Ia yang berjalan di kegelapan

“Matahari dan rembulan seolah menjadi teman hidup yang usianya ribuan tahun tapi keduanya senantiasa bisa sabar. Matahari dengan sinarnya yang bersemangat seperti ayahku dan rembulan yang selalu terlihat menawan, untuk yang ini aku tak yakin pasti apakah sama atau tidak, bagiku ibu juga matahari, lalu tiba-tiba keduanya menghilang dalam hidupku. Aku menjelma menjadi bayang-bayang hutan ketika keduanya masih ada, kini aku sempurna menjadi kegelapan itu sendiri”. Hati anak itu terus berbicara, seperti memasuki lorong yang dalam, iapun semakin jauh berjalan menuju hutan. dari kejauhuan tampak sebuah rumah kecil beratap rumbia, dengan sebuah gentong air dan batok kelapa.

“Ah, aku tak bisa menjelmakan diriku yang berjalan pelan dan sangat gelap ini menjadi seperti keduanya, tapi paling tidak aku masih bisa berjalan menuju kegelapan yang semakin dalam. mayat-mayat mereka akan menjadi hiasan atau makanan bagi tanaman hutan, sedangkan rumah-rumah yang terbakar itu akan menjadi abu.. terbang mengabur, menjadi hiasan bagi dedaun hutan… ha ha ha” pikirannya ia putar untuk membuat pembenaran. meskipun terlalu dipaksakan…

huiiii… cerita diatas hanya sepenggal metafora yang tiba tiba muncul dikepala saiyah.  sesuatu yang gelap, sepi, sunyi, dan mencekat menyelimutiku, seperti Mara menyelimuti Sidharta, seperti Iblis menyelimuti Qabil, seperti Ifrid menyelimuti budaknya…. Ya Rabb… ampuni… tunjuki…. tuntun hamba…..

Advertisements

Published by

HaKim

mari mengenang masa lalu mari menghayalkan masa depan mari memikirkan masa kini

26 thoughts on “Ia yang berjalan di kegelapan”

    1. tak ada yang dihilangkan tapi mungkin diberanguskan dari jiwa yang tenang. seperti gelombang dari lemparan batu ditengah telaga… makin lama makin menganga… hidup yang semakin menjanjikan kegelapan bukan? tapi kita dengan aneh dan kuat terus bertahan….

      Like

  1. gelap dan terang adalah kesepasangan
    tanpa gelap kita tak akan tahu bagaimana menikmati cahaya, dan tanpa cahay pula kita tak pernah tahu bagaimana gelap terkadang menyelamatkan kita dalam sisa – sisa perjuangan

    salam..

    Like

  2. bukan maksud ayah meninggalkanmu sendirian, nak… afwan, tapi memang beginilah keadaannya, ini bukan masalah tega atau tidak tega. semua punya jalan yang sudah digariskan. dan ini adalah pilihanku nak, pilihan yang sudah ayah pikirkan masak-masak. bersama ibumu juga..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s