Penipu: Episode 1-3

1. Pulau Bandit

Sudah lama lorong-lorong di kota ini dipenuhi oleh orang-orang yang berprofesi sebagai apapun. Mulai dari pengedar obat terlarang, hingga yang menjual manusia sebagai budak. Konon mereka diculik dari jalan-jalan kota asing, diangkut dengan kapal-kapal barang dan tiba di Kota Brutal ini sebagai budak. Tidak banyak yang datang kesini untuk mencari orang-orang malang itu sebab seberapapun banyaknya orang-orang yang hendak menolong, selalu saja kandas ditengah jalan. Atau setidaknya kalau mereka mampu mendarat di pulau ini sekalipun, mereka toh akan berakhir di tiang gantungan atau menjadi budak yang lain.

Beberapa diantara mereka yang selamat dari pengadilan, orang lain menyebut mereka pengecut, hidup disekitar pulau, atau bahkan menjadi penghuninya. Syaratnya tak terlalu muluk, cukup menjadi bagian dari kawanan bandit ini, dan kamu bisa memiliki sepetak tanah untuk kau tempati. Paling tidak, itulah yang juga dialami oleh seorang laki-laki pembuat senapan bernama Hans.

“Hans, sudah siap?” pemimpin bandit datang kepadanya sore itu bersama tiga orang kerdil berkulit hitam: Jo, Lo, Mo.

“Belum, paling tidak masih membutuhkan lima senapan lagi dan kita siap berangkat” tak acuh sambil mengecek laras senapan buatannya

“Kapan?”

“Dua hari lagi”

“Baguslah, aku tak terlalu terburu-buru” ketika itu seorang anak laki-laki Hans keluar membawa satu buah senapan, meletakkannya diatas meja. “Oi, Frans kamu sudah besar ternyata. buatanmu?” ia jongkok sambil memegang kepala si anak lelaki berambut hitam legam itu. Matanya menatap kepala pulau lalu mengangguk.

“Aku membuat lima, dan semuanya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. jadi tuan, berhati-hatilah memilih senapan kami” ia tersenyum, matanya tak berkedip.

“Tutup mulutmu penipu, tidak ada satupun yang salah. semuanya sesuai pesanan” bentak Hans.

“Tak perlu memarahi anakmu seperti itu. Dia hanya mengatakan kebenaran saja”

“Anda tidak tahu apapun tenang anak itu. tangannya mungkin kecil pada usianya yang sepuluh itu, tapi kecepatannya dalam menyusun senapan jauh melampauiku yang sudah sembilan belas tahun menggeluti bisnis ini. Dia seorang ahli. secara a-l-a-m-i” Hans meletakkan senapannya, mengambil senapan yang baru diselesaikan Frans dan mengarahkannya ke seekor kupu-kupu yang melintas. satu suara tembakan, dan satu sayap kupu-kupu itu berlubang. Serangga malang itu meliuk-liuk hingga sampai ke lantai lalu menggelepar.

“Tembakan yang luar biasa. kalau saja kamu bukan pengecut, tentunya kamu sudah jadi orang besar”

“Tapi mati di tanah ini bukan? hentikan omong kosong ini. Aku adalah aku saat ini, bukan dimasa lalu.” Hans menatap lurus mata pemimpin gerombolan “ini oleh-olehku. cobalah dan kamu tahu kalau anakku itu penipu Cripp”

“Tak masalah Hans, tak masalah” lelaki itu berdiri, sekali lagi menatap wajah tak bersalah Frans kecil lalu berpindah ke mata Hans. ia memberi kode, Jo mengeluarkan sekeping perak untuk kerjaan itu. “Ambilah ini” ia mengeluarkan koin emas dan melemparkan ke Frans. Anak itu hanya tersenyum kecil sedang ayahnya menggerutu lagi.

“Hentikan sandiwara kosongmu itu Frans, sama sekali tidak lucu” bentak Hans, anaknya tersenyum

“Aku tidak menipu, mereka yang terlalu mudah menganggap anak kecil terlalu jujur” Frans kembali menyusun senapan, hari itu empat dari pesanan disusun oleh si anak kecil. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di pulau itu dengan senapan buatannya dua hari lagi. tapi diluar, beberapa orang sudah mulai menyiapkan kapal dan meriam.

