January 10, 2012

Yang Terajut Di Atas Takdir

Siapakah ia tahu ingin-Nya

Rasa, Omongan, Makna-makna, Angan, Deru Oh… Nyalakan imanmu

Dimana Aku Nanar

 

Hai elang rentangkansayapmu untukku

Perkabarkan rasa asa, musim “Oentuk nektar  O-Mu”

 

lalu ketika semua bertanya, jawablah

semua yang terajud diatas takdir

ialah yang terbaik bagimu atas imanmu….

 

Yogyakarta, Januari 2011

January 8, 2012

Membuka Topeng Demi Topeng

Posting ke 80

Dalam ruangan ini, kipas angin tak lagi mengirimkan ide-ide melalui hembus anginnya. Sebab aku telah memutuskan untuk menjadikan ruang ini ruang sementara dalam hidupku. Seperti rumah ini, aku bisa memilih di kamar mana aku tidur, membaca, menyerakkan puisi-puisi, mendengarkan radio, atau sekedar memainkan strategi diantara pasukan-pasukan maya. Kali ini, akupun berdiri, menghampiri cermin yang bertahun-tahun menemani perjalanan blog ini.

“Kau tak tahu apakah yang sesungguhnya kau tuliskan dalam blog-mu bukan?” tanya seorang dalam cermin ini “kau bahkan tak tahu siapa sesungguhnya diantara kita yang menuliskannya. Kau, atau aku, atau dia?” jemarinya menunjuk kedepan, memantul kembali padaku, lalu siapa yang pedulli?

“Biarlah, aku tak menuliskan kata-kata dalam blog-ku untuk kesunyian ataupun untuk mengusir hati yang remuk bertahun-tahun silam. kini aku, kau dan unknown biarlah terus bersatu di jasad ini. mengisi relung-relung kosong dan mungkin bisa membisikkan secercah kebaikan meskipun hanya sepatah atau dua patah kata” jawabku

“Hai, kalian, untuk apa mendiskusikan masa lalu yang membuatku terlahir? aku sudah disini. Kau tahu itu, memang benar tak bisa kau memiliki krisan yang layu lantas mati dipelataran rumahmu. tapi darinya aku bisa ada disini dan menjadi malam bagi kata-katamu bukan? bukankah dengan adanya aku semua menjadi gamblang dan tak perlu kau takutkan lagi pendapat orang mengenai tulisanmu yang amburadul al kacauni itu?” bayangan hitam dibelakangku menyahut. Unknown.

“Ha ha ha… dengan berbicara dengan kalian, aku tahu aku menulis bukan lagi untuk mengobati luka yang dalam sedalam palung sebab aku adalah palung dan kalian adalah ikan-ikan sasar yang merasuki tubuhku. Aku menulis di blog- Hak1m ini untuk mengejawantahkan ide tentang hak-dan 1M. tentang kita bertiga atau seseorang yang akan hadir dan pergi. Tentang menjadi rumah bagi burung-burung sasar dan puisi-puisi remuk yang tak bisa terbaca. Ha ha ha” jawabku

“Kau kembali menggunakan kata-kata yang tak bisa dimaknai oleh orang lain Her, aku lebih suka menjadi orang yang sederhana dan hidup dalam tataran yang jelas. Tentang jenjang-jenjang yang mengarahkan kita pada tingkatan berikutnya” jawab bayangan dibelakangku

“Hm… :) kalian semua tahu, aku bahagia mengetahui semua sisi dalam diriku yang telah menyumbangkan tulisan di blog-ini. dan sejujurnya, kalian adalah topeng-topeng yang terbuka. kupajang di dinding blog-ini dan entah mengapa membuatku semakin lebar tersenyum”

Ketiga bagian dalam diriku tersenyum, melesap menjadi satu, merayakan catatan ke-80 kami.

*untuketigasisiku

rasanya setelah membaca tulisanku sendiri selama beberapa waktu silam, aku mau menulis sesederhana yang bisa kutulis…. :) maaf kalau selama ini membuat mereka mengernyitkan dahi…. :)

January 8, 2012

Gelap dan Terang (Tiga Episode Satu Jiwa)

“Aku tak tahu mengapa gelap disebut terang dan mengapa terang disebut terang. Sebab bagiku sebagaimana orang-orang dijalan ini, seperti perjalanan yang menuju stasiun terakhir. Lalu berakhir” Ruh E.

