketakutan akan masa kini, ketakutan akan masa lalu. Rasa-rasanya kalau melihat cermin, yang terlihat hanya wajah penuh kejujuran eh ketakutan.

Lalu, ketakutan itu sebenarnya apa? Mungkin ada yang mau berbagi?

Beberapa waktu silam ada yang mengatakan ketakutan itu karena saya tidak memiliki ketetapan hati. Apakah benar? Mungkin. Ada juga yang mengatakan ketakutan muncul karena kita tidak berani (ini mah hanya balik kata saja), atau ketakutan itu ada karena kita manusia (binatang juga takut kali, lihat itu kijang-kijang atau bison berlarian ketakutan pas dikejar singa), jadi alhasil saya berkelana ke sana ke mari mencari alamat penjelasan.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakitatau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaankesedihan, dan kemarahan (Wiki)

Jadi, ketakutan itu adalah bagian dari emosi dasar untuk bertahan hidup. Tidak perlu dilawan, hanya perlu disadari. Kenapa saya takut? ancaman apa ini? Sakit? Bahaya? atau angan-angan akan semua itu? Kalau hanya angan-angan akan ancaman, bahaya, rasa sakit maka semestinya segera bangkit dan bilang ‘say no to fear’, tapi kalau bahaya betulan ya mendingan ambil jurus ‘langkah seribu’ atau ‘hadapi dengan gagah berani’.

Ketakutan apa yang paling mengancam kamu? Mari berbagi 🙂

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

33 thoughts on “Ketakutan”

      1. pemberani dlm hal apa dulu nih ?

        terus terang bingung juga jawab pertanyaanya, soalnya mnrtku butuh waktu dan energi byk kalau mikir soal ketakutan dan biasanya kalau dipikir begitu akan muncul kebenarannya, mnrtku pribadi sih

        Like

      2. hmm .. gmn ya .. spt contohnya dulu waktu aku msh tingal sendirian di rumah org org bilang aku pemberani, nggak takut krn bisa tinggal di rumah sendirian, perempuan, padahal belakang rumah tanah kosong terus tetangga cuma satu dua, mereka nggak tahu aku juga manusia biasa, rasa takut pasti ada tapi kalau aku dikelilingi rasa takut terus, akan menjadi kenyataan takut itu, semisal kalau aku nggak suka mikir hantu , nggak percaya krn kl percaya aku akan ditemui, khan aku tinggal sendirian di sana, walau mungkin munculnya hantu itu krn imajinasiku sendiri, jd sptnya ini juga cara aku mempertahankan diri … ngeh nggak ya maksudnya ?

        Like

      3. bener mbak, kadang itu hanya imajinasi saja kok. ini yang saya tadi maksud takut dengan hayalan 🙂
        kalau pas ngadepin masalah, pernah takut nggak mbak?

        Like

      4. Aku itu org yg nggak bisa tidur kalau lg ada masalah , apa saja, sekecil apapun masalahnya, jadi sebisa mungkin hrs segera dipecahkan hari itu juga krn kl nggak aku yg rugi krn hilang waktu tidurku, kalau soal takut .mungkin ya pernah ada tapi jarang kurasa krn aku biasa terbuka sama suami, bgt juga sebaliknya, kalau pas ada masalah ya kami hadapi bareng dan prinsip kami jgn sampai masalah menggangu dan ngendon di pikiran terus soalnya kami yg rugi, jadi ya dibawa santai sambil dicari pemecahannya, dalam hal ini baik aku dan suamiku slaing tergantung satu sama lainnya, kadang suami yg kuat kadang aku yang kuat utk tak terlalu terjebak memikirkannya, yg kuat itulah yg dominan dlm memberi dukungan, kl sdh terbiasa dgn hal ini Insya Allah nggak takut menghadapi masalah krn bisa diusahakan bersama cari jalan keluarnya .. ini mnrt kami pribadi lho, nggak tahu ya kl org lain

        Like

      5. iya , kalau sudah biasa terbuka, masalahnya khan nggak semua orang bisa terbuka dengan keluarga bahkan suami istri juga tak sedikit yg nggak bisa terbuka satu sama lainnya, kalau yg begini mungkin jadi lain ceritanya krn akan masuk pihak ke tiga dr luar, kalau memang butuh dan mau ya, krn byk juga yg lbh suka memendam masalahnya sendiri

        Like

      6. nah itu dia mbak, keterbukaan. kadang kita suka menutup diri sih ya… kalau diredam, sebenarnya dikhawatirkan juga sih jadi ‘bom waktu’

        Like

      7. tergantung sama orgnya juga sih, krn aku jg pernah mengalami masa di mana aku nggak bisa menceritakan masalahku sama org atau keluarga bahkan shbt sekalipun saat belum nikah dulu, kl sdh begini beda beda cara org menanganinya ya, kalau nggak tersalurkan masalahnya ya memang bisa jadi bom waktu yg setiap saat meledak

        Like

      8. Kalau mnrt pengalamanku ya ada, khan nggak perlu dikempeskan, orang sdh tercurahkan langsung, jadi sedikit demi sedikit bomnya mendingin belum sempat panas apalagi mau meledak

        Like

      9. Betul, memang mungkin itu jadi salah satu jalan, mencurahkan langsung mbak. Kalau saya biasanya pakai tulisan pendek, atau mengisi diary (yang sudah lama tak terisi) hehe

        Like

      10. wua ha ha jadi balik di tanya ini. saya pernah mbak, tapi tidak meledak justru sebaliknya, terpendam dalam, terlalu dalam hingga pusing sendiri. itulah awalnya kenapa saya menulis he he… meregangkan syaraf.
        Dulu mbak El mengatasinya gimana?

        Like

      11. Ya khan beda ya wanita sama pria, walau nggak semua sih, ya diledakkan , jadi mengalir airnya, lega, berdasar pengalaman itulah ke depannya jadi berusaha untuk nggak memendam, dicurahkan begitu jadi yg ada mbrebes mili, kalau yg ini mnrtku lbh menyejukkan daripada yg meledak itu

        Like

      12. Iya, pas aku mencurahkan itu yg ada ya mbrebes mili ini, sejuk banget

        Knp hrs malu atau keki kl pria menangis ? suamiku juga pernah mrebes mili, barengan

        Like

      13. wow, pas ada masalah besar apa mbak kok suami juga ikut mrebes mili? atau trenyuh bareng nich?
        saya lama sekali nggak bisa mrebes mili. mungkin beku ini ya

        Like

      14. Mungkin kalau sudah sehati , mrebes mili itu spontan terjadi ya, di mana saja, nggak peduli di tengah jalan, di rumah, di sana , di sini

        aku kalau mbrebes mili itu seringnya pas dialog vertikal 1/3 akhir malam itu ya, kurasa sebeku apapun sebuah hati bisa melumer deh di suasana saat itu

        Like

  1. menurut saya ketakutan itu berasal dari pikiran. jadi kitanya yang harus belajar mengendalikan pikiran kita sendiri. seorang sinshe/dokter pernah mengajari saya untuk ikhlas, memaafkan dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. memang gak gampang tapi bisa dilatih dan dibiasakan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s