“Apa yang akan mereka lakukan Yah?”

“Besok kau akan tahu” keduanya kembali diam

***

2. Frans Horgen

Anak lelaki itu berkulit putih kemerah-merahan, mirip sekali dengan Hans, ayahnya. Ia beberapa hari terakhir sudah membuat sekitar sepuluh senapan yang diakui oleh sang ayah sebagai senapan terbaik. walaupun pujian itu diucapkan sambil meludah dilantai

“Cih.. omong kosong, anak sepuluh tahun sepertimu jauh lebih ahli dari seorang tua bangka pengecut sepertiku” katanya pagi hari setelah semua pesanan selesai. Frans hanya tersenyum sambil menghidangkan teh panas dimeja kecil setengah lutut di kamar depan. Hans duduk di lantai tanpa alas sambil memandangi pohon-pohon nyiur di pantai.

“Kau menambahkan gula di teh ku hei penipu kecil?”

“Tidak Yah, aku tidak menambahkan gula. Frans akan ke rumah Aldelia pagi ini untuk sebuah acara yang penting” Frans mengambil sepatu kulitnya yang diberikan oleh Rogerd, si pimpinan pulau, “dan tidak usah menungguku pulang untuk makan malam”

“Enyah dari pandanganku penipu kecil, aku tak butuh kamu pulang untuk makan malam. Dan titip slap in face untuk bapak Aldelia si brengsek tua itu” Hans mengambil satu keping perak dan melemparkannya pada si anak. Anaknya tak tersenyum hanya terus berlalu begitu saja. Semakin lama semakin cepat, ‘aku harus sampai di kelokan itu sebelum orang tua itu sadar’, ketika ia hendak mencapai kelokan gang, tiba-tiba ayahnya berteriak sangat keras

“Penipu sialan, cuih… GARAM…GARAM. KAMU PANTAS MAMPUS….” ia meraih senapan rakitan Frans dan mengisi peluru dengan sangat cepat, lalu membidik anak laki-lakinya yang berlari menuju tikungan gang, ‘Dor’ satu tembakan melesat, tapi meleset dan hanya mengenai tembok. Frans menghilang dibalik tembok. terdengar suara tawa anak laki-lakinya.

“Dasar sialan” umpat Hans, “Cuih”

“Hoi Hans, jangan membuat lubang lagi di tembokku atau kuguyur kamu dengan sop panas ini” seorang perempuan gemuk bertubuh pendek muncul dari jendela di tikungan gang. mengangkat panci panas.

“Urus-urusanmu sendiri penyihir bulat. aku tak punya waktu meladenimu”

“Apa, aku yang tidak punya waktu untuk memperbaiki tembok sialan yang kamu lubangi dengan peluru hanya karena tikus, cicak atau anak laki-lakimu itu. semestinya kamu mendidiknya dengan baik”

“per-se-tan dengan omonganmu, aku sudah mendidiknya cukup baik untuk merakit senapan. Dia juga penipu yang jauh lebih baik daripada suamimu itu. semoga dia tak kembali ke pulau ini dan melupakan telur busuk sepertimu”

“Sialan, kamu mau mati?” perempuan itu berteriak, parau. Lalu membanting jendela lalu mengambil senapan dari dalam kamarnya dan mengarahkannya ke kepala Hans, Hans berlari memasuki rumah sambil melindungi kepala. “Dor-dor-dor’ tiga peluru melesat dengan kecepatan sangat tinggi, menembus pintu kayu depan rumah Hans, Hans sudah tiarap di lantai sambil mengumpat ‘sialan, perempuan itu masih tidak bisa disepelekan urusan senapan”

Di sudut lain kota, Frans terkekeh-kekeh mendengar suara senapan yang saling baku tembak. Ia sampai di sebuah gudang tua yang sudah ditinggalkan yang dulu digunakan sebagai tempat membuat kapal. seorang anak perempuan kecil dengan satu kaki melompat-lompat dari belakang gudang. Rambutnya yang sepanjang pundak melonjak-lonjak. Wajahnya yang bulat berwarna cokelat terlihat penuh senyum ketika melihat Frans.

