Memahami Kematian, Merenungi Kehidupan

Ada yang ‘menarik’ hari ini ketika saya sampai di kantor karena ada panggilan oleh Dr. Mur. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tugas yang konon datang dari salah satu perusahaan di pesisir selatan itu belum juga datang. Bahkan sampai tulisan ini diketik, belum juga datang.

Namun setiap langkah yang kita jalani ini, saya yakin bahwa tidak ada yang sia-sia, pun hanya melangkah keluar untuk menghirup udara pagi. Semua itu seperti jejaring takdir yang berkait satu dengan yang lainnya.

Telepon

Selang berapa lama telepon laboratorium berbunyi. Pak Her mengangkat telpon dan memanggil saya “Pak Mur” kata beliau. Saya menjawab telepon dan ternyata, innalillahi wa inna ilaihi raji’un

telah meninggal dunia bapak mertua Dr. H. Yuni Irwanto, salah satu staf pengajar Fakultas Peternakan UGM. Kamipun segera berangkat ke sana. Sesampainya disana alhamdulillah masih sempat bertemu dengan Bapak Yuni dan menshalatkannya jenazah pula.

Kematian

suatu sambutan yang mengejutkan bagi saya. Ketika diumumkan melalui pengeras suara ternyata beliau, mertua Dr Yuni baru dua pekan di Jogja dan konon sudah bisa keluar dari bed rest rumah sakit Sardjito. Bersamaan dengan itu, beliau juga menambahkan bahwa semalam bapak sudah mulai kepanasan, sumuk orang bilang dan beberapa kali shalat sunnah. subhanallah. Kemudian baru tadi pagi jam 7 pagi Tuhan berkenan menjemput beliau melalui utusannya.

Paham

Ada kepahaman yang terpatri kini, bahwa kematian itu toh bukan disebabkan oleh sakit, kecelakaan, pembunuhan, luka, dan lain sebagainya. Banyak bukan orang yang sakit parah, divonis dokter bakal tinggal satu minggu tapi sampai sekarang masih bisa jalan-jalan? Banyak pula yang kecelakaan dan nyawanya masih berada di kandung badan. Disini saya paham bahwa kematian bukan semata-mata hukum “sebab akibat’ namun jauh lebih ‘tinggi’ dan ‘lebih suci’. Inilah yang disebut dengan takdir.

Renungan

Kalau melihat kepahaman itu, maka tidak salah rasanya kalau kita melihat manusia di depan cermin kita itu. Wajahnya, matanya, rambutnya yang tak lain adalah gambaran tubuh kita. Lalu bercerminlah pada diri itu, siapa sebenarnya saya dan mengapa saya hidup? maka akan ada banyak jawaban yang muncul. tapi terkadang, pernahkah kita bertanya “Apakah saya sudah memberikan yang terbaik dari dalam diri saya?”

Ah, hidup yang pendek bukan? lalu mengapa kita menyia-nyiakannya atau menunda berbuat kebaikan. Bukankah tidak ada yang tahu kapan ‘kepahaman’ itu datang?

Hak1m

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

2 thoughts on “Memahami Kematian, Merenungi Kehidupan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s