Perih

Lihatlah orang yang tersayat jemarinya ketika mengupas buah, atau mereka yang terjatuh dari sepeda motor ketika terselip dipertigaan yang bergelombang, dan tanyakanlah ketika darah masih mengalir dikulitnya “Bagaimana rasanya lukamu?” maka kau akan dapati jawaban “Perih”

Perih ialah pelajaran yang dapat kita ambil, dengarkan, lalu rasakan dalam-dalam. Dalam hidup yang selanjutnya. Ia mengajari kita tentang luka kecil yang membuat seluruh tubuh, bahkan mata yang tak terluka ikut meneteskan air mata. Ia mengajari kita untuk merasa sakit yang tidak kita rasakan. Bila satu anggota tubuh sakit, sakitlah tubuh yang lain, Demikianlah kata-kata sang kekasih.

Perih mengajari kita tentang adanya tindakan yang harus dilakukan. Bukan untuk terus terkungkung dalam luka yang makin memerah darah. Kalaulah perih itu menginginkan luka dibiarkan, pastilah ia tak akan terasa. Karenanya, ia ingin kalau kita terluka, perih, larut dalam duka yang mendalam… segeralah berobat. segeralah mencari jalan kembali. segeralah menyebut Asma-Nya dengan lidah yang tergetar, dada bergemuruh dan hati yang pasrah.

Perih pula yang mengajari kita untuk tak menyombongkan diri. Sebab sombong ialah jubah Allah yang tak bisa kau pakai. Sebab sombong ialah yang melemparkan Iblis dari surga. Sebab sombong ialah luka yang lebih dalam bila kau rasakan. Perih mengajari kita untuk tahu betapa lemahnya kita. betapa tipisnya kulit kita. betapa rentannya hati kita akan setiap luka.

Desember, diantara luka dan perih yuk kita terus mencoba terus belajar… šŸ™‚

Advertisements

22 Replies to “Perih”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s