“Hoiii Frans, mau main dengan HoHob?” ia melonjak-lonjak mendekati Frans yang bersandar di dinding sambil menggigit rumput kering

“Ah, kangguru lagi-kangguru lagi. kenapa kamu selalu datang disaat yang tidak tepat seperti ini” keluhnya.

“Hentikan omonganmu yang seperti anak kecil itu Frans, aku memang punya satu kaki dan harus melompat untuk berjalan. tapi aku tidak punya kantung dan ekor yang cukup untuk disebut sebagai Kangguru”

“Memangnya kangguru itu seperti apa?”

“Sudah ratusan kali kuceritakan, kamu tetap saja lupa. apa kepalamu itu hanya berisi senapan, peluru, dan harta rampasan yang didapat dengan merampok di lautan?”

“Yah, kurang lebih seperti itu. tapi lebih baik ‘Kangguru cokelat’ ini menceritakan kepadaku tentang binatang di tanah kelahirannya, atau aku akan mulai bosan melihatmu melompat-lompat”

“Hihihi… lihat Frans, kamu seperti anak kecil yang merajuk. baiklah aku akan menceritakan kepadamu, asalkan kamu tidak mengirimkan slap on face pada bapakku yang tua itu” keduanya terkekeh-kekeh sambil berjalan memasuki gudang tua. Keduanya menggambar dengan arang di dinding-dinding, menggambarkan mimpi mereka masing-masing. Frans dengan sebuah kapal besar dengan meriam, beberapa anak buah yang melompat dari kapal, serta satu buah senapan buatannya sendiri. sedangkan si ‘kangguru cokelat’ menggambar binatang berkaki dua yang melompat, sebuah dataran luas tanpa penghuni dan kelinci-kelinci liar. Keduanya terus menggambar hingga petang berselang, sambil terkekeh- dan saling menyalahkan gambar.

***

3. Sore Terakhir

Frans dan Aldelia berhenti menggambar di dinding bangunan tua itu. Di luar seekor kupu-kupu melintas, dengan kepakan ringan mengikuti arah angin darat yang mulai berhembus. Terus melintas keatas, sehingga dari atas hanya terlihat bangunan-bangunan di pulau ‘perompak’ itu sebagai kubus-kubus dan bentukan lainnya. Dari kejauhan terlihat segerombolan laki-laki dan perempuan yang sedang mengangkut barang ke atas kapal, beberapa yang lain menenteng senapan yang baru diambil dari rumah sebelah timur. Rumah Hans si pengecut.

Sore itu, matahari berlindung dibelakang awan-awan sehingga malam seperti datang lebih awal. Seorang berkaki pincang berjalan melewati pohon-pohon kelapa lalu berhenti mengamati persiapan ‘perburuan’ kali ini. Dari balik tembok si perempuan penghujat yang sore tadi menembaki Hans sudah mengenakan pakaian seperti laki-laki. Tubuhnya yang pendek dan gemuk membuatnya sangat mirip dengan ‘telur’ seperti yang diteriakan oleh Hans. Si kaki pincang tersenyum ketika ia melintas dan memasuki kapal sambil menggumam ‘penembak jitu itu semestinya lebih ramping. tapi tak mengapa…”

seorang awak kapal dengan hidung yang panjang membengkok ke kanan menghadap, matanya bundar seperti mengabarkan ‘aku tolol’ tapi jangan lihat tampangnya, lihat kemampuannya yang jauh lebih tolol.

“Kapten, kami semua siap. Eh… tapi… ada yang kurang tidak ya kapten?”

“Menurutmu?”

“Eh… eh… hm…. coba kita lihat, Hans, si telur, lima belas anak cebol, satu hidung patah, dan si kaki pincang hm….” belum selesai ia bicara tiba-tiba ‘SLAP’

“Jaga mulutmu, menyebut kakiku yang cuma satu? bedebah. Kakiku yang satu diterkam hiu ketika melarikan diri dari perampokan pertamaku. brengsek, tutup mulutmu yang bau teri busuk itu, atau akan kupatahkan ke kiri hidung bengkok sialanmu itu Landnose” kata si kapten berteriak.

