Cinta Itu Laut : Fragmen Diatas Kabin

Kabin Pesawat, x/y/zz

Seorang lelaki dengan kaos putih memeluk tas ransel hitamnya sambil melihat awan-awan yang bergumpal dan nampak beku diluar sana. Orang-orang disekitarnya mulai mengantuk, beberapa mencari hiburan dengan membaca catatan yang ada rak. Beberapa terdengar bercanda tentang tujuan hidup atau bahkan tentang hidupnya.

“Untuk apa hidupmu” hati lelaki itu berbisik diiringi dingin yang meresap diantara pori-pori kulitnya ‘bila cintamu tak berujung pada penyatuan‘. Lalu ia perlahan membuka ransel kecilnya. Sebuah potret dikeluarkan dan kembali ia menghembus nafas panjang. Potret itu serasa menyeringai sambil menertawakan keputusannya untuk pergi. ‘Tapi mimpi-mimpiku tak ada daya tanpa senyummu say’

Seorang pramugari melintas dengan sedikit goyah. Seorang kakek diseberang kursinya mendadak terbangun dari tidur dan menatap tiap pergerakan perempuan itu. Pikirannya terlontar pada istrinya yang dahulu menjadi pramugari dan berakhir dengan maut. Lelaki itu melirik sang kakek dengan mata terpicing, menerka-nerka apa yang ia pikirkan.

“Namun cinta ialah bukanlah gelombang yang menghalangi pecinta untuk mengejar mimpi-mimpinya. Ia adalah laut yang tenang yang mengirimkan badai-badai kecil kepada kekasihnya untuk mengingatkan bahwa rindunya masih sedalam palung dilautan”

Ia kembali menatap potret kekasihnya, mengingat-ingat kembali fragmen-fragmen perbincangan mereka didepan toko buku, serta kiriman bunga terakhir dibawah lembayung senja. Mengingat kembali kepergiannya ke pulau seberang untuk menghadiri rapat, sebuah pesan singkat tentang putra mereka, mobil, jalan, runtuh, rumah sakit. Diantara pohon-pohon kamboja yang entah semenjak kapan tak lagi berbunga ia pernah berkata untuk mengukirkan sebuah sajak diatas Himalaya. Sajak tentang Laut.

***

Tulisan ini saya ikutsertakan di acara 5thAnniversary Giveaway: Ce.I.eN.Te.A yang diselenggarakan oleh zoothera

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

42 thoughts on “Cinta Itu Laut : Fragmen Diatas Kabin”

  1. Iya yah.. postingan tentang cintanya gimanaaa gituh, agak-agak berat hehehee *sotoy* kereennnnnnhh euy 🙂

    Makasi yaa udah ikutan GA: Ce-I-eN-Te-A, linknya segera dimasukin ke apdetan peserta

    Like

  2. berbicara cinta memang tak ada habisnya, jutaan liter air mata mengalir dari rasa ini, miliaran orang terlahir juga oleh rasa ini, hmm….

    sukses untuk kontesnya 🙂

    Like

  3. Salam kenal juga. Kunjungan balik nih 🙂 Ma kasih telah mengunjungi blog saya yang sederhana dan apa adanya. Bicara tentang cinta memang tak ada habisnya. Cinta akan berharga apabila diberikan pada seseorang yang juga menghargainya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s