Jejak Jejak Pasir Yang Terhapus Angin

“apakah kau tahu tentang seorang lelaki yang membelah rembulan?” tiba-tiba kau bertanya, berbisik kecil saja. membuat mataku kembali kosong, dan dalam kosong kutemui jejak-jejak yang terhapus angin di padang pasir. dengarlah dengar, desirnya. ya, desirnya sampai ditelingaku sebagai bisikmu.

“Ya, aku tahu, bahkan aku mau tahu lebih lagi” jawabku perlahan “berikan kabarmu lebih banyak kepadaku, bisikkan lebih banyak, tumpahkan lebih melimpah kepadaku”

kau diam saja mengamatiku. menatap mataku seperti hendak menyampaikan sesuatu, tapi gagal kau ungkapkan. hanya lilin, dan sekilat sinar neon yang berkedip di gigir jalan menerpa wajahmu dan wajahku bergantian.

“Apa?” aku mulai tak tahan mentafsirkan bisu. aku bisa meluncurkan ribuan kata dari lidahku tapi aku lebih tak bisa mentafsirkan bibirmu yang selalu mengatup “jelaskan. aku tak bisa berbicara dengan kernyit dahi atau tatap matamu yang misteri. katakan padaku. dan mohon dengan jelas” tukasku.

kaupun berdiri, membuat lilin di meja kafe ini ikut bergoyang. lantas meninggalkanku bersama sepi. aku bertanya pada sepi, dan sepi menjalarkan tanyaku pada bayang-bayang. selalu seperti itu ketika kukenang tentang seorang Abu Qasim, mengapa selalu?’

malam itu aku berbincang dengan sepi dan sepi menjawabku dengan bayang-bayang yang menghilang ketika kukatupkan mulutku didepan lilin. padam. malam. lalu kau datang pagi harinya membawakan sebuah catatan tentang hidup. tentang jejak-jejak pasir yang tak dapat kutafsirkan. tapi bisa kau tafsirkan dengan jelas.

“bila hatimu malam, petunjuk hanya seperti rembulan di tengah-tengah langit. tapi bila kau manusia, kau akan mengerti betapa Rasulullah adalah matahari bagi tiap kedip,Β  bagi langkah, bagi nafas, bahkan bagi hidup dan matimu” kaupun pergi. kembali menjadi bayang-bayangku. dan kali ini, kau tepat menusuk jantungku.

Advertisements

18 Replies to “Jejak Jejak Pasir Yang Terhapus Angin”

  1. kalo gelap nyalain lampu aja gan..? kalo ato kalo ga ada ya buat cahaya ndiri. ngutip pernyataan toni gemblung di http://redkafaye.wordpress.com/
    “Walaupun kampungku cenderung gelap dan remang-remang, ternyata masih ada secercah cahaya disana, yang insya Alloh cahaya ini tidak akan pernah padan dan akan semakin membesar..amiin..”

    1. dimanapun ada, masalahnya kadang kita yang menutup cahaya itu dari dalam sehingga mata yang terpejam tak akan mengetahui cahaya matahari yang demikian terang… semoga Allah membuka mata hati kita sehingga selalu melihat cahaya dan mengikuti jalan-jalan Rasul yang mulia… amin

  2. dalam..riak itu semakin membuncah pada jejak dimana mata tak lagi mampu berkata “dimana jejak? diaman harapan?” tapi sejatinya jejak itu ada, dan akan terus ada..mantap gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s