Merindu Ibu

Ibu, aku rindu kanak dulu

Ketika memilih pergi

Dan tak mengingat jalan pulang

Sebab amarahmu yang halus

Serasa menjerat leherku

Lebih cekat dari batuk

Lebih erat dari pelukmu

Ibu, aku rindu tawamu

Bila semua memujiku

Sebagai bocah tolol

Yang mempermalukanmu

Ibu, aku rindu engkau

Sebab aku hanya secuil daging

Yang bertapa dirahimu

Advertisements

21 Replies to “Merindu Ibu”

    1. benar mas.. bahkan selalu membayangi tiap langkah dengan doanya. hanya saja kadang ketika himpitan ekonomi telah menjajah pemikiran seseorang, tiba-tiba ibu bisa menjadi sangat buas, lebih buas dari binatang bahkan. semoga saja negara kita akan lebih baik, dan warganya akan bersabar menghadapi hantaman masalah sebesar apapun mas… tks..

  1. ibu…
    dalam setiap detak jantungku
    ada detak jantungmu
    dalam setiap hembusan nafasku
    ada nafasmu
    dan dalam setiap langkahku
    ku ingin ada ridhomu karena ridho Tuhan ada di doamu

    salam kenal mas..

  2. lama ga mampir2… 🙂
    “Siapakah orang yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya ?” Rasul menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, ” Kemudian siapa ?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi : “Kemudian siapa ?” Rasul menjawab, “Ibumu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s