Penipu Episode 4

4. Malam

“Kegelapan pekat

tanpa cahaya

melihat tak melihat

mimpi jadi buta

dalam pencarian

dalam pengorbanan

aku terserak, makin tenggelam”

Puisi ini berulang kali dibaca oleh Aldelia di ‘rumah’nya. Sebuah gulungan berwarna cokelat kekuning-kungingan yang konon ditulis oleh seorang perempuan. Ibunya. Ayahnya yang tua beberapa kali terbatuk sambil mengerang. Hari ini selama ia melompat-lompat menanti kedatangan Frans, ayahnya sudah muntah darah dua kali. Orang di pulau menyebutnya terkena penyakit yang disebut ‘muntah darah’ tapi menurutnya, ayahnya baik-baik saja. sebab dalam ingatannya ayahnya selalu muntah darah. dan tetap hidup.

“Aldelia, Aldelia… kemarilah Nak” teriak lemah sang ayah. Aldelia menggulung kembali puisi dan memasukkannya ke kantong rok putihnya, lalu mengambil ‘kaki’ palsunya dan melompat-lompat menuju ruang dalam. Ia melewati gambar-gambar yang dibuat Frans sore tadi diantara remang-remang lilin yang dibawanya melompat. Bayang-bayang seperti menari-nari naik turun mengikuti cahaya lilin yang sesekali hampir padam.

“Ada apa Pap?” Aldelia melompat sekali lagi, hingga berada didekat pembaringan ayahnya. Ia melihat wajah pucat ayahnya yang diliputi oleh jambang lebat berwarna kelabu. Sambil meletakkan lilin diatas meja kecil berwarna hitam, ia mengambilkan segelas air putih yang terletak di meja itu. “Minumlah yah, agar kesehatan meliputimu”

Lelaki tua bermata biru itu menatap wajah putrinya diremang-remang cahaya lilin. Tersenyum kecil, menerima segelas air lalu mencoba mereguknya sedikit. lalu menyerahkan kembali pada putrinya.

“Minumlah yang banyak Pap, Alde nanti ambilkan lagi di luar”

“Tidak perlu Aldeku, princess mungilku yang cantik. Ayah akan tidur panjang malam ini. Tadi ibumu datang dari langit-langit dan mengabarkan rumah kita yang telah dibangun taman hijau didepannya.”

“Paps bicara apa. Ibu Alde adalah Pap, ayah Alde adalah Paps, tidak ada yang lain”

“Kalau Frans? bagimana si pangeran kecilmu itu?”

Tersipu Aldelia hanya tersenyum. Terlalu dewasa untuk anak sekecil itu untuk mengetahui kalau ayahnya sedang menggoda. Tapi ia hanya terkekeh, lalu menjawab “Dia hanya anak kecil yang suka menggambar”

keduanya tertawa bersama. Diluar suara petir mulai terdengar menyusul suara air yang membuat suara ketokan diatap, dan di tanah-tanah di sekitar gudang. Malam makin kelam ketika ayahnya mengatakan “Bagaimana puisi Ibumu itu, masih kamu baca princess?”

“Iya” Aldelia mengangguk cepat. tersenyum “penuh misteri, dan cenderung aneh. Alde tidak menangkap apapun tentang puisi itu Paps”

“Kamu masih terlalu muda. Suatu hari nanti kamu akan tahu, tapi malam ini terlalu larut, mungkin temanmu sedang meringkuk di depan perapian sambil membayangkan peperangan diluar sana. Sedangkan putri cantikku ini akan tidur saja malam ini, bagaimana pendapatmu tuan putri?” tersenyum

“Baiklah, aku juga mengantuk. Paling tidak aku tidak akan memimpikan peperangan, atau apapun. AKu hanya akan melihat taman-taman bunga yang terhampar, dan menjadi seorang yang biasa-biasa saja

***

5. Kapal-kapal Karam

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s