Episode I

Perempuan-perempuan tua, menggendong daun pisang yang dilipat di punggung lengkungnya menuju perempatan. Tempat ibu-ibu usia empat puluhan tahun mencari pembungkus tempe. Langkah-langkahnya menembus dingin subuh dimana mereka yang menyatakan dirinya sebagai orang terdidik masih mendidik matanya dengan tidur.

Dua fragmen yang tergambar dimataku ini ialah dua fragmen tentang gelap dengan dua makna yang berbeda. Perempuan-perempuan tua itu ialah ‘per-Empu-an’ sejati, rahim dunia yang melahirkan terang matahari melalui langkah-langkah lemahnya dipagi buta.

digelap yang sama. Lalu mereka yang terpulaskan hingga terdengar kokok ayam atau dengung mobil-mobil telah menjerumuskan akalnya yang diterangi cahaya ilmu dengan kegelapan nafsunya. (Ruh E. Pram)

Episode II

“Lalu siapa mendirikan Eifel untuk menunjukkan kegelapan hanya bagi orang-orang pinggiran? sebab mereka yang terduduk sepi dipuncak kepemimpinan akan merasakan betapa logika itu hanyalan puzle yang semakin menguatkan pikiran bahwa tak ada cahaya yang sesungguhnya dari tumpukan logika dan aritmatika.

semua ini hanyalah sampah bagi Yang Ada dan membuat ketidakadaan dalam kegelapan. Ah biarlah saja semuanya larut dalam segelas vodka tanpa isi ini. Vodka yang tak akan membuatmu mabuk ataupun miskin, sebab hanya botol kosong dan angin yang hampa” (Oemar Te)

Episode III

Gelap ialah yang dilahirkan bayang-bayang atas terangnya Tuhan

(Threesideofmymind)

December 21, 2011

Sebuah Perubahan

“Perubahan apa yang dapat kau lihat jika hanya terus berada ditepi laut dan memandang ombak bergulung-gulung, merasai angin yang meniup kulit, serta menciup aroma rumput laut? Tak ada” 

Ketika membaca potongan cerita tentang laut ini, yang menarik adalah tentang perubahan yang hendak ia sampaikan. Perubahan yang sejatinya tak akan bisa terlihat dengan hanya melihat. Tak akan terdengar hanya dengan mendengar. Tak akan terasa hanya dengan merasakan semuanya. Sebab perubahan memerlukan ketiganya atau bahkan lebih.

Perubahan mensyaratkan kita untuk melihat hal-hal buruk yang ada pada diri kita, mendengarkan kata hati yang makin hari semakin membisik dan hampir serak karena tak sering kita dengarkan, lalu merasakan apakah yang akan terjadi bila ini terus dilakukan, apa yang akan kau benci dari dirimu. Maka perubahan ialah jalan untuk melarikan diri dari jebakan yang telah kita buat sendiri. Untuk diri sendiri.

Ah, membicarakan perubahan hanya menjadi suara angin ditepi pantai kalau hanya dibicarakan. Hanya akan menjadi nyala gejolak api kalau hanya bersemangat karena kata-kata motivasi. Dan hanya menjadi sebatas perasaan tidak nyaman kalau baru dipikirkan.

Putuskan dan sambunglah dengan hal yang baru, yang lebih baik menurutmu lalu menari-narilah diatas api perubahan. Sebab perubahan mensyaratkan ketidaknyamanan, kekurangan makan dan buah-buahan, bahkan bisa menyebabkan kematian. Namun hatimu akan puas, dan karena puasnya hati itu akan menutup semua sayat luka dikulit, atau bahkan nyawa yang terbang menghadap ke sidratul muntaha dengan tersenyum. Duhai perubahan apa yang kuputuskan?

December 16, 2011

Cinta Itu Laut : Fragmen Diatas Kabin

Kabin Pesawat, x/y/zz

Seorang lelaki dengan kaos putih memeluk tas ransel hitamnya sambil melihat awan-awan yang bergumpal dan nampak beku diluar sana. Orang-orang disekitarnya mulai mengantuk, beberapa mencari hiburan dengan membaca catatan yang ada rak. Beberapa terdengar bercanda tentang tujuan hidup atau bahkan tentang hidupnya.

