Penipu Episode 5

5. Laut

Laut malam itu sepertinya tak lagi menjadi ibu bagi para nahkoda atau pun bajak laut. Ia menjelma raksasa yang menghamburkan semua yang ada di langit, menari seperti malaikat yang berdansa dengan langit. Ombak bergulung meninggi hingga melebihi separoh tinggi kapal, menghantam buritan, memutar arah kapal dan mematahkan tiang-tiang. Menenggelamkan mereka yang menarik tali temali, membuat para pendosa bertaubat seketika. Di tengah-tengah lautan yang sedang mengamuk, Kapten Cripple tetap berdiri di bagian hulu kapal sambil mengacungkan pedang panjangnya ke ombak yang menghantam sambil menyanyikan sebuah puisi

Kemarilah, hadanglah, hantam aku sekuat karang
biar semua yang kau miliki kuserap jadi pasir
dan aku akan masih berdiri di buritan menjadi penjaga
menjadi karang yang tegak menantimu
Datanglah, hantamlah, luluh lantakkanlah
sebab kami berada di laut ini sebagai serpihan
yang dipermainkan ombak gelombak bernama takdir

“Kapten, apa yang harus k…..i…..ta laa….kukan…” teriak salah satu anak buahnya yang bertubuh pendek, Jo. “Tiang utama telah retak dan hampir patah”

“Benar kap….t..e…..en” sahut yang lain

“Diamlah, lihat gelombang-gelombang itu datang bagai singa menerkam kijang. Kitalah kijang itu, dan nampaknya inilah akhir sejarah kita”

‘Kreetak…. byur……” tiang utama patah, ombak datang menghantam
Di sudut lain, Hans duduk dan berulang kali berusaha menyalakan api. Tapi padam oleh gelombang, cerutu yang tak pernah dinyalakannya di rumah itu, hanya menggantung dibibirnya yang menyeringai pada maut. Di sudut lain, orang-orang berlarian dan berteriak seperti takut mati. Sedang diujung lain lautan itu, kapal-kapal barang yang hendak dirampas telah ditenggelamkan badai.

Malam itu, tak ada lagi yang tersisa dari kenangan Frans, melainkan hanya malam terakhir yang tidak menyenangkan. Dan sampai detik Frans memutuskan untuk menaiki kapal dari pelabuhan, tidak pernah ditemukan satu pun puing kapal, atau kabar tentang ayahnya.

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s