(Tidak) Menyimak Pelajaran

Menyimak pelajaran atau tidak, ia akan tetap diajarkan. Ya, paling tidak itulah yang kita hadapi dalam hidup. Entah pelajaran di sekolahan atau di kehidupan sehari-hari. Ada banyak orang melihat namun sedikit orang yang mau menyimak. Bedanya apa? Ah, jangan bilang menyimak kalau hanya melihat sebentar sebab menyimak itu seperti mengarahkan seluruh wajah, pikiran, perasaan untuk satu hal yang sedang terjadi di depan mata. Sebagai contoh, pas lagi keluar dari gang kampung, berbelok ke kiri menuju kantor eh di jalan ada kecelakaan. Nah, kita menyimak atau melihat?

Melihat, paling tidak itu yang saya lakukan. Ya, hanya melihat. Tidak ada esensi apapun yang saya serap, tidak ada getar-getar kasihan (kejamnya), dan terkadang terlalu egois untuk berhenti dan menjenguk orang itu. Ah, buruknya sifat saya.

Bagi mereka yang hatinya telah terasah, mereka akan menyimak. Membaca yang tidak terbaca, dan melakukan tindakan yang tidak dilakukan oleh orang lain. Ketika melihat kecelakaan itu ia akan membaca ‘orang tertarik pada berita buruk’, lalu ‘penanganan yang lelet dari para pihak yang semestinya bertanggung jawab’ dan seterusnya. Kalau kamu, sudahkah kamu menyimak? (Sambil mengacung pada bayangan wajah sendiri di kaca)

Advertisements

4 Replies to “(Tidak) Menyimak Pelajaran”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s