maslalo maskin

pertapakotakabar tentang akan turunnya pertapa besar dari gunung membuat banyak warga desa menanti-nanti di gerbang desa. seharian mereka menanti untuk mendapatkan wejangan berharga, atau sekedar mengeluhkan tentang hidup mereka yang payah. bahkan ada seorang yang menanti hanya untuk minta tanda tangan/pertapaholic/

setelah matahari mulai bersembunyi dibalik bukit barat desa, dan semburat lembayung yang kuning jeruk itu mulai menyebar di seantero langit, warga yang sedari tadi menanti akhirnya terperangah. perasaan entah meluap-luap di dada, seperti seorang kekasih yang menjumpai kekasihnya. seorang pertapa akhirnya memasuki desa itu. sang pertapa legendaris itu bernama Maslalo Maskin.

“Wahai pertapa, kami banyak sekali memiliki masalah” seru sang kepala desa.

“Hm… ceritakan” sang pertapa duduk dibawah bayang-bayang malam dan mulai mendengarkan cerita satu persatu dari warga desa.

setelah tuntas semua menceritakan perasaan, kegalauan, dan segudang pertanyaan/ tidak lupa tanda tangan/ akhirnya sang pertapa berdiri dan berkata ” masih adakah yang ingin bercerita?

semua terdiam dan terlihat wajah kecemasan. menanti-nanti jawaban atas pertanyaan mereka. seketika itu juga sang pertapa menunjuk setangkai bunga dikegelapan. matahari yang sedari tadi sudah tenggelam/dan tentunya pertapa n warga sudah shalat magrib n isya…??/ membuat pandangan beberapa warga kesulitan.

“Bunga apa itu?” tanya sang pertapa.

“Mawar Merah” serempak warga desa menjawab. memang karena kebiasaan kadang kita tahu sesuatu ketika ia telah tertutup tirai yang tebal sekalipun.

Hmm.. padahal tidak terlihat warnanya, tapi mengapa kalian tahu warnanya merah?”

“Karena ketika pagi menyingsing, dan cahaya menerangi desa, maka kami dapat melihatnya secara terang” tukas salah seorang dari warga.

Lalu mengapa kalian tidak menerangi hati kalian dengan cahaya Tuhan agar bisa tetap bisa mengetahui jalan lurus ketika kalian diselimuti kegelapan masalah?”

katanya sambil menjinjing tongkat dan melenggang pergi meninggalkan desa.

seketika warga terdiam membisu. sang pertapaholic bertanya pada kepala desa yang tercengang “kenapa dia dinamakan Maslalo Maskin?”

“karena dia mengambil pelajaran kearifan dari  Masa Lalu/Maslalo/ dan hidup pada Masa Kini/maskin/

umarhakim

Advertisements

13 Replies to “maslalo maskin”

  1. Menarik cerita Maslalo Maskin …. dan ungkapan ini harusnya dapat disadari …. “Lalu mengapa kalian tidak menerangi hati kalian dengan cahaya Tuhan agar bisa tetap bisa mengetahui jalan lurus ketika kalian diselimuti kegelapan masalah?”

  2. Seharusnya kita juga seperti pertapa itu. Kita menengok masa lalu untuk dijadikan pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan, Lalu menatap masa depan dengan penus optimisme dan harapan. Optimisme, keberanian dan ketenangan akan kita dapatkan jika kita beriman. Percaya deh!

  3. Assalaamu’alaikum

    Mudahan kita semua mengambil iktibar dari kisah “sebuah cermin” itu…daya imaginatif yang tinggi dan mantap. salam mesra.

  4. @omar, pas pertama baca judulnya trus tanya orang di sebelah saya “maslalo maskin??” terus dia jawab… ” masa lalu yang miskin kali…” sekenanya… dan ternyata bener…
    tambah terus tulisannya mar…

  5. Maslalo Maskin?
    asalnya, sy pikir ini temennya Einstain…:-D
    keren tokoh ciptaannya
    lebih keren lagi hikmah ceritanya
    oya, makasih kunjungannya…:), izin ngelink ya…akan sangat menyenangkan klo dilink balik, biar klo lampu di rumah mati, bisa pinjem korek ke sini 🙂

  6. Maslalo Maskin?
    asalnya, sy pikir ini temennya Einstain…:-D
    keren tokoh ciptaannya
    lebih keren lagi hikmah ceritanya
    oya, makasih kunjungannya…:), izin ngelink ya…akan sangat menyenangkan klo dilink balik, biar klo lampu di rumah bisa pinjem korek ke sini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s