Membuka Topeng Demi Topeng

Posting ke 80

Dalam ruangan ini, kipas angin tak lagi mengirimkan ide-ide melalui hembus anginnya. Sebab aku telah memutuskan untuk menjadikan ruang ini ruang sementara dalam hidupku. Seperti rumah ini, aku bisa memilih di kamar mana aku tidur, membaca, menyerakkan puisi-puisi, mendengarkan radio, atau sekedar memainkan strategi diantara pasukan-pasukan maya. Kali ini, akupun berdiri, menghampiri cermin yang bertahun-tahun menemani perjalanan blog ini.

“Kau tak tahu apakah yang sesungguhnya kau tuliskan dalam blog-mu bukan?” tanya seorang dalam cermin ini “kau bahkan tak tahu siapa sesungguhnya diantara kita yang menuliskannya. Kau, atau aku, atau dia?” jemarinya menunjuk kedepan, memantul kembali padaku, lalu siapa yang pedulli?

“Biarlah, aku tak menuliskan kata-kata dalam blog-ku untuk kesunyian ataupun untuk mengusir hati yang remuk bertahun-tahun silam. kini aku, kau dan unknown biarlah terus bersatu di jasad ini. mengisi relung-relung kosong dan mungkin bisa membisikkan secercah kebaikan meskipun hanya sepatah atau dua patah kata” jawabku

“Hai, kalian, untuk apa mendiskusikan masa lalu yang membuatku terlahir? aku sudah disini. Kau tahu itu, memang benar tak bisa kau memiliki krisan yang layu lantas mati dipelataran rumahmu. tapi darinya aku bisa ada disini dan menjadi malam bagi kata-katamu bukan? bukankah dengan adanya aku semua menjadi gamblang dan tak perlu kau takutkan lagi pendapat orang mengenai tulisanmu yang amburadul al kacauni itu?” bayangan hitam dibelakangku menyahut. Unknown.

“Ha ha ha… dengan berbicara dengan kalian, aku tahu aku menulis bukan lagi untuk mengobati luka yang dalam sedalam palung sebab aku adalah palung dan kalian adalah ikan-ikan sasar yang merasuki tubuhku. Aku menulis di blog- Hak1m ini untuk mengejawantahkan ide tentang hak-dan 1M. tentang kita bertiga atau seseorang yang akan hadir dan pergi. Tentang menjadi rumah bagi burung-burung sasar dan puisi-puisi remuk yang tak bisa terbaca. Ha ha ha” jawabku

“Kau kembali menggunakan kata-kata yang tak bisa dimaknai oleh orang lain Her, aku lebih suka menjadi orang yang sederhana dan hidup dalam tataran yang jelas. Tentang jenjang-jenjang yang mengarahkan kita pada tingkatan berikutnya” jawab bayangan dibelakangku

“Hm… 🙂 kalian semua tahu, aku bahagia mengetahui semua sisi dalam diriku yang telah menyumbangkan tulisan di blog-ini. dan sejujurnya, kalian adalah topeng-topeng yang terbuka. kupajang di dinding blog-ini dan entah mengapa membuatku semakin lebar tersenyum”

Ketiga bagian dalam diriku tersenyum, melesap menjadi satu, merayakan catatan ke-80 kami.

*untuketigasisiku

rasanya setelah membaca tulisanku sendiri selama beberapa waktu silam, aku mau menulis sesederhana yang bisa kutulis…. 🙂 maaf kalau selama ini membuat mereka mengernyitkan dahi…. 🙂

Advertisements

4 Replies to “Membuka Topeng Demi Topeng”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s