“Untuk apa hidupmu” hati lelaki itu berbisik diiringi dingin yang meresap diantara pori-pori kulitnya ‘bila cintamu tak berujung pada penyatuan‘. Lalu ia perlahan membuka ransel kecilnya. Sebuah potret dikeluarkan dan kembali ia menghembus nafas panjang. Potret itu serasa menyeringai sambil menertawakan keputusannya untuk pergi. ‘Tapi mimpi-mimpiku tak ada daya tanpa senyummu say’

Seorang pramugari melintas dengan sedikit goyah. Seorang kakek diseberang kursinya mendadak terbangun dari tidur dan menatap tiap pergerakan perempuan itu. Pikirannya terlontar pada istrinya yang dahulu menjadi pramugari dan berakhir dengan maut. Lelaki itu melirik sang kakek dengan mata terpicing, menerka-nerka apa yang ia pikirkan.

“Namun cinta ialah bukanlah gelombang yang menghalangi pecinta untuk mengejar mimpi-mimpinya. Ia adalah laut yang tenang yang mengirimkan badai-badai kecil kepada kekasihnya untuk mengingatkan bahwa rindunya masih sedalam palung dilautan”

Ia kembali menatap potret kekasihnya, mengingat-ingat kembali fragmen-fragmen perbincangan mereka didepan toko buku, serta kiriman bunga terakhir dibawah lembayung senja. Mengingat kembali kepergiannya ke pulau seberang untuk menghadiri rapat, sebuah pesan singkat tentang putra mereka, mobil, jalan, runtuh, rumah sakit. Diantara pohon-pohon kamboja yang entah semenjak kapan tak lagi berbunga ia pernah berkata untuk mengukirkan sebuah sajak diatas Himalaya. Sajak tentang Laut.

***

Tulisan ini saya ikutsertakan di acara 5thAnniversary Giveaway: Ce.I.eN.Te.A yang diselenggarakan oleh zoothera

December 16, 2011

Bila Tak Sesuai Harapan

Melihat mimpi-mimpi ataupun harapan-harapan yang terjadi tidak sesuai harapan, dan mendengar tawa orang-orang yang melihat ‘ketidaksesuaian’ mimpi dan harapan kita menjadi semacam rasa pedas dalam hidup. Kemudian ketika kita juga ikut mengamati mimpi serta harapan kita sendiri runtuh dihadapan mata membuat semacam perasaan tidak nyaman. Namun, sejujurnya, tak ada yang lebih buruk dibandingkan menikmati kesedihan.

Orang-orang yang menemui jalan buntu dalam harapan dan mimpi mereka melihat jalan itu sebagai waktu untuk berputar dan melihat sekitar. Inilah yang membedakan dengan orang yang justru duduk terpaku mengamati jalan itu sambil menangis tersedu-sedu. Padahal, bila ia mau melewati jalan itu, entah dengan menghancurkan tembok-temboknya ataupun dengan melewati ‘kelokan takdir’ yang lain, ia masih bisa melihat mimpi dan harapannya berada dibalik tembok penghalang itu.

Adalah mereka yang memutuskan untuk menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali melangkah yang akan menemukan mimpi yang lebih baik. Sebab demikianlah mekanismenya. Kita menginginkan sesuatu terjadi sesuai harapan dan mimpi-mimpi kita sedangkan Allah menginginkan kita mencapai harapan-harapan yang pernah terlontar dalam doa. Disadari ataupun tidak, sebab jalan buntu yang tak sesuai harapan itu adalah kelokan takdir menuju pengabulan doa-doa kita.

Maka , marilah kawan tetap semangat dalam menikmati kesyukuran atas keberhasilan ataupun menikmati waktu-waktu yang berhenti sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.

December 9, 2011

Perih

Lihatlah orang yang tersayat jemarinya ketika mengupas buah, atau mereka yang terjatuh dari sepeda motor ketika terselip dipertigaan yang bergelombang, dan tanyakanlah ketika darah masih mengalir dikulitnya “Bagaimana rasanya lukamu?” maka kau akan dapati jawaban “Perih”

Perih ialah pelajaran yang dapat kita ambil, dengarkan, lalu rasakan dalam-dalam. Dalam hidup yang selanjutnya. Ia mengajari kita tentang luka kecil yang membuat seluruh tubuh, bahkan mata yang tak terluka ikut meneteskan air mata. Ia mengajari kita untuk merasa sakit yang tidak kita rasakan. Bila satu anggota tubuh sakit, sakitlah tubuh yang lain, Demikianlah kata-kata sang kekasih.

Perih mengajari kita tentang adanya tindakan yang harus dilakukan. Bukan untuk terus terkungkung dalam luka yang makin memerah darah. Kalaulah perih itu menginginkan luka dibiarkan, pastilah ia tak akan terasa. Karenanya, ia ingin kalau kita terluka, perih, larut dalam duka yang mendalam… segeralah berobat. segeralah mencari jalan kembali. segeralah menyebut Asma-Nya dengan lidah yang tergetar, dada bergemuruh dan hati yang pasrah.

