Jalan Yang Kupilih : menjadi daun atau sungai?

Sewaktu saya kecil, saya sering membuat mainan dengan melipat daun-daun jambu dan dihanyutkan disungai. Tanpa sadar, melalui itu juga ada ibroh (pelajaran) yang menyusup pada diri yang kecil ini. Bahwa diri yang dibiarkan mengikuti keinginan dan nafsu tanpa menghiraukan aturan Tuhan akan seperti daun yang mengalir diatas sungai kehidupan. Syahwat dan keinginan menjadi arus deras dalam hidup yang tak jarang akan membuat kita, manusia, tak lebih berharga daripada binatang yang bisa berbicara. Hidup manusia jenis ini hanya akan berada diselingkup mulut, perut dan yang ada dibawah perut. Tak lebih tak kurang jua akhirnya. Setiap hari diombang-ambingkan arus keinginan, keinginan, dan keinginan yang lebih kuat.

Kembali pada ibarat daun yang hanyut diatas, manusia model ini akan menemui banyak masalah untuk menuju lautan yang luas. Lautan yang manusia cita-citakan tentunya adalah keluasan, ketenangan serta kenyamanan. Dalam bahasa lain, ialah surga yang abadi dialam sana. Nah, apabila manusia menjadi daun? pernahkah teman-teman melihat daun yang dihanyutkan disungai? Daun itu hanya akan hanyut mengikuti arus, berbelok juga mengikuti arus lalu terakhir, ia akan tersangkut disemak-semak tepian sungai. Seperti itu juga hidup kita kalau kita mengikuti keinginan dan nafsu. Ketika orang lain mengajak bermain, ikut bermain, ketika orang lain mengajak mabuk, ikut mabuk, ketika orang lain mengejek ketika beribadah, ikut tidak beribadah, dan seterusnya. Hidup orang model ini mungkin diawalnya menyenangkan tapi dikemudian hari akan ‘nyangkut’ juga. Mungkin ia akan terkena masalah, mungkin tidak puas dengan hidupnya, mungkin tidak bahagia, mungkin ia hanya akan menjadi orang yang tak dikenal sama sekali dalam hidupnya. Seperti yang disyairkan Oemar Timbul :

Aku kini tersisa, tak ada sejarah

Tak lebih dari debu dipermainkan angin

dipadang pasir maha luasnya

Berbeda dengan orang yang mengetahui cita-citanya adalah surga. Cita-citanya ialah ketenangan abadi bersama Tuhan. Ia akan menjadikan dirinya air sungai itu sendiri. Ia yang menciptakan arus menuju laut. Bila ia masih dilangit, ia akan turun menjadi hujan yang menyejukkan. Jika ia digunung, ia akan mengalir turun. Demikian seterusnya hingga ia berakhir juga pada laut. Namun kemudian, inipun akan diserahkan pada teman-teman sekalian. Akankah teman-teman memilih menjadi daun yang diombang-ambingkan gelombang, ataukah memilih menjadi air yang terus menerus berusaha dan berjuang hingga sampai ketitik tujuan. Surga yang abadi, bidadari-bidadari menawan, perjumpaan dengan para nabi, serta jamuan pertemuan dengan Tuhan secara langsung. Semuanya diserahkan pada diri masing-masing. Nafsi-nafsi……(omar t.)

Advertisements

8 Replies to “Jalan Yang Kupilih : menjadi daun atau sungai?”

    1. YUP.. dirumah font emang saiyah stel di 8 ato 9 karena musti banyak yang ditulis sedangkan lembar demi lembar yang terlalu banyak membuat tulisan yang segera menyusul jadi terhambat.. he he… thanks…

  1. se7 ma titin..tulisannya terlalu kecil… .
    jdilah manusia berkarakter surga, karena tanpa karakter kau akan jd sampah peradaban…(kata2 seorang teman). dan beranilah menunjukkan karakter itu (ini nasihat untuk diri sendiri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s