Menulis dan Menulis

Kali ini saya benar-benar jujur terhadap siapapun bahwa awalnya saya sangat-sangat tidak menyukai tulisan. Dalam karang mengarang di SD saya masih ingat hanya mengisi seperempat dari halaman dan sudah frustasi, begitupula dengan SMP. Hal ini berubah drastis ketika SMA dan ‘dipaksa’ oleh guru bahasa saya untuk mengirimkan karya tulis ke sebuah perlombaan kalau ingin mendapat nilai untuk mata pelajaran ekstra kurikuler KIR.

Nah, apa daya, akhirnya dengan ‘dipaksa’ lalu menjadi ‘terpaksa’ itulah saya mulai menulis. Apapun yang saya tulis kali ini benar-benar hanya memindahkan hayalan dari kepala hingga menjadi 12 lembar tulisan yang menurut saya sudah pantas untuk disebut sebagai cerpen. Paling tidak dengan 12 halaman itu saya bisa mendapatkan nilai di rapor entah A, B,C, atau D. tidak masalah karena toh saya juga ikut ‘tersesat’ dalam ekstrakurikuler itu.

Setelah pengiriman naskah pertama yang acak adut dan tidak jelas bahasanya, sebab saya tidak punya komputer waktu itu dan itu kali pertama saya menulis dengan komputer rentalan di daerah Kasihan, Bantul, sayapun melupakannya dengan sangat sukses. Hari-hari terus berjalan dengan sangat baik dan sayapun bisa menikmati hobi saya lagi untuk bermain pingpong, menyelinap di ruang olah raga, dan terkadang membolos pelajaran matematika untuk bermain futsal di lapangan basket.

Perubahan

Perubahan apa itu yang terjadi? sederhana, suatu ketika di hari senin saya mengikuti upacara Bendera yang waktu itu diadakan setiap senin sekali. kalau tidak salah di SMA saya saat ini hanya diadakan tanggal 1 dan 17 tiap bulannya. Nah di upacara itu tiba-tiba nama saya dipanggil kedepan dan diminta untuk menerima piala. “piala apaan’ pikir saya, tapi ya sudahlah karena sudah lima menit dan tidak ada yang maju sayapun maju. Guru KIR tersenyam-senyum didepan dan memberikan piala itu dengan bangga. tapi tidak dengan saya. Pasalnya setelah mendapatkan piala itu, ternyata saya melihat di pengumuman bahwa semestinya juara II tingkat provinsi mendapatkan uang 750 ribu. ukuran yang sangat besar bagi saya karena itu bisa digunakan untuk membayar biaya SPP sekitar 7 bulan. Bayangkan 7 bulan SPP bagi anak yang ‘kurang mampu’ (istilah lain miskin) adalah suatu berkah luar biasa. Namun, uang itu tak juga diberikan. Bahkan hingga saat ini, detik ini. Tapi ya sudahlah.

Benci Menulis

Akibat hilangnya peluang mendapatkan uang 750 ribu secara kebetulan seperti menang lotere itu, saya pun tidak melanjutkan proses menulis ataupun tulisan lain. Ya, saya kembali ke ‘matematika’ dan sempat menjadi perwakilan kota untuk lomba se jawa. Dan kegiatan lainya adalah PMR yang menyenangkan, berbeda dengan tulisan kegiatan lainnya itu penuh dengan passion di kala itu.

Sempat memang beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi puisi atau menulis puisi. dan walaupun puisi yang sempat saya kirimkan asal-asalan itu menjadi nominasi (urutan 5) karya terbaik di antologi, saya tetap tidak memutuskan untuk mencintai dunia tulis yang terkutuk. waktu itu.

Pengalaman Kuliah

Dan alhasil kuliah berikutnya berjalan di jurusan yang sama sekali tidak membutuhkan tulisan. dengan IPK 3,6 hingga semester 3 hal ini nampaknya menjadi jalan yang baik. Namun pukulan telak mengenai kepala saya sehingga hampir-hampir saya tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia maya dalam pikiran. Hal ini juga dampak dari keluarga Β yang hampir retak berantakan. Semester berikutnya seluruh nilai 24 SKS kecuali satu nilai A dan satu nilai B adalah D. alhasil IPK anjlok jadi 2,67. Di titik inilah akhirnya ada sesuatu yang mendorong saya untuk kembali menulis setelah bertemu dengan salah seorang teman yang juga telah berproses menulis selama lebih dari 5 tahun. Ajaibnya tulisan itu menyelamatkan saya dari kegilaan.

Kembali Menulis

Setelah itu masih ada waktu jeda sekitar tiga tahun penuh sampai akhirnya saya kembali menulis, sederhana di blog puisi saya ‘diarysunyi.blogspot.com’ di titik inilah saya mulai menikmati tulisan. Alhamdulillah setelah pernikahan saya dengan seorang yang sering saya sebut sebagai ‘bidadari’ ini, kegiatan menulis kembali berawal. mulai dari satu bulan silam, dan satu novel yang sudah jadi walaupun belum ada niat untuk diterbitkan. semoga pengalaman menulis ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Sebab menulis itu: menyembuhkan, memulihkan, menumbuhkan dan akhirnya mencerahkan… bila kita jujur pada diri kita.

Hak1m

Advertisements

11 Replies to “Menulis dan Menulis”

      1. he he… kalau gitu semuanya di’muntahkan’ dengan bahagia atau ‘dengan terpaksa’ mas… semoga tetap baik adanya… πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s