Perih pula yang mengajari kita untuk tak menyombongkan diri. Sebab sombong ialah jubah Allah yang tak bisa kau pakai. Sebab sombong ialah yang melemparkan Iblis dari surga. Sebab sombong ialah luka yang lebih dalam bila kau rasakan. Perih mengajari kita untuk tahu betapa lemahnya kita. betapa tipisnya kulit kita. betapa rentannya hati kita akan setiap luka.

Desember, diantara luka dan perih yuk kita terus mencoba terus belajar… :)

Tags: , ,
December 2, 2011

Talenta Itu

Ketika dalam suatu training ditanyakan apa talentamu? dan seberapa jauh sudah dikembangkan? Banyak orang mengatakan diri mereka tidak memiliki talenta. Banyak yang lain mengatakan bahwa talenta mereka telah terkubur dan hilang seiring dengan kondisi ekonomi, pendidikan, STTi (stress tingkat tuinggi), kondisi keluarga dan seterusnya dan seterusnya. Maka jawabnya adalah YA… ANDA SEPENUHNYA BENAR….

Dan itu yang membuat kita tidak banyak berkembang. Kita mencari alasan agar pertanyaan “mengapa kamu tidak menjadi yang terbaik dibidang menulis? bidang kuliah? bidang ketrampilan… dst?” bisa dijawab dengan cukup kata-kata saja. Tidak perlu tindakan.

Lalu bagaimana???

just live on your own live and enjoy it…..

November 26, 2011

Kau Tak Bisa Tafsiri

Kau tak akan pernah tahu

seberapa dalam lubuk rinduku

bahkan bila kau selami lautan

atau kau tafsirkan bintang bintang

namun cukup kau tatap mataku

sebagai seluruhnya sekaligus separuh saja

bisa saja kau meracau tentang hidup

namun hidupku tak bisa kau tafsirkan

namun patung tolol itupun paham

bahwa semua bakal jadi tulang belulang

kembali pulang

kau bisa tafsirkan semua kunang-kunang

dengan potret usang ditembok itu

namun tak bisa kau menghirupnya dalam hidupmu

sebagai roh yang menyala

dan hidup selama-lamanya

Sebab kita terlampau lemah

terkurung ruang dan waktu yang entah

November 26, 2011

HarU GurI

Baru kemarin mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang teman yang mengucapkan hari guru. Jujur ketika mambaca catatan tentang hari guru itu mengingatkan saya pada seluruh guru-guru yang mendedikasikan waktu dan tenaga serta pikirannya untuk mendidik bangsa. Kemudian tiba-tiba saya juga melihat fenomena menarik yang membuat tersenyum sekaligus meringis kesakitan. Ketika terdengar seorang guru yang  mengatakan pada saya “Wah sekarang jadi guru susah mas, gaji pas-pasan, hutang menumpuk, waktu habis dan kadang dimusuhi oleh murid dan wali murid”

Ironisnya ketika mendengarkan cerita itu, sang guru tersebut merupakan salah satu guru yang mendapatkan sertifikasi dan gaji ke tigabelas. Apalah lagi ia mengajar dari jam 8 sampai jam 10 pagi dan masih mengatakan waktunya habis untuk mengajar.

Sungguh, bila ditelusuri guru-guru yang sejati justru kadang tak berada di meja-meja kelas. Kadang tak mengenakan pakaian safari. Kadang bahkan tak dapat membaca dan menulis sama sekali. Namun mereka menjadi guru yang benar-benar guru.

Salah satu orang yang saya katakan sebagai guru saya dalam mengatasi masalah psikologis dan permasalahan hidup bahkan tak mengambil kuliah dibidang psikologi. Ia tak mengenakan pakaian seragam kecuali berwarna oranye. Ia tak membawa buku-buku kuliah atau ajar kecuali tiket parkir. Dan ia tak menerima gaji ke tiga belas namun bersedia mendengarkan dan memberikan solusi bahkan sampai jam 2 pagi sekalipun.

Inilah mengapa saya katakan Haru Guri. Sebab kadang tak selalu Hari Guru menjadi baik kalau sekedar memperingatinya tanpa meningkatkan kapasitas dan pelayanannya terhadap ALlah melalui ilmu pengetahuan. Salam Haru gurI….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.