Sebenarnya apa yang sebenarnya kita inginkan, impikan, harapkan dengan sungguh-sungguh apakah benar-benar bisa diraih? Kadang dalam hati muncul kekhawatiran yang… ya… memang beralasan. Tidak punya modal, tidak punya pengalaman, tidak punya cukup waktu, tidak punya tenaga. Ah, terlalu banyak alasan yang benar-benar logis untuk itu. Namun, untunglah Habibie tidak menggunakan alasan ‘anak sebuah negara yang tak dikenal di Jerman’, untunglah Thomas A. Edison tidak menggunakan alasan kebodohannya dalam matematika, untunglah Rasulullah tidak menggunakan alasan negara Arab yang waktu itu terperosok di lembah ketiadaan sebagai alasan logis. Untunglah mereka tetap tsabat, berjalan dengan pasti dalam jalan yang telah mereka pilih atau dipilihkan oleh Tuhan Semesta Alam untuk mereka. So, semestinya ini jalanku untuk kutempuh hingga ujung hidupku, entah akan tercapai atau tidak, tapi mari kita lampaui pos kecil bernama impian itu….
Lama sudah aku tidak mengunjungi rumahku ini. setelah disibukkan oleh urusan-urusan yang tidak terkait dengan dunia tulis menulis, berupa praktikum-praktikum, penyakit de quevain di jempol kanan yang membuat kecepatan mengetikku menurun super drastis, serta hal-hal baru lainnya. Di atas semua itu aku benar-benar bersyukur karena masih memiliki jari lain yang masih bisa berdansa salsa di atas papan tuts ini.
Hari ini tak banyak yang bisa kukisahkan tentang hidup, hanya secuil memori tentang Umar kecil yang mulai bisa tengkurap, perjalanan ke Prambanan bersama istri dan murid-murid kecilnya, serta semangat untuk kembali mengetik, walau tertatih dan nyeri.
Sekian dulu hari ini.
with De Quevain in my thumb
pertama datang, eh kok matahari terbit serasa dari barat
kedua datang, eh kok tersesat di psikologi, lalu jalan lagi sampai LP3T
ketiga datang, eh kok kesasar sampai tugu pahlawan
ya wis lah, yang jelas orang-orangnya baik-baik di sini.
Pernahkah ada yang melakukannya? Incantantion?
atau jangan-jangan malah bertanya apa itu incantantion? ah, saya juga tidak paham betul apa itu. Yang jelas ada yang mengatakan pada saya “kalau you pingin sesuatu, ulang-ulangi terus kata-kata itu sehingga akan masuk alam bawah sadar you dan lihat saja kapan itu akan terwujud”
Dari sudut pandang ini saya dulu menolak melakukan incantantion, takut menyerahkan takdir pada pikiran. Tapi belakangan muncul sebuah ide yang tak akan bertentangan dengan yang kuyakini. apa itu? Incantantion doa.
Daripada mengatakan “tiap hari aku tambah tinggi, cakep, jenius, keren, kaya” (contoh incantantion) beribu-ribu kali tanpa makna yang mendalam, bagaimana kalau diganti “Alhamdulillah, tiap hari aku tambah tinggi, cakep, jenius, keren, kaya”
cuma nambah satu dzikir didepannya, tapi semoga saja bukan ‘cuma’. Maksudnya? Kan sekarang jadi doa, semoga jauh lebih dahsyat. Kan Allah yang menciptakan pikiran, karenanya, mengabulkan doa jauh lebih mudah. yuk incantantion doa, biar besok jauh lebih dekat dengan-Nya. amin
Apa passion-mu? seorang teman bertanya. Saya tak bisa menjawab dengan jelas karena memang tidak tahu apa yang ia maksudkan.
Kalau pertanyaannya tentang apa yang saya sukai, banyak sekali. Mie goreng, mie rebus, mie ramen, mie ayam, mie godog, mie bakar kalau perlu.
Kalau pertanyaannya tentang hal yang paling saya bisa nikmati, maka jawabannya adalah beternak. Entah kenapa saya menikmati saat-saat melihat binatang-binatang mungil itu tumbuh berkembang, rasanya ingin juga tumbuh dan berkembang. apa saya bisa? he he
Kalau pertanyaannya tentang pekerjaan yang paling membuat saya ‘bergairah’, maka jawabannya adalah meneliti. Hal-hal aneh penuh misteri, menelisik hal-hal yang membuat sesuatu terjadi, atau sekedar merangkai-rangkai dugaan (hipotesis) dan berusaha membuktikannya (walaupun kadang lebih banyak tidak terbukti
) dan lain sebagainya.
Kalau pertanyaannya tentang uang, gaji, dan lain sebagainya yang terkait dengan harta, maka jawabannya adalah yang berkah. Apa itu harta yang berkah: sedikit na
Minder? Mengalaminya? selalu.
Ada yang bisa bangun sebelum subuh dan beribadah, saya ? Minder
Ada yang bisa khataman Quran sepekan sekali, saya ? Minder
Ada yang bisa hafalan hadits setiap pekan, saya? minder
Ada yang bisa silaturahim setiap hari, saya? minder
Ah, kelihatannya lebih banyak mindernya daripada PD. Lihat orang lain pada exelent, saya… payah… alhasil minder lagi. Ini kok jadi curhat gini ya, ha ha ha…
Ya, paling tidak minder ini yang bikin semangat untuk mengejar mereka. Tertatih-tatih memang, tapi masih berjuang. Juga untuk melampaui mereka. kelak.
Ada banyak hal yang bisa kita ambil dari selembar daun. Ya, bahkan selembar daun bisa mengajari banyak hal yang lama kita lupakan.
Bila daun itu masih muda, ia mengingatkan pada masa kanak kita yang menyenangkan namun rentan. Ia juga mengatakan betapa lemahnya ia, sekaligus betapa antusiasnya ia.
Bila daun itu telah utuh, ia mengingatkan pada masa kini yang teguh dalam pendirian sekaligus ragu-ragu mempertanyakan masa depan. angin tak lagi merisaukan. Ia juga memberikan keteduhan dengan menahan panas mentari.
Bila daun itu telah menguning, ia mengingatkan pada masa tua yang sempurna sekaligus penuh tanda tanya. Akankah angin kecil atau badai yang melantakkannya dari ranting? akankah ada akar yang mengambilnya kembali sebagai guru? ataukah tersapu dan berakhir di pembuangan sampah?
Bila daun itu telah jatuh dan berubah cokelat, ia mengingatkan kita pada akhir sementara. Ia tak lagi bertanya-tanya, juga tak lagi ragu-ragu. ia bahkan tak lagi mengingat masa kecilnya. Ia hanya menyesal karena tumbuh dibawah terik matahari atau berbahagia karena telah menaungi orang-orang yang gerah dibawahnya.
Hak1m, 2013

