Birokrasi A La Zombie, Vampir dan Alien

Beberapa waktu silam, saya memutuskan untuk berangkat ke kampus. Tepatnya Jumat pukul 10.00 WIB, motor orange saya sudah disiapkan dihalaman. Lalu tiba-tiba mendapat pesan singkat dari kakak ipar

“Dik, tolong ke kampusnya Mbak-mu ya untuk minta pengesahan”

“Ya”

Sayapun berangkat ke kampus mbak dan tiba di lobi universitas di daerah JokTengKul. Ketika masuk, saya menemui resepsionis yang sedang asyik dengan handphonenya. satu detik, dua detik hingga lima menit berjalan saya berdiri seperti patung Gupala yang tidak diindahkan sama sekali (ya… mungkin karena patung Gupala memang tidak indah) dan akhirnya saya bertanya

“Maaf Pak, bisa ketemu dengan Mr XYZ?”

Bapak itu mungkin sudah menguasai ilmu bertapa a la Kraton yang sudah lama tidak dimiliki oleh orang Jawa, ia hanya melirik kecil ke arah Gupala yang barusaja datang (baca: saya) dan berkata dengan nada seorang Raja

“Di lantai 2” lalu kembali asyik dengan handphonenya dan akhirnya saya mengalah.

Berbalik arah dan menuju tangga, saya mendaki satu demi satu tangga hingga akhirnya mencapai kantor Mr XYZ tersebut. Alhasil dengan nada yang saangat tidak nyaman (yang belum pernah saya dapatkan selama mengurus administrasi di Kampus Biru selama 7 tahun terakhir)

“Ada perlu apa mas?” a la Manusia Srigala Twilight rasanya

“Eh… maaf Pak (ndak salah juga kok minta maaf dalam hati) saya diminta untuk mengambil legalisasi kakak saya”

“Dimana kakak kamu?” sekarang a la Zombie…

“Di Wonogiri Pak”

“Bah… kenapa juga ke Jogja. Suruh saja ke Solo, kepala kantor sedang ke Jakarta” sekarang saya sudah merasa dikerumuni alien

“Apa ndak bisa di Jogja Pak?”

“Bisa. Tapi itu tadi kepala sedang di luar kota” tatapannya dingin a la Vampir “mau surat tanpa tanda tangan?”

“Oke Pak… terima kasih” kata saya berbalik lalu turun tangga. Kakak ternyata sudah sampai jalan Solo (yang artinya 50 Km dari rumah beliau). Sudah saya sampaikan yang disampaikan oleh penunggu yang benar-benar XYZ itu.

“Ora popo. Mengko tak urusane” katanya pelan. Benar saja setelah itu saya hendak ke Kampus tapi entah kenapa hati saya berkata ‘pulang saat ini juga’. Sayapun berbalik menuju rumah dan selang beberapa waktu kemudian ada panggilan dari kakak.

“Dik aku mau ke rumahmu, dari sini ke mana?” setelah saya tunjukkan jalannya mereka tiba di dekat rumah dan saya jemput.

——-

Ketika mengingat kembali potongan kenangan pendek itu, ada bagian dalam diri yang mengatakan :

“Bila sistem pendidikan kita demikian baik hingga disebut kota pelajar namun sikap para birokratnya tak lebih dari ‘batur-batur’ (baca: pembantu raja) yang sok kuasa dan duduk diatas singgasana kesombongan mereka, bagaimana anak-anak muda yang hendak menuntut ilmu akan nyaman dalam membangun karyanya?”

Advertisements

8 Comments

    1. betul sekali… trus hebatnya ala Vampir itu benar-benar mengerikan ketika ada hibah turun dari atas dan tiba-tiba berubah menjadi ‘pinjaman yang wajib dikembalikan’… 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s