Syair Elegi Angin dan Kekasih

Angin mengabarkan tentang aroma tanah basah yang dikirim oleh dzikir hujan keatas pelana-pelana kuda yang tersungkur di tepian gubuk dan tak ada yang mau menoleh padanya selama setengah malam penuh

Angin merembes melalui celah-celah dinding melewati pelana kuda nyala bara api kecil kelambu dan membisikkan pada tubuh kering itu tentang maut yang tak lagi berkenan bertamu padanya

“Apa yang kau harapkan dari maut bila ia enggan bertatap muka dengan kekasih lamanya ketika termaktub dikitab yang sama?”

Angin tak menjawab, cukup hanya membisu dan mendengar denyut jantungnya melemah membaca surat cinta kabur dicoret kaki ayam

“Pergilah sebab tak lagi kubutuhkan nafas dalam hirup hempas, cukup kudzikiri sisa terakhir kemalangan akan maut yang enggan”

Angin tak bisa bergerak, tubuhnya terhempas diseluruh hirup hempas si pesakitan yang maut enggan menjemputnya. seratus tahun kemudian angin masih tak bisa menemui kekasihnya yang bergelantungan di reranting musim

“Aku berterima kasih kepadamu karena menemaniku seratus tahun, Angin, pergilah dan temui kekasihmu” mautpun datang dan menggandeng tulang belulang itu menuju tanah lapang dimana ia memagut sambil tersenyum bahagia.

Ketika ia melintasi dinding tak lagi ditemukan pelana atau kuda semua berbeda dan ketika ia menjumpai pohon tempat kekasihnya tinggal telah tumbang tercerabut juga. Ia mencari mengelilingi seluruh ceruk dan ruang diantara bumi dan langit, namun tak berjumpa dengannya. hingga ketika maut turun dari langin membawa jiwa pesakitan yang gila

“Apa yang kau cari hai angin seperti gila menggila?” maut menenteng jiwa gila sembari mengayunkan sayapnya yang panjang

“Kekasihku, kekasihku, kekasihku” angin terus berputar hingga menjelma beliung yang meruntuhkan pepohon yang lain, rumah yang lain, menerbangkan pelana asing juga kuda-kuda asin

“Kau terlalu lama membuat keputusan hingga suatu ketika Tuhan memintaku menjemput kekasihmu lebih awal” maut melintas tak menoleh,

Angin menggila sebab ia tahu maut tak akan menjemputnya hingga sangkakala terakhir ditiupkan. mulai saat itu ia menjadi gila dan dingin tak peduli atas segala

Advertisements

8 Replies to “Syair Elegi Angin dan Kekasih”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s