Benci Menulis

Kalo beberapa waktu silam sudah saya tulikan satu catatan tentang ‘menulis-menulis-menulis’, sebenarnya kali ini mau omong jujurnya. Begini sebenarnya entah sejak kapan saya mulai menulis, yang jelas awalnya menulis adalah aktivitas yang paling saya benci. Jangan tanya kenapa, karena alasannya adalah di lengan kanan saya yang bermasalah sehingga kalau disuruh mengarang, menulis esai atau mencatat pelajaran pasti saya hanya akan mencatat sedikit, menulis sedikit dan mengarang paling sedikit. Kalau tidak, saya bisa tidak pulang hari itu karena tidak bisa mengendalikan sepeda ontel.

Kok bisa? Ya bisa saja, kata dokter waktu itu sih ada syaraf yang putus atau tertindih begitu di bagian lengan atau tulang belakang (saya lupa) yang mengakibatkan aktivitas tangan kanan tidak terlalu baik, mudah capek, dan kalau sudah over, bisa … lunglai n letoy…. (wedew ini bahasanya agak melambai he he)

tapi untunglah ada keyboard komputer. jadi saya bisa menulis dengan ‘hanya’ mengeluarkan tenaga yang lebih sedikit di lengan bagian kanan. yah, walaupun kalau mengetik sudah lebih dari lima halaman A4, 1,5 spasi 4433 ya harus tepar juga nich lengan…

Over all benci pada tulisan itu ternyata justru mengantarkan saya pada kesukaan pada tulisan di komputer ini (karena tulisannya jauh-jauh-juaaauuuh lebih keren dibandingkan dengan tulisan tangan dan lebih penting lagi bisa dibaca). Selebihnya, Β ya terserah kalau ada yang suka ya dibaca kalau tidak… saya baca sendiri. Seperti muadzin di kampung sebelah: adzan sendiri, iqomat sendiri, jadi imam sekaligus jamaah sendiri, dan pulang juga sendiri…. yang jelas Allah melihat kok… thanks Allah….

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

21 thoughts on “Benci Menulis”

  1. apakah lengan kanannya sekarnag sudah nggak bermasalah lagi ?

    saya pernah ada masalah dengan tangan kanan , jadi harus pakai bandage, dan itu menyulitkan untuk ngetik , jadi hrs pakai tangan kiri, ya akhirny akegiatan ngeblog sementara berhenti saat itu

    Like

    1. berlanjut sampai detik ini mbak… jadi ya menulis novelnya jauh lebih perlahan… apalagi keyboard di rumah rusak dan yang tersisa adalah keyboard buat game punya adik yang ‘keras’ sehingga lebih cepat capek…
      kalau lengan mbak sudah pulih kah?

      Like

  2. yg penting msh bisa nulis novel khan walau perlahan, apakah ada kemungkinan cepat sembuh ?

    ya lumayanlah, kalau lupa sering ngangkat benda berat, jadi nyeri lagi tangannya, tapi nggak lama juga, tetap bis angetik

    Like

    1. syukurlah…. πŸ™‚
      Ya memang orang indonesia selalu melihat segala sesuatunya positif ya mbak, kalau lengan sakit ya syukur masih bisa sembuh, kalau ngilu ya syukur masih bisa ngetik dan seterusnya.. dan inilah yang menyemangati saya belakangan ini… πŸ™‚ (jadi nggak benci nulis lagi hehe)

      Like

      1. dan secara psikologis justru membikin kita makin ‘cacat’ walaupun tidak ‘cacat’. padahal orang yang memiliki keterbatasan sekalipun tidak akan ‘cacat’ kalau mau melihat potensi lain yang jauh lebih besar dibalik tutur kata, catatan sederhana, ataupun kisah kesehariannya (jadi ingat video paralimpic)

        Like

    2. syukurlah…. πŸ™‚
      Ya memang orang indonesia selalu melihat segala sesuatunya positif ya mbak, kalau lengan sakit ya syukur masih bisa sembuh, kalau ngilu ya syukur masih bisa ngetik dan seterusnya.. dan inilah yang menyemangati saya belakangan ini… πŸ™‚ (jadi nggak benci nulis lagi hehe)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s