Happily Ever After

malam larut juga, akhirnya. mata yang seharian memandangi lalu lalang orang itupun lelah. menghitung-hitung resah yang membuncah di dada. hari ini hari penantian lelaki tua itu. sudah setahun lebih mereka berpisah, ini kesempatan yang akan menghapus segala penantian.

“Assalamu’alaykum… Bah, lama nunggunya?” seorang pemuda dengan jubah hitam hitam bertopi hitam dengan tali didepannya mengulurkan tangan. lalu mencium tangan lelaki tua yang tak lain adalah abahnya. mencium lama sekali. menghentikan waktu disekitar jalan itu.

“wah-wah-wah, kamu kalo pake Toga guanteng banget Mar” matanya berkilatan. anak lelakinya telah menyelesaikan jenjang kuliah pertamanya. lalu sambil mengerling mata, setetes air bening panas menjalari pipi keriputnya. segera ia meletakkan biola yang sedari dipangku ditepi jalan. orang-orang melihat keheranan, tapi ia tak ambil peduli.

“Umar besok mau membelikan Abah baju batik baru. Lama ta Abah tidak ganti baju yang bagus… he he… trus kita nanti jemput Ummi di bandara ya” pemuda itu duduk disampingnya.

“Ya, bisa bisa. tapi untuk terakhir kalinya, Abah ingin lihat kamu berdiri di depan situ. Abah ingin lihat anak abah yang ganteng pake Toga sekali lagi” orang-orang mulai berduyun-duyun datang. mengamati.

“Begini Bah?”

“Ya… begitu….Nah, sekarang kamu bisa membawa Abah”

secepat itu juga, orang-orang berdatangan. menggoyang-goyang tubuh pemain biola jalanan itu. beberapa mulai panik menelpon ambulan. satu dua orang berseragam sekolah mengecek denyut jantung dan nafas. tapi telah tuntas. tak lagi ada. seperti sebuah cerita panjang. ia telah jadi titik. menunggu Sang Penulis Takdir kembali menulis paragraf baru… dan pemain biola itupun hidup pada alam berikutnya dengan bahagia….SELAMANYA….

*hapily ever after*

lelaki tua itu menggantungkan mimpinya pada anaknya yang telah kembali setahun sebelum waktunya ia diwisuda….

Advertisements

24 Replies to “Happily Ever After”

    1. wah, mungkin bukan. bahkan semoga tidak. tapi mungkin yang menjadi kebahagiaan mereka serupa ketika abah dan ummi-ant dulu pas ant wisudah…. he he

  1. 😥 masih terbayang bhagia tak terbantah yg kulihat dr mata mereka, meski lama berselang dr waktu yg kujanjikan memakai jubah itu..

    *barakallah.. smoga ilmunya manfaat u umat

    1. kebanggaan memang,
      yang diwisuda bahkan banyak pikiran kemudian.
      apa yang akan dilakukan? mau meneruskan kuliah atau tidak? kerja dimana? nikah dengan siapa (upz… yang ini gak usah dibicarain deh… he he) dll

  2. yah maksud sy ummi n abi antm sebahagia mrka namun dg kondisi tak sama, mrka insyaAllah mdampingi antm saat ‘keluar’ dr gerbang padepokn merapi itu..
    djogja….btw msh sk k nglegi? edi n trias kmrn sms.

    1. tentu saja tidak harus pak muftisany,
      tp setidaknya mereka akan bahagia saat telah merasa menghantarkan anaknya smp sarjana. wong yg diwisuda ajah tkadang masih bingung mw ngap habis kul. *ehh.. itu mah saiaaahh.

      *sbgai org yg ingkar janji lulus ‘tepatwaktu’, saya bisa merasakan kelegaan itu. hmm.. ato krna sya perempuan, g tw juga.

  3. masih page one ‘gan ^_^

    oiya, pak heru koq kemaren gak ikut reunian cah iwak 2004 di golden futsal-pogung sih?

    sibuk buat nyiapin toga y?
    hehehe, jadi kapan nih wisuda? dan apa step berikutnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s