Mengambang, Menginjak Awan

Ada yang melintas di kepala, ketika tiba-tiba kesadaran telah dilupakan. Mereka berjalan tertatih, mencari-cari butiran emas di padang pasir. Adakah yang diketemukan selain mulut kering, pikiran yang kosong, serta harapan yang makin lama makin menyiksa?

“Harapan bisa membuatmu terluka lebih dalam dari sebilah pedang tapi tanpa harapan kamu hanya seonggok tubuh tanpa ruh” Ia menyapaku

“Tapi aku tak berharap kecuali menemukan butiran emas, kecuali aku bisa menemukan puing-puing patung Samiri untuk kembali kuleburkan dalam api” jawabku

Menurutmu, kebahagiaan itu akan kau dapatkan dengan menemukan emas itu dan meleburnya dalam hatimu yang diliputi api? Tidak, ia hanya akan menjadi berhala baru bagi hidupmu” tukasnya

” Tidak, tidak, aku tak butuh berhala. Berhala tak butuh aku. Kami terpisahkan. Yang kuinginkan adalah satu gerakan, satu harapan yang membuat hatiku kembali hidup”

Bagaimana dengan kakimu? bagaimana kau bisa mendapatkan emas dipasir atau sedikit air di ujung rumput jika kau tak menginjak tanah, bila kau mengambang dan menginjak awan? Bagaimana kau wujudkan harapanmu jika hari-hari hanya diselimuti kabut imajinasi dan hayalan?

Bila kau terus begini, Kau adalah berhala bagi dirimu sendiri kawan

dan iapun menghilang……

“Lalu?….”

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

9 thoughts on “Mengambang, Menginjak Awan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s