Ramadhan Pertama dan Terakhir

Nenek tua itu datang sendirian saja. Mengamati dinding mushala yang mulai terkelupas. Juga pintu dengan pelitur yang terkelupas. Ketika ia membuka pintu, debu-debu beterbangan. Tapi ia toh tidak terbatuk-batuk. Mungkin pekerjaannya dipasar telah membuat hidungnya kebal. Kebal terhadap debu fisik tapi sangat sensitif terhadap debu yang mulai bertebaran di hatinya.

“Aku datang kerumah-Mu. Sendirian. Anak-anakku telah lupa ibunya. Cucu-cucuku memilih televisi menjadi tuhannya. Para tetanggaku lebih khawatir kehilangan uang dan deposan daripada kehilangan keridhaan Mu. Maka izinkan aku memasuki rumahmu.” sapanya sambil melangkahkan kakinya yang mulai keriput. Jarik parang rusak itu, jarik yang terakhir. Mungkin ia memang generasi terakhir pemakai batik dan penjual jamu gendong dipasar-pasar. “Perempuan-perempuan sekarang lebih suka rok mini dan jalan-jalan di mal” keluhnya beberapa kali.

“Tuhan. Aku lupa cara menghadap kepadamu. Anak-anak tak mengajariku cara bersujud. Pun aturan untuk berpuasa. Kini, diusia senja pula baru tersadar. Semoga kau tak menjadikanku sebagai Firaun yang bertobat sebelum kematiannya. Namun toh sedari tadi Izrail mengikutiku dari belakang. Rasanya ini kali pertama aku datang. Mungkin jadi terakhir kita bertemu di dunia. Ah… biarlah. Ini memang ramadhan pertama dan terakhirku mungkin.” nenek itu shalat subuh dengan tenang. hatinya lapang. jiwanya terhampar. seperti padang rumput yang amat luas. Angin menyapu keningnya hingga bagian wajahnya bercahaya. Mukena yang dikenakannya tiba-tiba beraroma wangi. Dan tiga malaikat mengantarkannya ke sebuah pintu. Pintu Ramadhan….. duhai…. apakah kita bisa?

(Selamat jalan Budhe… basic on true story)

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

15 thoughts on “Ramadhan Pertama dan Terakhir”

    1. ya… beliau mengatakan ” semoga bisa ketemu ramadhan besok ya… ” tapi ternyata maut datang menjemput lebih cepat daripada ramadhan…. maka rebutlah ramadhan hari ini dengan sebaik-baiknya…

      Like

  1. benar, kita tidak akan pernah tau apakah masih bisa berjumpa dengan Ramadhan berikutnya

    pun kita juga tak kan pernah tau, apakah kita bisa bertemu dengan penghujung Ramadhan tahun ini.

    mungkin menjadikan setiap hari, setiap jam, setiap detik sebagai hari, jam , dan detik terakhir akan memberikan kelapangan dan ketentraman jiwa untuk senantiasa dekat dengan Rabbnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s