“Eh… hm… eh.. maaf-maafkan saya kapten satu kaki… maksudku tuan Cripple….”

“Diam, pergi dari hadapanku atau hidungmu tidak lagi bengkok tapi berlubang peluru” ….”dor’ sebuah tembakan mengarah ke atas membuat Landnose kalang kabut. Dari balik tembok dua anak kecil cekikikan melihat adegan drama ini.

“Dan kalian dua bedebah kecil, keluar dari tembok dan pulang sana kerumah kalian. Frans, Aldelia”

Frans keluar dari persembunyian lalu berdiri seperti komandan di samping sang kapten. dengan santai ia mengatakan

“Tenang kapten Cripple, perburuan kali ini akan cukup santai. Musuh tidak tahu apa yang mereka hadapi, dan lima belas kurcaci itu cukup pandai melihat gelomban”

Kata-kata anak kecil ini ternyata tidak membuat Cripple marah seperti ketika Landnose menyebutnya si kaki satu. Justru sebaliknya, membuatnya terkekeh-kekeh.

“Hentikan sok jagoanmu itu anak kecil”

“Hus, hentikan menyebutku anak kecil tuan, aku Frans Horgen. Laki-laki yang akan menjadi orang biasa-biasa, tinggal di tempat biasa, menikah, memiliki anak, dan mati muda. Tidak perlu terlalu banyak melihat penderitaan duniawi yang fana” tenang dan sok kuasa

“Hua ha ha ha ha…. ” kapten Cripple menarik dua orang pendek yang disebut kurcaci oleh Frans yang hendak lewat lalu meneruskan berkata “Lihat anak muda ini Jo, Lihatlah tampangnya ini. Dia benar-benar penipu. Tidak pernah adan anak muda yang berharap hidup biasa atau mati muda. Hans memang brengsek dengan ludah-ludahnya itu, tapi dia benar dengan kata-katanya kalau anak satu-satunya ini benar-benar penipu ulung. hua ha ha ha……” ia menepuk pundak Frans sampai hampir terjungkal. terus terkekeh

“Apa yang lucu tuan Cripple? aku mengatakan kejujuran di mulutku”

“Hua ha ha ha… di mulutmu jujur, tapi tidak di hatimu. seperti pengecut-pengecut yang ditawan dan mengatakan dia mau bergabung dengan kita, padahal hatinya meludah berkali-kali. mungkin membayangkan wajahku. seperti halnya ayahmu itu… hua ha ha…”

“Ah… omong apa si tua bangka ini” gerutu Frans, terdengar cekikikan Aldelia dibalik tembok yang sedari tadi menguping.

“Ha ha…. hammm…..” kapten Cripple berhenti tertawa, lalu jongkok di depan Frans

“Kukatakan ini Frans Horgen si orang biasa, atau mungkin penipu kecil. Kau tidak akan menjadi orang biasa-biasa seperti yang kamu katakan. Aku melihat tatapan matamu itu adalah tatapan mata Cripple kecil, atau Archon tua, atau… meskipun aku tidak mau mengatakan namanya…. Rostror brengsek yang mengambil kakiku ini. Kamu boleh tidak percaya apapun kata-kataku, tapi percayai kata-kata terakhirku ini” Ia menatap mata Frans yang tidak berkedip, masih terlihat jernih dan bingung mungkin “Sudahlah, kapal sudah siap. Aku akan berangkat berburu. jaga kanguru kecil di balik tembok itu untukku Frans”

Ia berdiri, lalu sekali lagi menepuk pundak Frans. Aldelia keluar ketika kapten Cripple berjalan menjauh dan mulai melambaikan tangan. Frans hanya tersenyum sambil mengatakan “omong kosong”. Aldelia kembali cekikikan ketika kapal menurunkan layar dan mulai bergerak perlahan-lahan. sore itu.

***

 

Advertisements

3 Replies to “Penipu: Episode 1-3”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s